Sabtu, 30 Mei 2020

Sikapi Keluhan Kesehatan Anak Secara Bijak

"Bun, kaki dan tanganku sakit" keluh Favian Beberapa tahun lalu. Saat itu kami meresponnya biasa saja.  Bagaimana mau percaya, buah hati kami yang ke-dua ini hiperaktif banget.  Ngga bisa duduk anteng.  Bahkan dalam keadaan sakit sekalipun masih saja lompat-lompat..jadi terkadang ada rasa gemas jika mendengarnya mengeluh sakit.  Lebih dari separuh usianya dihabiskan di rumah sakit.  Ada saja keluhannya, yang robek bibirnya, kakinya kena pecahan kaca atau paku, pelipis yang bocor, tangan patah, kesleo, diare akibat makan tanah, gagal nafas akibat gigitan semut yang dia koleksi, lipan, tubuh bengkak karna ulat bulu, belum lagi penyakit akibat imun yang tidak baik. Bisa kalian bayangkan gemesnya kami? Padahal menurut sebagian  besar kerabat, kami sangat ketat menjaganya, namun tetap bisa kecolongan.




Keluhan nyeri pada sendi kami anggap sebagai hal biasa, dan hanya kami tangani dengan mengoleskan bagian yang sakit menggunakan balsam, ataupun cream yang mampu melemaskan otot yang kaku.  Mungkin nyerinya  akibat kecapean ataupun karna otot yang kaku ,pikir kami waktu itu.  Kami tak pernah berfikir ada penyebab lain di balik semua keluhan itu. Kejadia ini memberikan pean kepada kami agar sebagai orangtua ada baiknya kita sikapi keluhan kesehatan anak secara bijak, apapun latar belakang kebiasaan anak tersebut.

Langkah Yang Harus Dilakukan Saat Timbul Gawat Darurat Pada Anak

Tahun pun berganti, Favianku masih saja menjadi sosok yang menghebohkan dan menoreh kisah. Rumah sakit seolah menjadi rumah kedua bagi kami. Sampai - sampai berbagai macam antibiotik menjadi cemilan saja baginya.  
Dia suka sekali makan, namun mudah mengalami radang tenggorokan hingga amandelnya pun membesar jika mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG maupun pemanis. Nah..karna buah hati kami ini memiliki alergi antibiotik setiap radang menyerang, dokter terpaksa tidak meresepkan antibiotik, tentu dengan pertimbangan keselamatan.  soalnya jika alergi, tubuhnya acap bengkak dan sesak nafas.  Serem ya?  Kalau sudah muncul alergi dan radang tenggorokannya ataupun gawat darurat pada anak, saya segera menghubungi dokter terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.  Kami tidak ingin kejadian masa kecilnya terulang.  Waktu itu Favian sempat mengalami shock anafilatik akibat gigitan semut.  Saya membawanya ke RS yang biasa menangani dengan alasan rekam medisnya disana.  Namun akibat jarak yang terlalu jauh, anak kedua kami hampir tidak tertolong dan sempat mengalami henti jantung serta gagal nafas. Seharusnya saya membawanya ke dokter terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Tahun 2016 atas saran seorang dokter Anak, kami memeriksakan Favian ke dokter tumbuh kembang terdekat.  Hasilnya memperlihatkan kalau putra ke-dua kami tersebut mengalami gangguan konsentrasi yang dikenal dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Dissorder).  Hal inilah yang menyebabkan Vian"mengalami kesulitan dalam hal calistung.  ADHD ini bisa ditangani dengan terapi obat dan psikoterapi.  Lebih cepat diketahui lebih, cepat diobati.  Pada kasus Favian, kami terlambat mendeteksi gejalanya sehingga pengobatannya pun membutuhkan waktu dan usaha lebih.
Namun di balik kondisi dan kekurangannya, sosok Favian ini merupakan sosok yang rajin, penyayang dan baik hati.  Dia memiliki ambang batas sakit yang cukup tinggi.  Tak seperti anak pada umumnya, Favian hampir tidak pernah menangis kencang.  Dia hanya menitikkan air mata saat merasa sedih pun merasakan sakit.  Hening tanpa suara. Tiba-tiba terkapar dan kami pun merasa kecolongan.  Sejak beberapa kejadian yang membuat kami spot jantung, kami akhirnya mengajarkan kepadanya untuk bercerita jika dia merasakan sakit di tubuhnya.  

Baca juga Radang Tenggorokan Picu Penyakit Jantung Rematik

Kini Favian sudah bisa menyampaikan keluhannya dan sikapnya.  Selama libur covid ini dia bercerita kalau dadanya nyeri, sendinya sakit berpindah-pindah, demam dan sakit saat menelan. Kami ingin membawanya ke rumah sakit, namun kondisi imun Favian membuat kami khawatir dia akan terpapar virus jika kami membawanya ke rumah sakit.  Namun jika tidak diperiksa kami juga khawatir telat penanganan sseperti yang sudah-sudah.  Hmm..gimana ya?

Halodoc Solusi Pengobatan Online Cepat dan Mudah

"Konsul aja ke dokter via halodoc dulu mba.  Ibu juga kemarin aku konsulkan.  Nanti setelah tegak diagnosa dokter akan meresepkan obat, dan obat dikirim ke rumah kita"tutur adikku

Adikku menyarankan untuk melakukan pemeriksaan online lebih dahulu lewat aplikasi halodoc. Langkahnya sangat mudah dan bisa dilakukan  dari mana saja.
  • Instal aplikasi halodoc via playstore

  • Buka aplikasi untuk login dan melakukan verifikasi nomer telepon
  • Klik profilmu dan lengkapi


  • Klik lainnya dan kamu akan menjumpai berbagai info yang bisa kamu lengkapi.  Kamu bisa mengisi dompet virtualmu ataupun memilih paket berlangganan

  • Klik kolom bertuliskan semua layanan

  • Pilih chat dengan dokter.  Kamu akan menjumpai daftar dokter yang tarifnya promo dan daftar dokter spesialis

  • Agar lebih mudah konsulnya kamu bisa pilih dokter terdekat . Ada banyak pilihan dokter dengan tarif yang berbeda-beda

  • Jika diperlukan pemeriksaan lebih lanjut silakan buat janji kunjungan ke RS pilihan yang masuk dalam daftar, kemudian pilih dokter tujuan


Mudah sekali ya, dan kehadiran aplikasi halodoc sangat membantu orangtua seperti kami.  Tarifnya pun bisa disesuaikan dengan kantong.  Tidak ada lagi alasan untuk menunda memeriksakan kesehatan anak di masa pandemi.
Hubungi dokter terdekat, jika 3 gejala ini menyerang buah hati yaa
  1. Demam tinggi dan sakit saat menelan
  2. Nyeri pada dada dan sendi yang berpindah
  3. Sesak nafas disertai ruam ataupun pembengkakan pada tubuh


0

Jumat, 22 Mei 2020

Haii sobat IBV, apa kabar? 
Lama sudah kami berhibernasi nih, ada yang kangen nggak?  Maaf yaa, karena writing block... kita jadi tidak pernah berinteraksi. Writing block sampai saat ini masih menjadi masalah buat penulis pemula kaya saya, jadi terkadang kalau belum mood akhirnya semua konsep hanya ada di angan-angan.

Tapii..kamu ngga usah khawatir, cause i'm comeback dan insya Allah membawa konten-konten bermanfaat buat kamu.  Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang infeksi radang tenggorokan dan bahayanya bagi jantung.  Kamu pasti sudah familiar dengan penyakit yang satu ini.

Infeksi Radang Tenggorokan, Penyebab dan Gejalanya

Radang tenggorokan merupakan sebuah peradangan yang terjadi  di bagian belakang tenggorokan, atau dikenal dengan sebutan faring. Oleh sebab itu gangguan kesehatan ini diberi nama faringitis, namun orang Indonesia menyebutnya panas dalam. Penyakit ini dapat menyerang balita, anak-anak, remaja, dewasa bahkan lansia. Namun rentang usia paling banyak terinfeksi adalah usia 5 - 15 tahun.
Hampir sebagian besar anak-anak pernah mengalami radang tenggorokan.  Umumnya kondisi ini menyebabkan anak merasakan sakit saat menelan dan beberapa gejala lainnya seperti:
  • Demam tinggi
  • sakit kepala
  • nyeri sendi dan nyeri otot
  • Ruam Kulit
  • pembengkakan pada kelenjar getah bening
Sumber klikdokter.com

Pada beberapa kasus radang tenggorokan juga dapat menyebabkan gejala yang lebih speifik antara lain:

  • Amandel bengkak
  • Hilangnya selera makan
  • pembengkakan pada limpa
  • peradangan pada hati
  • suara serak
Bahkan pada kasus berat radang tenggorokan dapat menyebabkan sesak nafas, sakit pada telinga bahkan ada darah pada air liur.  Jika sudah seperti ini sobat IBV tidak boleh abai yaa, sebab ini bisa menjadi awal timbulnya infeksi lain seperti :


  1. Abses peritonsil, yaitu pembengkakan yang terjadi antara langit -langit tenggorokan dan bagian belakang amandel yang disertai timbulnya nanah
  2. Epiglotitiss atau peradangan pada epiglotis yaitu katup berbentuk daun di belakang pangkal lidah.  Kondisi ini bisa memicu terjadinya sesak nafas
  3. Infeksi  Mononukleous yang ditimbulkan oleh infeksi virus Epstein Barr, ditandai dengan adanya pembengkakan pada kelenjar getah bening, demam dan sakit di tenggorokan
Wah... serem banget yaa sobat IBV, makanya penting banget buat kita mengetahui penyebab radang tenggorokan dan cara mengatasinya.  Infeksi radang tenggorokan yang berulang sangat beresiko memicu terjadinya demam rematik juga Penyakit Jantung Rematik.


Penyebab Infeksi Radang Tenggorokan

Radang tenggorokan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain,infeksi virus dan bakteri, alergi, udara, irritan (bahan kimia), terjadinya ketegangan otot pada tenggorokan, gangguan lambung (GERD), infeki HIV dan tumor. Namun yang paling sering adalah virus dan bakteri.
Ada beberapa virus yang bisa menjadi penyebab infeksi tenggorokan di antaranya parainfluenza RSV, Adenovirus, campak dan virus influenza.  Sedangkan bakteri penyebabnya ada dua macam yaitu, Streptococcus pyogenes dan Streptococcus group A.

Gara-gara sering Radang Tenggorokan, Bocah 11 Tahun Diduga Mengidap Penyakit Jantung Rematik

Favian Attar Firdaus  seorang bocah lelaki berusia 11 tahun kini tidak lagi bisa bermain bebas seperti dulu.  Anak kedua kami ini sejak kecil acap menikmati fasilitas hotel berbintang-bintang di kota Surabaya alias rumah sakit.  Alergi yang amat parah membuat tubuhnya rentan terserang berbagai penyakit, salah satunya adalah bronchopneumoni, radang tenggorokan dan poliarthritis. Berbagai pengobatan sudah kami upayakan mulai medis hingga non medis.  Kesimpulan akhirnya adalah semua penyakit yang dideritanya disebabkan faktor alergi dan imun.  Kisah perjuangan saya membesarkan favian bisa dibaca FB @sri.rahayu.sp

Sumber healthline.com

Salah satu alergi yang dia alami adalah alergi MSG dan Aspartam. Setiap kali mengkonsumsi makanan yang mengandung kedua zat ini, hanya dalam beberapa menit saja Favian akan merasakan serik dan akhirnya demam, batuk serta sesak nafas.  Demamnya bisa mencapai 43⁰ C loh sobat. Jika harus menceritakan petualangan Favian dalam memperjuangkan kesembuhan rasanya ratusan tinta takkan cukup menorehnya.  Bayangkan.. 11 tahun dia acap mengkonsumsi obat-obatan sampai -sampai saat dilakukan test hampir seluruh antibiotik dia resisten dan alergi. Favian kami sering sekali terjangkit infeksi radangtenggorokan.  Sayangnya pengetahuan kedokteran kami yang minim membuat kami tidak menyadari ada bahaya besar yang mengincarnya..sampai akhirnya beberapa waktu lalu dokter mendiagnosa kalau Favian kemungkinan terjangkit penyakit jantung rematik.
Awal mula munculnya diagnosa tersebut adalah keluhan nyeri sendi berpindah dan nyeri dada yang setahun ini dikeluhkan oleh putra kami tersebut.  Bahkan beberapa waktu terakhir Favian sering mengalami ruam merah yang tidak jelas sebabnya.  Gejalanya makin hari makin sering dan berulang, sama seperti infeksi radang tenggorokan yang selalu berulang dia dapat.  Dokterpun kemudian melakukan rangkaian tes, pemeriksaan lab dan echocardiografi. Hasilnya membuat saya menangis, karena ternyata dari pemeriksaan labnya terbukti jagoan kami positif mengidap demam rematik.  Alhamdulillahnya belum terjadi kerusakan katup jantung.  
Dokter bilang penyebabnya kemungkinan karena radang tenggorokan yang berulang dan akibat infeksi bakteri Streptococcus group A.   Jika tidak tertangani baik demam rematik bisa berkembang menjadi penyakit jantung rematik.

Penyakit Jantung Rematik


Penyakit jantung rematik disingkat PJR dalam bahasa medisnya dikenal dengan Rheumatic Heart Disease (RHD).  Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan adanya kerusakan pada katup jantung.  Kerusakan ini bisa berbentuk penyempitan ataupun kebocoran dan umumnya menyerang katup mitral (stenosis katup mitral). Penyakit jantung rematik sebenarnya adalah gejala sisa dari demam rheumatic (DR). 
Sebelumnya kita sudah membahas sekilas tentang penyebab demam rematik. Demam ini merupakan komplikasi dari radang tenggorokan yang tidak tertangani secara baik. akibatnya terjadi peradangan pada sendi, jantung, kulit dan otak.  Jika dibiarkan peradangan dapat menyerang katup jantung.  Inilah yang dinamakan Penyakit Jantung Rematik.  Akibatnya bisa terjadi cacat permanen pada jantung dan otot jantung.  Jika dibiarkan bisa terjadi gagal jantung.
Sereeemmm...
Ibu mana yang mau anaknya gagal jantung?Pasti tidak satupun ibukan? Berangkat dari keprihatinan saya dengan kondisi Favian, maka saya bersama dokter Anak yang menangani Favian memutuskan untuk melakukan edukasi pada masyarakat awam tentang penyakit jantung rematik ini. Edukasi kami lakukan via instagram live pada tanggal 21 Mei 2020 .

Live IG

Untuk sobat IBV yang tidak sempat mengikuti live kami, bisa membaca blogpost saya  berikutnya yaa

0

Total Absen

Pengikut