Sabtu, 28 Februari 2015






Istriku jagalah hatimu.  Karena di dalamnya ada cintaku untukmu.
Istriku...tundukan pandanganmu, agar tak satu lelakipun menikmati kecantikan wajahmu selain aku
Jangan kau biarkan satu kumbang manapun menyesap madumu
Jangan kau biarkan satupun virus cinta menguasai otakmu, karena aku tak bisa membayangkan bagaimana menjalani hidup tanpamu
Aku takkan mampu melihatmu tenggelam dalam balut panas neraka jahanam
Aku takkan mampu bertahan mendengar jerit pilu akibat cinta yang terlarang
Lihatlah..dunia sudah semakin gila
Banyak pria dan wanita membuta karena cinta
Ada suami yang berselingkuh dan ada juga istri yang berselingkuh dengan suami orang
Nauzubillahi min dzalik... aku tak ingin kau menjadi bagian golongan itu
Aku ingin kau menjaga hatimu hanya untukku seperti halnya hatiku hanya untukmu

Rinaldi tertunduk sedih, mengingat kisah yang didengarnya dari seorang rekan kerjanya.  Tak pernah ia menduga Boy yang selama ini terkenal arif dan tekun beribadah bisa terjerat cinta yang terlarang dengan seorang wanita bersuami.
“Boy...Boy..., apa yang sesungguhnya ada di pikiranmu saat itu?  Bukankah kau katakan bahwa istrimu adalah wanita yang sempurna di matamu...bahkan terlalu sempurna?” tanyaku hampir tak percaya.
***
Boy adalah pria mapan yang terkenal romantis di kalangan keluarga, kerabat dan rekan kerjanya.  Tak pernah sekalipun dia mengeluhkan kehidupan rumahtangganya.  Selama ini hanya pancaran kebahagiaan yang terlihat di wajahnya, sampai suatu ketika dia bertemu dengan Resty, wanita di masa lalunya.
Resty Handayani adalah seorang wanita yang cukup cemerlang karirnya. Kepribadiannya yang ramah, supel, namun tegas membuat Boy yang saat itu masih menyimpan cinta padanya kembali berdebar hatinya.  Pertemuan yang tak sengaja di sebuah beranda Facebook tanpa mampu dicegah membuat rasa kagumnya kembali menari nari dalam hati dan pikirannya.
Berawal dari sebuah komentar di beranda facebooknya, percakapan berlanjut ke ruang chat.
Boy     : “ Apa kabarmu jeng  J?”
Resty   :” Baik mas Boy... J.. mas Boy, apa kabar? Sudah berapa anaknya?”
Awalnya hanya bincang ringan, lama kelamaan Boy mulai mengulik perasaannya
Boy     :” Kamu terlihat makin cantik dan matang Jeng... sepertinya hidupmu bahagia J
Resty   :” Sawang sinawang mas.. hidup ini adalah panggung sandiwara dan aku hanya lakon di dalamnya.  Tak ada yang sempurna”

            Semakin hari percakapan semakin intim.  Percakapan merambah ke jaringan pribadi (JAPRI) via Blackberry mesengger kemudian  Boy mulai berani tuk mengungkapkan perasaan hatinya di masa lalu yang belum sempat terucap via telepon.  Resty mendengarkan sambil sesekali tertawa renyah seolah tak percaya.
            Ah, entah setan dari mana yang merasuk di pikiran Boy, sampai dia berpikir tu menjalin hubungan cinta dengan Resty yang telah bersuami dan beranak dua.  Boy pun tak mengira kalau ternyata Resty pun punya hati padanya dulu dan menyimpannya sampai saat itu.
Cinta..oh cinta.  Sebuta itukah hingga akal tak lagi menjangkaunya. 
Mereka sadar bahwa hubungan itu tak layak untuk di jaga, tak halal untuk dimiliki, namun nafsu berkata lain.  Nafsu membuat apa yang tak mungkin menjadi mungkin.  Namun seperti kata pepatah, serapat apapun menyimpan bangkai baunya akan tercium juga.
Bulan istri Boy mulai mencium gelagat tak jujur suaminya.  Dengan perasaan cemas dia memberanikan diri tuk bertanya pada sang arjuna...benarkah apa yang dicemaskannya saat itu.  Bulan tak mengira bahwa Boy akan berkata dengan jujur.  Dia tak mengira bahwa Boy justru meminta ijinnya untuk berpoligami.
Sesak menghantam jiwa seolah tubuh terhimpit batu besar.
“Rabb , betapa berat ujianmu kali ini...” rintihnya dalam doa.
“Aku tau Ya Rabb, poligami bukanlah hal yang diharamkan, tapi wanita itu adalah istri orang...tunjukkan kesalahanku sampai suamiku harus melirik wanita lain” tangisnya terisak.
Boy tak kuasa melihat istri yang selama ini dikasihinya menangis.  Dia sadar betul, betapa sabar istrinya, betapa banyak toleransinya terhadap setiap hobi dan semua yang dia lakukan.  Boy merasa sangat bersalah dan malu..namun dia juga berat untuk melepas Resty, terlebih Resty berjanji untuk bercerai dengan suaminya agar bisa menikah dengan Boy.
Bulan terus saja terisak,  dia menatap suaminya dengan sorot kekecewaan.  Hatinya meronta seolah ingin memukul dan mencakar suaminya...tapi tangannya tak mampu melakukannya.  Bulan tak sampai hati.
Sikap bulan justru membuat Boy semakin merasa bersalah,”pukullah aku dik, tamparlah suamimu yang tak punya hati, yang telah ejam dan membuatmu menangis.  Tapi jujur aku ta kuasa dik,  aku tak kuasa tuk berpisah lagi dengannya”.
“Aargghhh.....hiks..teganya mas berkata begitu padaku, di mana hati nuranimu mas? Kau kemanakan rasa malumu?  Dia sudah bersuami...”  ratap bulan.
“ Bila memang kau ingin berpoligami...ijinkan aku tuk mencarikan jodoh untukmu.  Seorang wanita sholeha yang nantinya mampu menggantikanku sebagai ibu dari anak- anak kita” pinta Bulan.
Boy hanya tertunduk dan menggeleng, “ Tidak Dik, au tak inginkan wanita yang lain karena hanya dia yang kuinginkan”
Bulan lemas terjatuh mendengar jawaban Boy.
Bagaimanakah hubungan Boy dan Bulan selanjutnya??
TO BE CONTINUED



0

Senin, 23 Februari 2015

Bahan :
Bahan nasi bakar
300 gr ketela
300 gr beras
1 liter santan kental
Daun salam
daun pandan
Laos
sereh
garam
Daun pisang untuk membungkus

Bahan isi
1 papan tempe (potong dadu)
200 gr udang kupas ( cuci bersih)
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
1 iris jahe
1 lembar daun  salam
1 ruas laos
4 lembar daun jeruk
3 sdm kecap manis
1/3 sdt merica bubuk
1/2 sdt garam
3 sdm minyak untuk menumis
 50 ml air
daun kemangi
10 butir cabai rawit
Cara membuat:
  1. cuci beras dan bahan lainnya hingga bersih .
  2. masak santan bersama laos, sereh, salam, daun pandan dan garam sambil diaduk sampai mendidih
  3. tuang beras dan ketela ke dalam ricecooker berisi santan mendidih lalu masak hingga nasi matang
  4. haluskan bawang merah dan bawang putih, kemudian tumis bumbu halus ini dengan menambahkan laos, jahe, merica, garam, daun jeruk.  Masukkan tempe dan udang kupas. Aduk aduk hingga bumbu meresap, kemudian tuangkan sedikit air ke dalamnya
  5. tuang 3 sdm kecap manis dan masak tempe sampai air habis dengan terus mengaduknya,  Angkat dan matikan kompornya
  6. ambil selembar daun pisang, letakkan satu entong nasi dan ratakan. gulung seperti lontong
  7. bakar nasi sambil dibolak balik sampai tercium aroma daun yang wangi
  8. sajikan bersama  tempe orek
(baca juga TIPS MEMBUAT JELY ART )

0

Sabtu, 07 Februari 2015


Ferry seorang lelaki berusia 36 tahun adalah seorang lelaki yang cukup mapan. Dia hidup bersama istri dan tiga orang anaknya.  Dulu Ferry adalah seorang suami yang banyak didambakan wanita karena tanggungjawab dan perhatiannya pada sang istri. Namun entahlah..sejak memiliki jabatan Ferry mulai berubah.  Dia menjadi banyak menuntut.  Ferry juga mudah sekali emosi menghadapi sang istri. Dia acap mengeluhkan pada temannya tentang istrinya yang akhir akhir ini terlihat tampak lelah dan tak bisa berhias.  Hingga pada suatu pagi Ferry membentak istrinya karena satu pekerjaan yang tertunda.  Betapa terluka hati sang istri...  setelah mencoba bersabar selalu dengan sisap suaminya..hari itu air matanya tak mampu dibendungnya.  sambil menahan tangis...sang istri tetap berusaha menyiapkan bekal makan pagi suaminya yang menolak sarapan.  Hanya sekotak nasi dan sebuah telur ceplok. Ya...sebuah telur ceplok yang di masak demi orang tercinta.
sesampainya di kantor...Ferry mengeluarkan kotak makannya dan seorang teman wanitanya berkata,"hanya telur ceplok Pak?"
"Iya.., beginilah kalau ibu sedang marah"tuturnya.

"Bersyukurlah pak! Bapak lelaki yang beruntung, sebab dalam keadaan marahpun ibu masih menyempatkan diri membawakan sarapan untuk Bapak...Saya sudah lupa kapan terakhir kali makan masakan istri saya pak" tukas seorang lelaki anak buahnya sambil menitikkan air mata..
"Saya melihat ibu begitu sabar dengan semua sikap Bapak, walau saya akui dia terlihat sangat sederhana dan tak pernah berhias.  Tapi  dia tetap melayani Bapak."tukas lelaki itu
Ferry terdiam melihat rekannya menitikkan air mata.  Dia coba merenungkan kata kata rekannya tersebut,  benar sekali.  istrinya selalu berusaha menyiapkan makan paginya walau dalam keadaan sakit sekalipun. walau hanya berlauk tempe goreng dan sambal kecap.  Walau hanya setangkup roti madu dan segelas susu.
Pria itu kembali melanjutkan ceritanya,"Ibu memang tak secantik wanita sosialita...tapi dia ada untuk Bapak, sementara istri saya selalu tampil cantik bagai model..tapi saya tak boleh menikmatinya.  kecantikkannya bagai pajangan di sepanjang perjalanannya.  Dikagumi banyak orang tapi tak bisa saya nikmati" diambilnya selembar tisue tuk menghapus air matanya dan lelaki itupun beranjak pergi meninggalkan Fery yang tercenung dan merasa bersalah pada istrinya.  Saat itu juga dia menelpon sang istri dan meminta maaf padanya.
0

Total Absen

Pengikut