Jumat, 20 Agustus 2021

Menjadi ibu adalah impianku. Namun aku tak pernah membayangkan bahwa Dia memilihku menjadi salah satu Ibu special. Ibu yang diamanahi untuk menjaga para ahli surga. Benar-benar anugrah yang tak pernah kusangka-sangka.

Bahagia?

Awalnya kami tak pernah menyadari bahwa ini adalah anugrah.  Kasak kusuk di balik dinding-dinding penyekat membuat kami tak mampu berpikir positif. Kami mempertanyakan ke Adilan-Nya. Mengapa yaa Robb...?

Kami tak kuasa menolak takdir. Dia pun tak bisa memilih terlahir dalam kondisi apa. sebagian memvonis bahwa ini adalah hukuman dari Nya atas dosa kami di masa lalu. sejenak kami mempercayai nada-nada sumbang itu dan tanpa kami sadari keimanan kami terkikis. Rasa bersalah mulai menghantui kami. Kebahagiaan yang harusnya kami rasakan berganti menjadi derai air mata. Hari- hari penuh tangis harus kulalui bersamanya. Ya, hanya bersamanya ..tak ada orang lain. Kami berbagi tugas merawat anak. Si sulung kami sekolahkan di usia 3 tahun, sebab dokter melarang kami membawa anak kecil ke RS. Malamnya suamiku menjemputnya dan membawanya pulang. Aku dan bayiku menjadi penghuni baru di bangsal anak.

Rumah Kedua

Kami sematkan sebuah nama dalam balutan doa untuk putra kedua kami Favian Attar Firdaus yang mengandung arti pemuda tampan dari surga Firdaus. Wajah tampan nya serta kulitnya yang putih menjadi penegas atas namanya. Sayangnya, nasib tak seindah namanya.

Favian harus menghabiskan waktunya dari rumah sakit ke rumah sakit. Selama 3 tahun kami menjadi penghuni tetap di bangsal anak kelas 3. Berjuang tuk membuatnya tetap hidup. Di sanalah rumah ke dua kami. Mulai ibu kantin, satpam, hingga perawat sudah seperti keluarga kami.


Rollercoaster

Hari berganti hari.. 

Kuamati ada yang berbeda pada putra keduaku ini.  Dia sering sekali demam. Tubuhnya begitu sensitif. Bahkan seekor semut pun mampu menumbangkannya dan hampir merenggut nyawanya. Kerap kujumpai dia berceloteh pada semut-semut yang berbaris..seolah dia paham apa yang mereka bisikkan. 

Dia juga tak mengenal takut pada hewan melata. Ulat, cacing, kadal, monyet bahkan harimau tak membuatnya gentar.  Kucing adalah salah satu hewan yang paling dia sayangi sejak kecil. 

Tapii..

Dia tak jua berbicara. Hanya tersenyum dan berceloteh tak jelas. Satu kata pertama yang dia ucapkan adalah "Ayah" .  Iya ayah, bukan bunda...meski bundalah yang selalu ada bersamanya. Sosok ayah seolah menjadi idolanya.

Dia sangat aktif bergerak. Berlari, melompat dan memanjat. Tak ada rasa takut.  Justru dia suka menghadang bahaya. Tak heran jika begitu banyak tanda -tanda di tubuhnya..bukti betapa "lakinya" dia .

Selama di rumah sakit hampir setiap hari infus harus di pasang ulang akibat terlalu aktif geraknya.

Yaa robbb.. kapan ujian ini berakhir tanyaku saat itu. Aku dibuatnya cemas. Dia sering sekali menghilang dari pengawasan kami.  Tak jarang kami meminta bantuan polisi , satpam ataupun teman -teman untuk mencari keberadaannya.  Lengah sekejap saja kami pasti kehilangan jejaknya.

Beberapa kali dia hampir diculik

Beberapa kali dia hampir tenggelam

Beberapa dia mengalami cedera baik di tangan, dagu, kaki ataupun kepala ..

Oh Tuhan.. hidup kami bagaikan naik rollcoaster.. yang membuat jantung kami hampir berhenti. Jika kami lengah...tembok rumah kami bisa bolong bolong dimakannya. Bahkan kotoran ayam pun pernah diicipnya. 

Dia sangat ramah!

Dia penyayang!

Dia murah hati dan Setia kawan!

Dan dia pandai melawak, menghibur siapapun yang sedang murung dengan aneka polah lucunya. Bahkan tak jarang dia berperan layaknya badut demi mengukir senyum sang bunda .

Navigator Andal

Kami sungguh kewalahan dibuatnya dia sangat aktif. Dokter Indra mendiagnosa dia sebagai pasien suspect ADHD. 

Ah, apa pula itu? Saat itu kami enggan mencari tau tentang diagnosa tersebut. Dokter pun tidak memberikan saran apapun terkait penanganannya. Saat itu tak ada orang yang bisa memberi kami masukan terkait kondisinya selain usulan memasang GPS di tubuhnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ (kamipun sempat terpikir demikian).

Tapi di balik semua itu, dia adalah navigator yang andalπŸ‘. Dia mampu mengingat setiap kelokan, sudut jalan ataupun letak tempat dengan detail.  Cukup sekali jalan! Perjalanan sepanjang apapun dapat diingatnya

Dia adalah seorang perawat yang telaten.  Penuh kasih sayang dirawatnya sang adik sejak dalam kandunganku. Tak pernah lelah dia menjaga adiknya yang memiliki keterbatasan intelektual.. 

Sigap tangannya mencuci, menata setiap sudut rumah, dapur,dan kamar mandi. Rasa sayang yang besar rupanya tidak hanya dia berikan kepada manusia..tetapi juga pada hewan ciptaan Allah.







0

Senin, 02 Agustus 2021

 

RLBA  Satu Pena Hasilkan Keputusan Strategis

Perkumpulan Penulis Satu Pena diguncang isu kudeta. Berbagai pemberitaan miring di media lokal, menuliskan adanya upaya "Kudeta" terhadap ketua Umum Nasir Tamara, yang menjabat sejak April 2017 lewat Kongres Solo. Pemberitaan dan Meme yang menyudutkan kelompok anggota yang menamakan diri Gerakan Peduli Satu Pena, dipublish oleh kelompok pendukung "Status Quo". Tak ayal perang opini tak berimbang pun terjadi dan mewarnai berbagai media sosial.

Ada Apa Dengan Satu Pena?

Perkumpulan Penulis Satu Pena, merupakan organisasi  yang lahir lewat inisiasi para penulis, seniman, jurnalis, pengusaha dan kurator nasional yang di dukung oleh Badan Ekonomi Kreatif. Diresmikan pada bulan April 2017 di Hotel Aston Solo, lembaga ini berharap bisa membawa perubahan dan meningkatkan kesejahteraan para penulis, seniman dan kurator, serta mengembangkan dunia literasi Nasional. 
Layaknya sebuah perahu, organisasi inipun tak luput dari guncangan ombak. Seiring waktu, riak kecil yang lambat laun membesar, akhirnya tak terelakkan. Dorongan untuk menyelenggarakan Kongres pun semakin besar, hingga bermuara pada  diselenggarakannya Rapat Anggota Luar Biasa Satu Pena (RLBA).

Penolakan terhadap rencana penyelenggaraan RLBA pun dilontarkan oleh Ketua Umum.  Perang opini pun dimulai. Sebagian besar Dewan Pendiri dan Dewan Pengurus merasa perlu untuk melakukan pembenahan administrasi dan legalisasi organisasi.


Meme Pengkritisan Gerakan Peduli Satu Pena Dibuat Oleh Denny JA


Keputusan Strategis Hasil Rapat Anggota Luar Biasa Satu Pena

Minggu, 1 Agustus 2021, terselenggaralah Rapat Anggota Luar Biasa yang diikuti oleh 96 anggota peserta zoom dan 15 orang mewakilkan lewat surat kuasa. Rapat yang berlangsung sehari penuh berjalan damai dan penuh keakraban. 

RLBA Dihadiri Penulis Papan Atas
RLBA dihadiri Para Penulis Besar Nasional


Para Penulis Pendukung RLBA


Pada siaran Pers nya kemarin, Caretakers menyampaikan beberapa keputusan strategis dan revisi AD ART organisasi.
Keputusan strategis yang dimaksud adalah: Pertama, RLBA Satupena tidak menerima Laporan Pertanggujawaban (LPJ) Pengurus karena pengurus, dalam hal ini Ketua Umum Satupena hasil Kongres Pertama Solo, Nasir Tamara, tidak hadir. Untuk penyelesaian lebih lanjut LPJ ini akan dibentuk tim khusus dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Kedua, RLBA Satupena telah menerima, dan disepakati seluruh peserta rapat, Perubahan Anggaran Dasar (AD). Perubahan yang akan disahkan dalam waktu dekat ini juga mencantumkan poin penting, yaitu kepengurusan yang baru akan bersifat kolektif kolegial.

Keputusan ketiga, karena sejak RLBA ini kepengurusan Satupena hasil Kongres Solo dinyatakan demisioner, maka roda organisasi dialihkan kepada Caretaker RLBA Satupena hingga kepengurusan baru terbentuk pada RLBA lanjutan.

Rapat pembahasan mengenai perubahan Anggaran Dasar yang dipimpin Prof S. Margana ini juga menyatakan, RLBA akan dilanjutkan pada pekan depan, tepatnya, Minggu 8 Agustus 2021.

Penyelenggaraan RLBA ini sebelumnya sudah dikomunikasikan kepada pengurus Satupena hasil Kongres Solo. Terjadi dinamika internal, tetapi caretaker yang sudah melaksanakan tugasnya terus melanjutkan RLBA,  yang merupakan bagian dari Rapat Anggota, forum tertinggi organisasi yang sah, yang tercantum di dalam pasal 12 AD yang disahkan notaris.

Meskipun sebelumnya banyak yang mempertanyakan adanya perubahan sebagian AD hasil Kongres Solo dengan AD yang kemudian disahkan notaris, para anggota Satupena yang kemudian menyatakan sebagai kelompok Satupena Peduli tetap berpegang pada AD yang berlaku.

Menembus Jalan Buntu

Digelarnya RLBA Satupena ini ibarat menembus jalan buntu, sebab sebelumnya rencana untuk menggelar Kongres kedua berjalan mulus, tapi menjelang persiapan akhir justru ada krikil dan penentangan. Caretaker RLBA, Mardiyah Chamim, menjelaskan kronologi yang terjadi di Satupena menjelang Kongres dan berubah menjadi RLBA. Kronologi persoalan juga dijelaskan dalam surat tertulis yang disampaikan kepada pengurus Satupena hasil Kongres Solo dan dibagikan di WAG Satupena.

Kelompok Peduli Satupena mengirim surat permohonan kepada Badan Pengurus untuk penyelenggaraan RLBA. Surat dilampiri dukungan dari 100 lebih anggota, yang artinya melampaui 25% minimal yang disyaratkan AD.

Dukungan dibuktikan dengan mengisi daftar kesediaan untuk ikut RLBA. Dalam realisasi, Minggu hari ini, hampir yang semua setuju RLBA benar-benar hadir. Sedangkan yang tidak hadir sebanyak 15 orang mewakilkan kepada anggota lain dalam bentuk surat resmi.

Sejumlah anggota yang hadir, antara lain, Bambang Harimurti, Dewi Lestari, Alberthiene Endah, Mikke Susanto, Hikmat Darmawan, Candra Malik, S. Margana, Fajar Arcana, Warih Wiratsana, Imelda Akmal, Aji Prasetyo, Whani Darmawan, Kanti W Janis, Mardiyah Chamim, Kristin Sammah, Abidah El Khalieqy, Ahmad Fuadi, Sekar Ayu Asmara, Bagus Takwim, Farid Gaban, Geger Riyanto, Kurnia Effendi, Murti Bunanta, Kuss Indarto, Djoko Saryono, Husnu Abadi, Qaris Tajudin, Sihar Ramses, Suradi, Trinity, Yuli Andoyo, Fahd Pahdepie, Yuke Ardhiati, Magdalena Sitorus, Isbedy Stiawan, Dyah Merta, Neni Muhidin, Deasy Tirayoh, dan masih banyak lagi.

Dalam RLBA yang berlangsung lebih dari 6 jam ini, semua peserta menginginkan agar Satupena berbenah dan menata diri, terutama terkait tata kelola keorganisasian yang menyangkut pula program kerja, dan keuangan perhimpunan. RLBA juga sepakat untuk membentuk tim rekonsiliasi menjembatani perbedaan pendapat dengan komunikasi yang lebih baik  demi semakin memajukan Satupena. []


*Hikmat Darmawan*
+62 813-1789-5812

*Mardiyah Chamim*
+62 811-945-912
0

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Part of BloggerHub

Total Absen


Pengikut