Senin, 25 Januari 2016



"Fitriiiiiiiiii....Gunturrr..!  Papahh!  Hiks, dimana kalian?  Mama takut.  Tempat ini begitu sepi dan dingin" tangisku terisak.  Entah dimana aku saat ini, tempat ini begitu asing dan gelap dimana aku?

Tiba-tiba secercah cahaya masuk," Hai Arlen! Aku maut-mu!  kamu ada di alam kematian" gaung suara yang berasal dari cahaya itu.

"Alam kematian?  Aku sudah mati?  Tidaakkkkkk!  Aku belum siap, aku masih ingin hidup.  Mengapa?  Mengapaaaaa?" teriakku.  Aku menangis tersedu.  Meski selama ini aku selalu memupuk amal, sholat, dan mengaji, aku tetap belum siap pergi. Aku masih ingin mendampingi mereka.

"Ikuti aku, aku akan membawamu ke suatu tempat" perintah suara tak berwujud itu.  Cahaya itu bergerak menuju ke sebuah pintu. yang terlihat bersinar.  Namun sebelum sampai di pintu, suara itu menahan langkahku,"Berhenti! Kamu tak boleh melangkah kesana!" ujarnya.

"Mengapa? Tempat apakah itu, Mengapa begitu terang dan wangi?" tanyaku.
"Tempat itu adalah surga, yang tak boleh kau pijak" jawabnya.

"Surga? Tak boleh kupijak?  Mengapa? Bukankah aku selalu beramal, zakat, sholat bahkan pergi haji sudah kutunaikan, mengapa aku tidak boleh masuk ke dalamnya?"

Ya, selama hidupku aku selalu menjaga ukhuwah dengan tetangga, teman, bahkan yayasan-yayasan yatim piatu.  Aku menjadi orangtua angkat dari beberapa anak tak mampu.  Aku tak pernah pelit sama teman-temanku.  Sebagian besar hartaku kugunakan di jalan Allah.  Tapi mengapa aku tak boleh mencium bau surga?  Bukankan semua janji Allah itu benar?

'Ikutlah denganku!" kata suara itu. ''Lihatlah semua yang tlah kau lewatkan" tuturnya.

 Seperti sebuah film layar tancap, di depanku semua kejadian ditayangkan, tak terkecuali saat-saat aku menghardik kakakku yang datang tuk meminjam uang, padahal aku tak pernah menolak saat sahabatku para wanita sosialita meminjam uang padaku dengan jumlah yang tak sedikit.  Sebab merekalah yang membuatku mampu tersenyum, tak seperti adik, kakak, maupun orangtuaku yang hanya bisa menyusahkanku dengan berbagai masalah ekonomi.  Tapi aku juga sering sekali membantu mereka.
Tapi..apa yang kulihat ini? Kulihat Bunda dan ayah menangis karena kata-kata yang kulontarkan.  Kulihat adik dan kakakku tertunduk di atas sajadah dan mendoakan yang terbaik untuk kesembuhanku.

Aku melihat tubuhku terbujur lemah dengan berbagai selang yang menancap di sekujur tubuh.Koma.

Kulihat mama khusyu mengaji di salah satu sudut dipan tempatku terbaring.  Sesekali air matanya mengalir jatuh.  Aku melihat adik dan kakakku sibuk merawat kedua anakku, sambil tak henti memeluk dan menciuminya.  Orang-orang yang selama ini selalu kuanggap hina dan jadi parasit dalam kehidupanku, namun ternyata justru mereka yang ada di saat payahku.  Bukan sahabat mayaku yang selama ini selalu kubanggakan, bukan sahabat SMA ku, bukan siapapun. 

Hanya mereka, ya hanya mereka yang tak henti berdoa untukku.  orang-orang yang tak pernah kuingat saat aku senang.  Yang tak pernah ku ajak berwisata bersama, bahkan tak pernah kuhargai perasaannya.

Aku tertunduk.  Tangisku pecah, bagaimana caraku meminta maaf pada mereka?

Saat salah satu adikku terbaring sakit, bahkan aku tak pernah menengok dan berempati padanya, aku hanya bisa menyalahkan.  Aku menganggap mereka orang-orang payah dan tak punya pendirian. 

Aku acap menghardik Ayah dan Bunda yang tak hentinya terlilit hutang sehingga membuatku selalu susah.

"Kau tau mengapa surga terlarang untuk kau pijak?  Sebab doa mereka dan rasa sakit mereka saat kau dzolimi lewat kata, telah menghalangi semua jalanmu" tutur maut-ku

"Kamu bagai malaikat di mata teman, sahabat dan tetangga, namun mulutmu tak ubahnya pedang pembunuh bagi saudara terdekatmu sendiri" lanjutnya.

"lihatlah putra dan putrimu yang acap kau sakiti dengan ucapan dan pukulanmu...merekalah yang setia berdoa untuk kesembuhaanmu.  Pulanglah pada mereka!  Pada orang-orang yang tulus menyayangimu, sebab doa mereka serta maaf mereka telah menyelamatkanmu" tuturnya

"Ini belum saatnya kau pergi.  Masih ada waktu untukmu menebus semua.  Kembalilah"

Tiba - tiba semua terasa gelap.  Sayup aku mendengar alunan ayat-ayat suci Alquran..

Alhamdulillah...ini adalah kehidupan kedua


'
0

Senin, 18 Januari 2016



Sehat itu memang mahal, tak satupun dari kita ingin sakit.  Namun sayang, keinginan itu acap tak dibarengi dengan usaha dan tekad yang kuat untuk menjaga kesehatan.  Kita acap abai pada hak-hak tubuh.  Saat dimana harusnya tubuh beristirahat, kita masih saja bekerja.  Saat organ kita harusnya rehat sejenak dari tugasnya, kita tetap saja mengabaikannya dan asik dengan aktivitas.  Akibatnya ibarat sebuah mesin, maka organ-organ tersebut sedikit demi sedikit menjadi aus, sehingga fungsinya tidak lagi berjalan dengan sempurna.
Apakah yang dimaksud?
 Tubuh dalam manusia terdiri dari berbagai organ yang berfungsi untuk melakukan metabolisme.  Ada jantung yang bertugas memompa darah, ada ginjal, ada hati, pankreas, usus, umbai cacing, limpa, dan empedu. Semuanya bekerja secara selaras di dalam tubuh manusia.  Biasanya saat malam hari adalah saat dimana organ-organ tersebut harusnya beristirahat.  Namun terkadang tuntutan pekerjaan membuat kita harus berjuang menahan rasa kantuk demi mengerjakan tugas – tugas kantor yang belum selesai.  Saat – saat seperti ini umumnya kita membutuhkan aneka camilan dan minuman.  Proses pencernaan pun dimulai.  Seluruh organ pencernaan mau tidak mau harus bekerja untuk mencerna makanan yang masuk. 
Pola hidup seperti ini sangat tidak baik untuk kesehatan tubuh.  Ini sama saja kita mengambil hak tubuh untuk beristirahat.  Bila berlangsung secara terus menerus, maka organ tersebut akan kelelahan dan rusak.  Akhirnya, terdamparlah tubuh kita di sebuah ruangan yang bernama bangsal. Berjuang menjadi salah satu pasien di rumah sakit.



Anda Tidak Mau Seperti inikan?
Kok Rumah Sakit, Tempat Apakah Itu?
Seperti namanya” Rumah Sakit”, tempat ini adalah sebuah bangunan dimana  orang – orang sakit bermukim sementara.  Mereka mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya disini.  Mereka hidup dalam perawatan tenaga medis yaitu dokter dan para perawat. Wow! Enak dong dilayani.

Ini dia Kamar Perawatan Orang Sakit
 Mendapat Pelayanan Kelas Satu

Jangan salah, meski hidup di rumah sakit penuh pelayanan, tak satu pasienpun berharap bisa kembali ke tempat ini, karena kebebasan mereka disini terpasung sementara.  Keberadaan infus akan membatasi gerak tubuh, belum lagi banyaknya obat-obatan yang harus dimasukkan ke dalam tubuh kita, sakit karena tusukan jarum dan makanan yang konon rata – rata berasa hambar.  Namun ada juga rumah sakit yang menyediakan menu-menu sekelas hotel bintang lima.  Bicara tentan menu artinya kita akan bicara tentang dapur. Apakah setiap rumah sakit memiliki dapur?
Rumah Sakit Wajib Punya Dapur!
Tak semua rumah sakit yang ada di Indonesia memiliki dapur.  Mengapa demikian?
Dapur dalam sebuah rumah sakit membutuhkan  space khusus dan sarana penunjangnya.  Terkadang keterbatasan ruangan menyebabkan pihak manajemen meniadakan ruang ini dan menjalin kerjasama dengan salah satu pengelola catering yang ada di kota itu.  Tentu saja ada kriterianya.  Tak sembarang usaha catering bisa masuk dan memenangkan proyek pengadaan menu di rumah sakit.  Catering yang bisa bermain adalah catering yang memiliki seorang ahli gizi, sebab menu untuk orang sakit harus ditakar sesuai kebutuhan gizi dan dietnya.  

Namun, berdasarkan pengamatan di lapangan,  pengadaaan menu dengan memanfaatkan jasa catering ini pun masih ada kelemahannya, yaitu:
1.      Lokasi catering yang dipisahkan jarak menyebabkan pihak rumah sakit tidak bisa cepat tanggap saat pasien membutuhkan menu – menu diet khusus seperti diet rendah lemak misalnya
2.      Sulit melakukan kontrol
3.       Terkadang menu disajikan sudah dalam keadaan dingin (tentu saja hal ini akan membuat selera makan hilang dan tidak enak di perut)
Ada satu kejadian saat saya harus terbaring di rumah sakit dengan diagnosa radang pada saluran empedu sehingga dokter mewajibkan saya untuk diet rendah lemak.  Artinya makanan yang saya makan harus rendah lemak.   Tidak menggunakan minyak dalam memasak, tidak mengandung margarin, keju, susu, santan dan kuning telur.  Sebagai seorang pasien tentu saja tak sembarang makanan dari luar boleh saya konsumsi.  Alhasil saya bergantung pada menu yang disajikan oleh rumah sakit.
Namun ternyata hampir setiap menu yang disajikan dimasak menggunakan minyak dan bahan-bahan yang terlarang saya konsumsi.  Saat saya menyampaikan itu petugas pengantar makanan bilang, adanya hanya itu, kalau ibu tidak boleh makan biar buat yang nunggu saja!
Hmm menarik sekali jawabannya, lalu saya makan apa? Mencari menu diet rendah lemak di luar rumah sakit tentu bukan hal mudah.  Kebersihannya juga tidak terjamin, padahal kondisi kesehatan saya saat itu tidak baik. Inilah titik kelemahan bila sebuah rumah sakit tidak memiliki dapur! Dia tidak bisa menyiapkan makanan sesuai standar kesehatan pasiennya, padahal kesalahan dalam pemberian makanan dapat berakibat fatal pada pasien.
Sebuah rumah sakit yang memiliki dapur selalu melakukan pendataan tentang menu-menu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien.  Umumnya pelayanan seperti ini diberikan oleh rumah-rumah sakit swasta yang cukup besar.  Petugas layanan gizi akan mendata setiap pagi dan sore menu apa saja yang diinginkan pasien.  Tentu saja menu-menu tersebut dipilih dari daftar menu yang mereka sediakan.  Perubahan diet yang sewaktu-waktu tersaji tetap bisa di atasi dengan adanya dapur di dalam sebuah rumah sakit.
Kondisi pasien yang berbeda tentu saja mengharuskan pihak layanan gizi menyediakan menu yang berbeda beda dalam jumlah sedikit, dan hal ini sulit dilakukan oleh catering!  Sebab kesepakatan menu dengan pihak catering dilakukan secara berkala bukan harian.  Inilah dasar kenapa saya katakan bahwa sebuah rumah sakit wajib memiliki dapur sendiri.


0

Sabtu, 02 Januari 2016

Sakit, adakah yang ingin mengalaminya?  Tentu tidak!! Demikian pula dengan saya.  Bila boleh memilih, saya ingin memilih hidup sehat selamanya tanpa sakit.  Tapi itulah manusia, selalu ingin yang enak saja tanpa mau menanggung resiko dari perbuatannya.
Saat sehat, berbagai himbauan tentang bagaimana menjaga kesehatan tubuh sering kita abaikan.  Malas berolahraga, tidak mau menjaga pola makan sehat, dan tidak memberikan ruang bagi hati dan pikiran untuk rehat sejenak.  Manusia baru menyadari betapa pentingnya sehat setelah sakit datang mencumbunya..  Mungkin itu pula yang akhirnya mengantar saya ke ruang ini.  Ruang perawatan Intensif Care Unit (ICU).

Loh...kok bisa? sakit apa? Kenapa sampai masuk ICU segala? Parahkah sakitnya?

Berbagai tanya seperti itu spontan terlontarkan dari bibir para sahabat dan teman yang mendengarnya.  Tidak salah sih bila mereka terkejut, selama ini mereka atau kita semua memahami bahwa ruang ICU adalah ruang perawatan khusus untuk pasien-pasien yang penyakitnya sudah sangat parah dan hampir tidak bisa apa -apa sehingga membutuhkan perwatan kelas 1 dan perhatian khusus.  Lalu kenapa aku bisa masuk di ruang ini, dan bagaimana rasanya?  Baiklah... saya akan berbagi cerita dari awal, asal teman-teman sabar menyimak.

Sakit Magh..oh..Magh.
Gangguan lambung ini sudah saya derita sejak duduk di bangku SMA dan konon kata dokter, penyakit saya tergolong magh yang sudah akut dan mudah sekali muncul saat keadaan otak penuh dengan pikiran alias stres, baik karena pekerjaan maupun karena hal lain yang menjadi pemicu timbulnya gejala perut melilit disertai sakit di ulu hati, mual, perut kembung dan rasa sebah pada perut.. Selama ini, saya dan para dokter yang menangani saya meyakini bahwa keluhan nyeri perut saya disebabkan oleh karena gangguan lambung, sehingga cukup dengan menjaga makanan dan mengkonsumsi obat lambung semua akan kembali normal.  Begitulah selalu selama hampir 20 tahun berjalan.  Sampai akhirnya suatu hari saya mengalami nyeri pada semua sendi saya, pinggang belakang, disertai keluarnya urine yang mengandung darah yang memaksa dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam lewat serangkaian tindakan medis, salah satunya adalah uji lab dan USG abdomen.  Hasil pemeriksaan sungguh mengejutkan karena ditemukan adanya peradangan pada kantung empedu dan ditemukan dua buah batu empedu di dalam kantung yang bergesekkan dengan dinding empedu. Inilah yang akhirnya menimbulkan luka pada dinding empedu dan menyebabkan urine berdarah serta nyeri hebat yang saya alami beberapa tahun terakhir. Menurut dokter radiologi yang menangani saya, kondisi seperti ini umum terjadi pada golongan orang yang introvert, yang suka menyimpan masalahnya sendiri sehingga menyebabkan garam empedu di tubuhnya menjadi mudah menggumpal dan menjadi batu.  Nah lho... hayoo siapa yang suka menyimpan masalah?  Hmm sebaiknya jangan diulangi sebab tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik sharelah masalah Anda pada Sang Pemilik Jiwa (Allah SWT) dan bila merasa belum ringan juga, bicarakanlah pelan-pelan dengan orang terdekat yang bisa anda percaya, sebab bila pikiran dan hati anda terlalu penuh penyakit akan mudah sekali menyerang kita, diantaranya adalah stroke, magh, jantung, dan batu empedu.

Batu empedu?  Apa sih penyebabnya?
0

Total Absen

Pengikut