Jumat, 26 Oktober 2012

"Bun, Papah mengajak kita untuk urunan beli seekor sapi untuk qurban" ucap suamiku sepulangnya dari kantor.  Seketika aku menoleh, mencoba untuk mencari kebenaran berita yang kudengar.  Jujur, bulan ini pengeluaran kami sangat banyak, sementara target penjualan suamiku tidak terpenuhi.  Sudah bisa kupastikan bahwa bulan depan kami harus benar-benar berhemat agar tidak kehabisan amunisi sebelum datang masa gajian.
      Mendengar permintaan mertuaku, aku menjadi serba salah.  Seekor sapi tidaklah murah, kurang lebih mencapai 8 - 10 juta/ekornya, bila dibagi orang empat, masing-masing mempunyai kewajiban 2 - 2,5 juta rupiah.  Sementara gaji suamiku sebulan hanya 1,7 juta, bila ditambah lain-lain nominalnya mencapai 2-5 juta perbulan di luar insentif, dan kebetulan bulan depan suamiku tidak mendapat insentif, jadi seharusnya kami menabung untuk bulan depan.
      Di sisi yang lain, kami juga ingin menyenangkan hati orangtua kami, mematuhi perintahnya juga ingin berqurban.  Bila uang ini aku gunakan untuk qurban, aku takut akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di akhir bulan ini, tapi bila tidak..., kami khawatir akan melukai hati orangtua.  Bila hati orangtua terluka, maka pintu rezeki akan tertutup bagi kami.  Nauzubillahi min dzalik.  Semoga kami tidak tergolong orang-orang yang kikir.
     "Ya, sudah kalau memang begitu.  Sisihkan saja uang untuk itu, semoga kita diberi kemudahan!" kataku pada suamiku.  Namun disinilah awal ujian itu.  Beberapa hari kemudian kedua anakku bergantian sakit dan aku harus bolak-balik ke rumah sakit dengan biaya yang tidak sedikit.  Lama kelamaan persediaan kami semakin menipis, padahal masih tengah bulan dan kami sudah menjanjikan akan ikut menyumbang untuk membeli sapi.
    Kebingungan mulai melandaku, namun demi janji itu kami ikhlaskan untuk menyisihkan uang yang kami miliki.  Biarlah apa yang terjadi besok terjadilah, kami yakin Allah tak akan membiarkan hambanya yang ikhlas kelaparan.  Detik-detik menjelang tanggal tua, banyak sekali pengeluaran yang membengkak, bahkan hari ini, aku benar-benar kehabisan amunisi.  Kulkas kosong, dompet kosong dan badanku sedikit lemah.  Rencananya suamiku hari ini akan mendapat transfer gaji dari kantor, semoga saja itu benar!" batinku dalam hati.

     Malamnya aku dan suami pergi keluar untuk melihat pawai takbir keliling.  Kami menyempatkan mampir ke ATM untuk mengecek apakah gaji sudah masuk atau belum.

   "Subhanallah!  tiba-tiba aku melihat sejumlah angka yang besar buatku!"  Tak ada yang sanggup kukatakan selain kalimat hamdallah dengan senyum.  Rezeki memang tidak terduga.  ikhlas berkurban membuatku mendapat "Durian runtuh".  Aku mendapatkan rezeki senilai 10 kali jumlah uang yang kugunakan untuk qurban.  Sebuah rezeki yang tak terduga jadi, "Nikmat manakah yang masih kaudustakan?  Berqurbanlah, dan jangan khawatir akan kekurangan, niscaya Allah akan mencukupkan rezekimu.

0

Kamis, 25 Oktober 2012

      
        Menjadi seorang ibu muda bagiku adalah hal yang sangat indah dan menakjubkan.  Awalnya aku begitu panik saat menghadapi anakku yang suhu tubuhnya tinggi.  Sementara saat itu tak ada orangtua atau keluarga didekatku sebagai tempatku bertanya dan berbagi cerita.  Bertanya pada siapa?  Tetangga?  Sepertinya sangat sukar kulakukan, entah kenapa sejak aku menikah aku menjadi sulit bergaul dengan masyarakat, mungkin karena tipikalku yang tidak begitu suka dicampuri dan tak suka terjadi pergesekan, sehingga aku memilih membatasi diri untuk berbagi cerita dengan tetanggaku yang rata-rata jauh lebih tua dariku.
    Akhirnya aku mencari informasi lewat majalah.  Saat itulah pertama kalinya aku mengenal ayah bunda.  Kesan pertama saat itu,"Aku Jatuh Cinta!".  Aku jatuh cinta pada majalah ini, pada artikel-artikelnya yang tersaji apik.  Infonya sangat bermanfaat dan lengkap. 
       Suatu hari aku mendapat kiriman satu kardus majalah Ayah Bunda dari kakak ipar.  Seneng banget, terutama resep-resep MPASI-nya.  Memang dasarnya aku suka masak, setiap resep yang tersaji semua kupraktikan, salah satunya adalah pure buah kesukaan anakku.


     Segala tanda tanyaku tentang teori mendidik buah hati diulas lengkap di sini.  Salah satunya adalah artikel Agar Balita Tahu Tata Krama pada anak yang sukses kuterapkan pada jagoan kecilku Favian Attar Firdaus.

     Menghadapi pria kecil ini, aku harus cerdik, karena dia adalah anak yang cerdas dan halus perasaannya.  Aku harus menekan emosiku saat marah sekalipun, bila tidak apa yang kusampaikan padanya takkan mudah diterima olehnya.  Caranya hanya satu yaitu hujan cinta dan kasih sayang.  Menegurnya harus benar-benar menggunakan trik-trik yang cantik agar dia tidak merasa sedang dinasehati atau digurui.  Tanpa bantuan majalah Ayah Bunda akan sedikit sulit bagiku menahan emosiku yang meledak-ledak.

     Suatu malam, aku terbangun mendengar suara Favianku yang saat itu berusia 3 tahun menangis di depan pintu kamarku yang tidak terkunci.  Entah kenapa, dia hanya berdiri menangis tanpa membuka pintu.  Aku pun bangkit dan keluar dari kamar, memeluknya dan bertanya dengan lembut,"Kenapa nangis De?".
  "Ade mau pipis, Bunda!" katanya.  Aku pun tersenyum dan segera mengantarnya ke kamar mandi.  Kejadian itu sering terjadi.  Sepertinya dia paham betul, bahwa dia tidak selayaknya masuk ke dalam kamar ayah dan bundanya di saat malam hingga subuh tiba.  Kadang kala dia hanya mengetuk pintu kamar tiga kali, sampai aku menjawab ketukannya, bila aku sudah mempersilahkannya masuk, barulah ia melangkah masuk ke dalam kamarku.

SUKA BERBAGI

      Waktu itu aku aku sedang menunggu antrian di sebuah rumah sakit swasta di kotaku Sidoarjo.  Favian asyik bermain di salah satu arena bermain anak yang disediakan di rumah sakit tersebut.  Begitu asyiknya Favian ku bermain kuda-kudaan, lalu datanglah seorang wanita dengan anaknya yang masih berusia 11 bulan.  Kulihat Favian terus mengamati si gadis kecil tersebut yang terlihat sangat ingin bermain kuda-kudaan.  
     "Ayuk naik sama aku di belakang!" ajak Favian pada si gadis kecil yang belum bisa bicara.
     "Makasih, Mas!  Nanti ade jatuh bila di belakang" kata si wanita.  Favian terlihat sedang berpikir, kemudian tanpa ku duga, anak lelaki ku itu turun dan menyerahkan kuda-kudaan yang sedang di naikinya pada gadis kecil tersebut.  Menoleh dan tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya dan memberi acungan jempol sebagai rasa kagumku pada sosok kecil berhati lembut itu.



LIBURAN ASYIK BERKAT AYAH BUNDA

      Artikel lain yang juga sangat saya rasakan adalah 20 Aktivitas Seru Mengisi Liburan.  Berkat artikel ini kami dapat menciptakan suasana liburan yang menyenangkan di manapun.  Liburan menjadi menyenangkan seru dan bermanfaat.  Biasanya saya dan suami menghabiskan waktu libur kami dengan berjalan-jalan ke tempat wisata atau ke pegunungan.
  





      SELAMAT ULANG TAHUN AYAH BUNDA, SEMOGA SEMAKIN SUKSES DAN DICINTAI


Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog  "AKU dan AYAH BUNDA"
0

Kamis, 18 Oktober 2012

             Hidup dalam gelap merupakan sesuatu yang mengganggu bagiku.  Semua tak lain karena gangguan keseimbangan dalam tubuhku yang selalu merespon negatif dalam gelap.  Sesak, takut, dan gangguan pengelihatan kerap kualami saat aku berada dalam kegelapan.  Imajinasiku selalu bermain liar saat hari menjelang malam, saat minyak tanah atau pun spirtus yang menjadi bahan bakar lampu petromaks di rumahku habis dan kami kebetulan sedang tak memiliki uang untuk membelinya.  Bayangan-bayangan mahluk tinggi besar yang menghuni rumahku kerap hadir dalam pikiranku, membuatku histeris dan tak mampu terpejam.
             Kini semua telah berbeda.  Kehadiran PLN dalam kehidupanku telah berpengaruh besar bagiku.  Melalui energi listrik yang terdistribusi dari rumah ke rumah, kota ke desa, telah menjadikan dunia ini menjadi cantik dengan gemerlap lampu di malam hari.  Aku tak takut lagi tidur seorang diri di kamar, aku tak khawatir lagi petromaksku mati saat aku harus membaca di malam hari.  Secara tidak langsung PLN telah membantuku menjadi pandai.  Tak sanggup kubayangkan, apa yang terjadi saat ini bila kita belum menemukan listrik.  Mungkin kita masih seperti suku pedalaman yang tak terjamah teknologi.  Tak mungkin kita bisa berselancar di dunia maya sebebas sekarang, Pekerjaan rumah tangga takkan bisa diselesaikan dengan cepat.
          Saat malam datang kita tak perlu lagi berjalan dalam gelap, karena lampu-lampu jalan menerangi di setiap sisi dengan begitu resiko kecelakaan karena kegelapan semakin kecil.  Kejahatan yang biasa beraksi dalam gelap akan semakin berkurang, karena kejadiannya akan lebih mudah terlihat dengan adanya penerangan jalan seperti lampu di penerangan jalan ini.


          PLN telah semakin maju dan berkembang.  Program-program pemerataan listrik kian luas dan gencar dilaksanakan, namun ada satu ganjalan bagiku yaitu cara penyelesaian masalah yang tidak memihak rakyat.
         Bagi seorang ibu rumah tangga sepertiku, setiap pengeluaran bulanan harus di atur secara ketat, listrik, belanja, dana kesehatan, dana hajatan, biaya pulsa, biaya sekolah, semua harus diperhitungkan.  Apa lagi kegiatan sehari-hariku berpusat di dalam rumah yang tidak semuanya menggunakan listrik.  Aku berusaha sehemat mungkin menggunakan listrik, mengingat suamiku hanyalah seorang karyawan swasta biasa dengan gaji UMR.  Suatu hari saat aku baru pindah ke rumah yang kami huni sekarang, aku begitu kaget saat harus membayar tagihan listrik.  Tertera di lembar tagihan besarnya biaya yang harus kami bayar untuk pemakaian satu bulan mencapai Rp.300.000 lebih.  Tentu saja kami terkejut, di rumah kami tak ada perabot berharga yang menggunakan listrik kecuali lampu dan handphone, itu pun kami menggunakan lampu hemat energi.  Bagaimana mungkin tagihannya mencapai sedemikian tingginya.
        Kejadian berulang hingga ke tiga kalinya, meski kami telah berusaha menghemat penggunaannya.  Tak ada yang berubah dalam angkanya, ini pasti ada yang tidak beres pikirku.  Nilai 300 ribu sangat besar dan berat bagi kami, karenanya aku pun berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan mengirim laporan ke kantor PLN Geluran.  Saat itu kebetulan pelayanannya cukup cepat dan ternyata dasar pengenaan tarif didasarkan pada tagihan bulanan yang selama ini sering dibayarkan.  Pikirku saat itu, betapa tidak profesionalnya kerja perusahaan sebesar PLN.  Harusnya biaya yang dibayarkan sesuai pemakaian bukan diambil rata-ratanya.  Alasan yang diungkapkannya adalah saat itu mereka belum mendapatkan tenaga outsource yang baru.  Sebagai solusinya mereka memintaku tetap membayar sesuai tagihan bulan itu dan untuk bulan selanjutnya aku hanya perlu membayar abonemen saja hingga seluruh uangku lunas.
      Terus terang bagiku itu bukanlah win-win solution, saat itu delik aduan sudah mereka terima harusnya aku dapat membayar sesuai pemakaian aku, dengan begitu aku bisa mengalokasikan dana itu untuk kebutuhanku yang lain.  kenapa PLN tidak memikirkan pelanggannya?  Padahal bila pelanggannya telat satu bulan saja mereka tak memberi toleransi, tapi ini mereka yang salah kenapa harus pelanggan juga yang menanggung?

     Namun aku pun tak menafikkan bahwa PLN telah berusaha untuk memperbaiki diri dan meningkatkan pelayanan masyarakat, salah satunya adalah dengan menyelenggarakan lomba menulis bekerjasama dengan BLOGDETIK.  Suatu terobosan yang patut dihargai dan diberi dukungan penuh kiranya dapat dilakukan setiap tahun.

      PLN BAGI MASA DEPAN PUTRAKU
       Masuknya penerangan membawa satu perubahan  bagi hidupku.  PLN telah hadirkan terang dalam gelapku, kehadirannya membuat pekerjaan menjadi lebih mudah.  Kini tak perlu aku membeli arang untuk bahan bakar setrika, tak perlu antri minyak tanah di saat harga minyak tanah melambung tinggi hanya sekedar untuk menyalakan lampu, dan kini aku pun tak takut lagi kala harus ke kamar mandi di malam hari.  Sungguh kini aku bergantung pada energi listrik untuk menunjang aktivitasku menulis.
       Tidak hanya aku, putraku juga terbantu dengan adanya listrik yang menerangi rumah kami.  Tak ada lagi rasa khawatir bahwa anakku akan terancam sakit mata karena kurang pencahayaan saat belajar.  Penerangan yang memadai telah membantu anakku untuk belajar dengan nyaman.  Masa depan anakku secara tidak langsung dimudahkan dengan kehadiran listrik di rumah kami.  Suatu saat dimana teknologi sudah menjadi yang utama, kebutuhan akan listrik semakin meningkat. Saat dimana semua alat rumahtangga menggunakan energi listrik untuk menjalankan fungsinya.
       Tanpa listrik, putraku takkan nyaman belajar, takkan mudah berselancar di dunia maya, dan akan menemui kendala mengoperasikan robot-robot rancangannya.  Semoga PLN dapat terus berinovasi dengan menemukan sumber-sumber energi listrik yang baru.  bukan mustahil bila suatu hari nanti putraku akan menemukan sumber energi listrik lainnya dan maju bersama Perusahaan Listrik negara.
Harapanku adalah...
  1. PLN semakin meningkatkan pelayanan pelanggan, walau bagaimanapun mereka tak tumbuh besar dengan sendirinya mereka besar karena kepercayaan pelanggan.  Wajar bila pelanggan pun mendapat pelayanan yang memuaskan
  2. Aku sangat berharap bahwa PLN memberikan pemberitahuan kala akan memadamkan listrik, agar pelanggan dapat mempersiapkan diri, sebab pemadaman sepihak sangat merugikan pelanggan yang notabenenya telah membayar kewajiban atas pemakaian daya listrik
  3. Aku berharap ada sebuah reward bagi pelanggan yang berhasil menghemat penggunaan listrik agar pemakaiannya bisa lebih tepat guna dan efisien.
  4. Semoga PLN dapat  menjadikan kegiatan lomba ini sebagai kegiatan rutin tiap tahun tentunya dengan tema-tema yang lain.


0

Rabu, 10 Oktober 2012



Dia datang lagi semalam...
menggugahku dalam balut kantuk dengan sebuah ketukan lembut.
Entah kenapa
ketukan itu selalu mampu buyarkan mimpi-mimpiku
Hadir dalam diam tanpa sepatah kata terucap
Tanpa raga yang mewujud nyata
tuk sampaikan sebuah pesan yang menyelinap
hanya ketukan tiga

Aku lelah...
lelah dengan tanya yang tak terjawab
Lelah dengan bisik lembut yang kau titipkan pada bayu
yang menggugahku dalam tidur lelapku

Aku tahu aku salah
Aku khilaf dan alpa
Hingga ku abaikan seru-Nya
terjebak dalam bujuk rayu yang fana
mungkin selayaknya aku mengucapkan terima kasih padanya
Dia yang menyelamatkan  dari bisik rayu sang kasat mata
Menarikku kembali dalam geliat doa

0

Selasa, 09 Oktober 2012






Namaku Sri rahayu, ibu dari dua orang putra.  Kedua proses persalinan yang kualami semua unik dan berkesan dalam bagiku.  Pada persalinan pertama, aku terpaksa menjalankan operasi cesar saat usia kandunganku baru menginjak 8 bulan, dan berakibat anakku lahir dengan fungsi organ yang belum sempurna.  Tentunya kondisi ini menimbulkan masalah bagiku dan anakku.  Tubuh anakku kuning seperti kunyit dengan nilai billirubin mencapai 17.  Sementara aku sendiri sempat mengalami gagal nafas dan jantungku sempat berhenti berdetak saat proses persalinan terjadi.
Dengan berat hati aku harus merelakan putraku dirawat di rumah sakit selama 10 hari.  Belajar dari pengalaman pertama tersebut aku ingin kelahiran anakku yang kedua kulalui lewat persalinan normal.  Harapannya agar seluruh fungsi organnya telah sempurna dan mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.  Jauh-jauh hari aku sudah memeriksakan kandunganku di Dokter Spesialis.  Tulang panggulku didiagnosa sempit saat kehamilan anak pertama.  Namun aku bersikeras untuk tetap melahirkan secara normal dan menanti hadirnya buah hatiku yang kedua.  Sosok tamu yang akan menjadi teman bagi jagoanku yang mulai beranjak balita.

Segala informasi tentang tips-tips persalinan normal kukumpulkan dan pelajari.  Begitupun dengan saran keluarga dan tetangga untuk memperlancar proses persalinan, mulai berjalan-jalan, banyak sholat dan mengepel lantai semua kulakukan.  Namun hingga menginjak bulan kesembilan, aku tak jua merasakan kontraksi.  Hasil USG menunjukkan bahwa bayiku tidak mau masuk ke jalan lahir.  Mungkin dia merasa nyaman di perutku.  Dokter sudah menyarankanku untuk operasi, namun dengan tegas aku menolak.  Kata orang belumlah sempurna seorang wanita dan ibu bila tidak bisa menjalani persalinan secara normal.  Aku ingin menjadi wanita dan ibu yang sempurna.
Kemudian datanglah sepupu suamiku yang menyarankanku untuk sering bersenggama dengan suami agar bayiku terdesak keluar.  Hi.hi.hi..lucu juga mendengar saran ini, tapi demi tekadku kulakukan juga saran itu, meski sempat membuat suamiku sedikit kewalahan dengan permintaanku ini.  Malu dan geli bila mengingatnya.
Sampailah usia kehamilanku pada bulan ke-10.  Hampir setiap hari kerjaku hanya mengukur jalan.  Shooping dan mengepel lantai.  Namun tamu agung yang kutunggu ini tak jua muncul.  Akupun pergi memeriksakan diri ke dokter kandungan.  Namun jawabannya sungguh tak kuharapkan.  Dokterku mengatakan ketubanku sudah keruh dan bayiku sudah tak bisa bebas bergerak.  Aku diminta menentukan hari untuk melakukan proses operasi cesar.  Oh...betapa gamang hatiku menghadapi vonis ini.  Terbayang kembali operasi cesar yang pertama yang membuatku sangat trauma.  Namun aku tak punya pilihan.  Waktuku maksimal hanya satu minggu, bila lewat...dokter tidak bertanggung jawab atas segala resiko, begitu katanya.
Akhirnya kuambil batas yang terakhir, kuberharap sebelum waktunya tiba aku akan merasakan kontraksi dan pembukaan.  Harapan tinggal harapan.  Mungkin Allah terlalu sayang padaku dan tidak ingin aku merasakan sakitnya kontraksi yang konon maha dahsyat.  Hari itu Jumat 27 Juni jam 20.00 WIB aku mulai memasuki ruang VK seorang diri.  Takut, bingung dan malu menderaku.  Terlebih saat perawat mempersiapkan diriku untuk operasi.  Perjalananku menuju ruang operasi diliputi kegalauan.  Tubuhku alergi terhadap bius dan obat-obatan serta benang bedah tertentu.  Di dalam ruang operasi aku tak henti bicara dan memohon, agar dokter mengupayakan supaya aku tetap berada dalam kesadaran hingga bisa melihat kedatangan tamu agung ini.  Namun, seperti biasa...tubuhku bereaksi negatif terhadap bius epidural yang disuntikkan.  Seketika itu juga nafasku mulai sesak dan aku mulai tak sadarkan diri.  Barulah setelah putraku lahir kurasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku.  Memperlihatkan bayi merah berlumur darah ke hadapanku.  Sesaat...ya, hanya sesaat saja aku melihatnya setelah itu aku kembali tak sadarkan diri.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.  Bayiku yang kedua ini sempat keracunan ketuban.  Cuping hidungnya biru dan tubuhnyapun kuning.  Alhasil  akupun harus merelakan bayiku ini untuk kembali dirawat.  Cairan ketuban yang keruh dan terlalu banyak diminum bayiku mengotori paru-parunya, hingga nafasnya selalu berbunyi grok-grok.  Nafasnya kerap sesak, bahkan sempat sekujur tubuhnya membiru karena kekurangan oksigen.  Banyak pelajaran hidup yang kupetik dari peristiwa ini, antara lain:
-          Jangan pernah memaksakan kehendak demi keinginan kita.  Serahkan semua pada Allah dan ahlinya dalam menentukan waktu dan proses kelahiran
-          Perbanyaklah doa dan dzikir
-          Normal atau tidaknya suatu persalinan bukanlah ukuran sempurna tidaknya seorang ibu/wanita, karena keduanya mengandung resiko dan terasa sakit.
Semoga kisah ini dapat menginspirasi wanita lain yang sedang menjalani masa kehamilan.

0

Total Absen

Pengikut