Jumat, 18 Desember 2020

Vaksin Corona, Harapan Atau Bencana Baru?

 Vaksin Corona, dan Fakta Di Baliknya

Tak terasa hampir dua tahun Ms. Corona menggempur dunia.  Selama itu korban terus  berjatuhan.  Asumsi yang awalnya mengatakan bahwa anak-anak memiliki resiko lebih kecil, akhirnya terbantahkan dengan mudah.  Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya jumlah pasien anak yang terpapar dalam beberapa bulan terakhir.  Kabar akan kehadiran vaksin corona pun menjadi angin surga bagi sebagian masyarakat yang sudah merindukan rasa aman beraktivitas. 



Benarkah vaksin ini aman?

Berbagai berita terkait vaksin corona pun mulai bertebaran  baik di media cetak maupun online. Ada yang menyikapinya dengan sebuah harapan, namun ada juga yang meresponnya dengan sebuah kekhawatiran, akan munculnya bencana baru.  Saya termasuk  satu di antara masyarakat yang mempertanyakan efektifitas penggunaan vaksin tersebut.  Benarkah vaksin ini aman dan mampu menjadi harapan baik bagi kita semua?.  Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita mencari tahu tentang kebenaran dan update perkembangan vaksin yang akan dilaunching. 

Pfizer,  salah satu perusahaan farmasi yang cukup ternama, kini sedang mengmbangkan vaksin corona  untuk mencegah serangan yang lebih masif.  Menurut pihak Pfizer dan BionTech ada beberapa fakta yang perlu diketahui masyarakat terkait vaksin yang sedang dikembangkan, seperti yang dilansir oleh The Guardian yang dikutip ulang di halodoc.



Fakta Penting Tentang Vaksin Corona Yang Wajib Kamu Tahu          

Simpang siur berita terkait ujicoba vaksin cukup membuat sebagian masyarakat resah dan bertanya.  Pencarian fakta perlu dilakukan secara seksama dengan menggali informasi dan jawaban  dari lima pertanyaan berikut:

1.    Bagaimana Tingkat Keamanan Vaksin?

2.       Benarkah Vaksin dapat Mengurangi Terjadinya Perburukan Kondisi?

3.       Apakah Vaksin Mampu Mencegah Terjadinya Penularan Virus?

4.       Berapa Persen Tingkat Keberhasilan Vaksin ?

5.       Bagaimana Efektifitas Vaksin Dalam Melindungi Tubuh?

Untuk menemukan fakta atas pertanyaan tersebut, sebaiknya kita bertanya atau mencari dari sumber terpercaya.  Kami pribadi lebih sering menggali informasi terkait kesehatan dengan bertanya di platform yang memang dikelola oleh tenaga medis atau orang-orang yang memang expert di bidang itu.  Salah satu platform yang kami percaya adalah aplikasi halodoc.  Aplikasi ini tidak hanya berisi artikel kesehatan, namun kita juga bisa konsultasi secara online dengan para pakar.  Tentu info yang kita peroleh bisa dipertanggungjawabkan dan bukan hoax. Masyarakat dan para pasien cukup banyak terbantu dengan kehadiran aplikasi ini, terlebih di masa pandemi ini.  Aplikasi yang kini sedang naik daun ini memiliki tarif konsultasi mulai gratis hingga berbayar.  Tentu dengan harga yang cukup terjangkau sehingga mampu menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan advice dokter terkait keluhan kesehatan yang di alami.






Aplikasi ini juga menayangkan banyak informasi untuk menjawab pertanyaan di atas.  Menurut informasi yang berhasil kami rangkum dari aplikasi ini serta diskusi dengan beberapa paramedis, kami menyimpulkan sebagai berikut:

Ada beberapa perusahaan suplier vaksin yang sedang melakukan uji efikasi vaksin corona.  Dua di antaranya adalah Pfizer dan BioFarma.  Pfizer dan BionTech belum berani mengatakan bahwa vaksin yang sedang mereka kembangkan 100% aman, sebab sampai sejauh ini ada 10 % dari sampling yang menunjukkan gejala efek samping.  Tingkat efektivitas vaksin pun belum berani disimpulkan sebab vaksin masih dalam proses pengujian, belum sampai tahap kesimpulan akhir.  Namun demikian Paul Hunter, seorang Profesor dari University of Anglia mengatakan oleh karena vaksin milik Pfizer dan BionTech adalah vaksin baru, maka bisa saja efek samping yang dialami oleh beberapa relawan hanyalah sebuah reaksi alergi terhadap salah satu komponen yang dimilikinya.

Pfizer sendiri belum berani menyimpulkan apakah vaksin ini bisa mencegah penularan virus.  Sebab jika yang dialami adalah infeksi tanpa gejala, artinya masih memiliki resiko menularkan ke orang lain.  Lewat uji klinis terhadap partisipan berusia 12 – 85 tahun, menampakkan kalau vaksin ini tidak bekerja secara efektif untuk lansia.

Demikian pula dengan Vaksin Sinovac yang distribusinya akan dilakukan oleh Bio Farma. Bambang Heriyanto, selaku Sekertaris Perusahaan Bio Farma mengatakan bahwa hingga saat ini efikasi vaksin Sinovac masih dalam tahap menunggu hasil dari uji klinis pada fase yang sedang dilakukan.   Perkiraan mereka uji fase 4  baru akan keluar hasilnya pada bulan Januari 2021.  Pernyataan Bio farma terkait efikasi vaksin juga diperkuat oleh produsen Sinovac langsung Sinovac Biotech.Ltd.  Uji klinis yang dilakukan yang dilakukan sejak Agustus 2020 ini diperkirakan rampung pada Mei mendatang.

Berangkat dari informasi  tersebut , Pemerintah harus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menetapkan kapan  vaksinasi massal dilakukan, agar vaksin corona tidak menjadi bencana baru bagi masyarakat indonesia.  Salah langkah sedikit saja, bencana baru akan muncul sebab seperti kita ketahui virus Covid -19 merupakan virus dengan karakteristik unik dan terus bermutasi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

Total Absen

Pengikut