Jumat, 29 April 2016

Malam Jumat dan Cerita Mistis

"Malam apa nih?" sebuah tanya terlontar di dinding chat group alumni bio 96.  Group paling hiperaktif yang aku ikuti ini, (yang lainnya udah di hapus)  dihuni oleh berbagai profesi mulai IRT kaya aku, pegawai bank, dokter, sekretaris bahkan pengusaha dan para abdi negara.

Kami berasal dari almamater yang sama dan telah terpisah kurang lebih 20 tahun lamanya, namun entah mengapa kebersamaan itu tak pernah pudar pun berkurang.  Rindu dan persahabatan menjadi perekat di antara kami.  Setiap hari ada saja celoteh lucu yang menghibur. Perbincangan seru tentang berbagai topik acap membuat kami terbuai hingga tak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 24.00 WITA.

Group hiperaktif ini sering mengangkat topik tentang kesehatan, masakan dan kenangan indah masa lalu.  Masa di mana kami masih sama-sama muda, saling mencuri pandang dan bergurau canda.  Zaman kenakalan kami sebagai siswa SMU. Kami juga memberi ruang untuk para member group menawarkan dagangannya sebagai salah satu upaya mendukung perekonomian member. Namun sesi yang terunik adalah sesi di kamis malam.

Tau ngga kenapa?
Entahlah..., bagaimana awalnya.  Setiap malam jumat member selalu mengharap ada kisah misteri yang dihadirkan.  Aku adalah salah satu member yang sering di daulat untuk berbagi kisah.  Tetapi malam ini giliran jatuh pada Bapak Agung @kstariapagi.

Suasana malam yang sepi, ditemani lolongan anjing melengkapi jalannya cerita.  Apalagi malam ini suami sedang berada di Mataram. Hiiiyy... rasanya kian mencekam. Kebayang ngga sih hidup di pulau Bali yang kental dengan suasana mistis, dihiasi dengan lolongan anjing eh ditambah dengan cerita yang serem-serem.

Tapi dasar hoby tetap aka kisah yang mancing bulu roma itu dinanti. Nah, pasti sudah tidak sabar kan? Yuk, ahh ..lanjuut!
Ada yang tau Mall Citra?
Cerita memiliki setting tempat di mall yang menjadi korban kerusuhan Mei 1998.  Konon menurut cerita beberapa orang, di mall ini sering terdengar rintihan,tangisan bahkan teriakan dari gedung tak berpenghuni tersebut.
Pada tahun 1998 Mei sore itu, kami baru saja pulang dari rumah Romo Sandyawan.  Di mana-mana situasi mulai rusuh tak terkendali. Kami pikir keramaian hanya terjadi di pusat kota saja, ternyata saat kami melewati jl. I . GUSTI NGURAH RAI, tampak sekelompok orang melakukan penjarahan pada toko-toko di pinggir jalan. Puluhan orang lalu lalang sambil membawa barang hasil jarahan seolah baru saja ada sale besar-besaran.  Situasi jalan begitu hiruk pikuk. Aku melihat banyak anak kecil berjalan setengah berlari menuju mall citra sementara ibu mereka menunggu pasokan dibluar. Mereka bercengkrama sambil memilih barang-barang yang mereka sukai. Semua terasa seperti pasar.
Mengapa tak ada aparat yang menertibkan?
Selang 20 menit berlalu, entah darimana asal muasalnya  tiba-tiba api berkobar dari dalam mall. Semakin lama semakin besar.  Terdengar teriakan wanita, dan anak-anak yang terjebak dalam kebakaran tersebut.  Tangis kesakitan dan teriakan minta tolong semakin mengiris-iris telinga yang mendengarnya.  Kami hanya bisa menonton tanpa bisa melakukan apapun, sebab semuanya terjadi begitu cepat.  Anak-anak malang tersebut terjebak dalam mall tanpa ada jalan keluar, seolah memang dikondisikan seperti itu. Mobil pemadam kebakaran tak kunjung datang. Mungkin karena situasi jalan yang macet dan crowded telah menghambat perjalanan mereka menuju lokasi. Sekejap saja, ya... Sekejap saja semua musnah dilalap si jago merah.Kami yang tak bisa berbuat apa-apa dipaksa meninggalkan lokasi untuk mempermudah proses evakuasi.  Esok harinya, dari sebuah surat kabar kami membaca berita peristiwa kebakaran yang menimpa mall citra merenggut banyak korban jiwa terutama anak-anak.  Tubuh mereka hangus terbakar dalam kondisi yang mengerikan. 
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga arwah-arwah para korban diterima Allah SWT...batinku lirih penuh kesedihan.  Masih terbayang di mataku bagaimana riangnya anak-anak itu memadankan pakaian yang mereka ambil ke tubuh mereka sambil berkata," lumayan ya mak, bisa buat lebaran nanti"
Ah... semoga saja anak itu bukan salah satu di antara korban terbakar yang mati.

Tujuh tahun berlalu sejak peristiwa itu, saya kembali ke jakarta sebagai seorang jurnalis yang ditugaskan untuk meliput dampak sisa-sisa kerusuhan 1998.  Bersama Ms. Lea dan Dita kami berusaha mengungkap dampak kerusuhan Mei tersebut.  Kebetulan saya kebagian di  wilayah Timur, Ms. Lea dan Dita mengangkat masalah pelanggaran HAM. Saya berjalan menuju bangunan Mall, rupanya selama 7 tahun bangunan ini dibiarkan terbengkalai tanpa ada renovasi.  Rasa penasaran mengusik naluri wartawan saya untuk meresapi konteks yang ada.  Saya pun melakukan siaran live in di sekitar Buaran.  Alhamdulillah segalanya dimudahkan.  Saya dipertemukan dengan beberapa saksi hidup dari kejadian tersebut, serta kejadian-kejadian yang membangunkan bulu roma after peristiwa itu. Tangan saya mulai mencatat setiap detil kejadian, otak dan decoder saya merekam setiap informasi yang saya dapatkan.  Hipotesa awal mulai saya susun untuk diuji.  Begitulah... hari pertama dan kedua saya gunakan untuk mencari dan menggali informasi.  Tak ada satu kejanggalan terjadi saat itu. 
Jarak tempuh dari lokasi ke tempat kos saya yang berdekatan, merangsang insting wartawan saya untuk terjun lebih jauh lagi demi mengungkap misteri ini.  Benarkah ada arwah yang bergentayangan di mall?
Hari ketiga...saya mulai merasakan ada sesuatu, seperti kehadiran sebuah kehidupan lain di bangunan yang masih tersegel yellow line dan dibarikade kawat berduri, jadi mana mungkin ada yang berani tinggal di situ? Batinku dalam hati.  Bulu kudukku merinding.  Hari mulai gelap... perlahan aku merasakan sebuah energi lain di sekelilingku.  Mulai terdengar rintihan wanita dan anak-anak yang kesakitan.  Ada tangisan, ada teriakan minta tolong yang membuat sekujur tubuhku terasa dingin membeku tak mampu beranjak pergi.
Saya berdebat dengan Lea jelinek yang merupakan seorang antropolog tentang kejadian tersebut, namun nuraninya tetap berusaha untuk berpikir logis dan realistis.  Bisa jadi ini adalah peringatan untuk kami kala itu yang memasuki ruang waktu tanpa ijin terlebih dahulu. 
Di hadapan kami hanya tampak dinding-dinding hitam gosong akibat peristiwa kebakaran itu. Bangunan yang tak terawat... rak-rak yang bergelimpangan dan kegelapan yang menyelimuti membuat suasana semakin mistis.  Kami terus menjelajahi sudut demi sudut di lantai satu dan mengambil beberapa jepretan gambar dengan kamera kami, mencoba merekam setiap penampakan. Usai mengambil gambar di Lt.1 kami beranjak ke Lt. 2 . Suasana mencekam semakin terasa.  Kami mengganti kaset kamera kami.  Sejenak hening,  dan tak berapa lama kami mulai mendengar raungan anak kecil yang merasa kesakitan. Raungan minta tolong itu terus menggema ke penjuru ruangan. Tenggorokanku tercekat, serasa kering. "Agh! Apa itu?" tanyaku pada dua rekanku. Kami menyaksikan bayangan -bayangan berkelebat bebas, bukan bayangan hitam atau putih...tapi sosok-sosok manusia yang berlarian berusaha mencari pintu keluar.
"Ya, Tuhan! Tubuh kami terasa bergetar takut.  Kami mulai melantunkan ayat kursi untuk mengusir pandangan buruk ini. Aku berusaha sekuat tenaga untuk lolos dari ini semua. Ms. Lea tampak tak bisa menggerakkan tubuhnya, kami seperti dipertontonkan dimensi waktu yang berjalan mundur.  
Ada tubuh tanpa kepala yang bergerak kian kemari, ada yang tidak lengkap tangannya dan berbagai penampakan lainnya yang membuat kami begitu ketakutan.  Semua berlangsung selama 1 jam sampai akhirnya kami ditolong oleh sekelompok warga yang menemukan motor kami di luar.
Kami diberi wejangan atau lebih tepatnya dimarahi karena masuk tanpa ijin. Kami dianggap melanggar tata krama, sebab bangunan. Ini masih dalam ritual pembersihan.  Ritual itu berlangsung cukup lama.  Sulit sekali membersihkan bangunan ini dari roh-roh yang terperangkap di dalamnya.  Warga tak mengijinkan kami melakukan pengambilan gambar apapun.  Ah, malam itu rasanya kami seperti berada pada kondisi titik koma.

Seminggu setelah itu insting jurnalisku mendorongku untuk kembali.  Kali ini aku membawa temanku yang memiliki indra keenam.  Motor kami sembunyikan agar tidak terlihat warga. Kami memanjat pagar pembatas dan berjalan dari ujung bangunan ASABRI ke belakang menuju ruko-ruko.  Bukan bermaksud sok atau ingin menantang, bukan juga bermaksud membuat berita hantu.  Kami hanya ingin melihat aspek di dalamnya walau jujur ada rasa cemas, deg-deg plash dan takut. Temanku mulai menggelar ritual dengan menyalakan dupa.  Membaca mantra-mantra pengundang. Tetap dengan kondisi siaga dan rasa trauma yang tersisa aku berjaga.  Tak berapa lama... komunikasi mulai tersambung, terdengar racauan dari mulut temanku.  Dalam racauannya dia berkata bahwa banyak jiwa-jiwa yang terperangkap dan ingin dibebaskan.  Anak-anak yang mati secara tidak wajar. Anak-anak itu butuh ketenangan.  Rohnya masih tergantung antara bumi dan langit minta dibebaskan.  Itulah sebabnya mereka sering mengeluarkan suara-suara teriakan minta tolong dan tangis kesakitan. Kami berjanji untuk membantu mereka mencari jalan agar segera dilakukan proses pembersihan.  Setelah pulang dari sana kami menemui pak Ciputra selaku pemilik bangunan tersebut, agar beliau segera melakukan pembersihan dan membuat tempat bermain anak di gedung barunya nanti.  Hingga sekarang masih ada saja pejalan kaki yang melihat sosok misterius di area gedung itu, atau sekedar suara tangisan dan lolong kesakitan.

*diceritakan ulang oleh Sri rahayu

Itulah kisah kamis malam di penghujung bulan April. Nantikan kisah kamis malam lainnya



Tidak ada komentar:

Total Absen

Pengikut