Sabtu, 31 Agustus 2013

PETUALANGAN YANG TANPA PERHITUNGAN (MEMORY EKSPEDISI GUNUNG CIREMAI)



            Cerita ini terjadi pada tahun 1994.  Waktu itu adalah liburan sekolah, aku yang duduk di kelas satu SMU Negeri di bilangan Taman Mini, merupakan anggota baru di Himpunan Pelajar Pecinta Alam Semesta.  Sebuah wadah yang emang aku banget deh pokoknya.  Mimpi untuk bisa naik gunung seolah sudah mencapai ubun-ubun kepalaku.  Makanya pas denger berita klub ini akan melakukan pendakian ke gunung ciremai hati ini langsung berbunga-bunga.
            Apes!  Meski sudah berusaha membujuk rayu Bapak, ijin tidak juga didapat.  Terus darimana aku bisa dapat uang saku dan dana untuk membeli perbekalan? 
H-2 sebelum keberangkatan rombongan kami belum juga mendapat surat jalan dari sekolah.  Aku pun tak punya sedikitpun uang yang bisa kugunakan untuk berangkat.  Namun hasrat hati ini begitu menggebu untuk bisa melakukan pendakian yang penuh tantangan ini.  Gunung ini seolah misteri buatku.  Sepuluh tahun sebelumnya  Kakak pertamaku beserta rombongannya tersesat di gunung ini dan baru diketemukan di dasar sebuah jurang ditolong oleh sekumpulan kera dan monyet liar, subhanallah...
Tim nekad memutuskan berangkat.  Beranggotakan kurang lebih 12 orang yang salahsatunya adalah guru kami.  Tanpa surat jalan dan tanpa persiapan fisik dan terutama aku yang tanpa persiapan dana juga.
Hari itu aku memutuskan untuk menjual cincin emasku untuk biaya perjalananku.  Aku pun terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa aku akan berkemah di daerah Cileungsi Jawa Barat.  Kesalahan yang fatal!
Diantara 12 anggota tim ekspedisi nekat ini, dua di antaranya adalah wanita, yaitu aku dan temanku Siti.  Ternyata Siti juga berangkat dengan kenekatan.  Sesungguhnya dia sudah diberitahu bahwa wanita yang sedang berhalangan tidak boleh melakukan pendakian ke gunung ini.  Tetapi keinginan yang meluap memaksanya untuk tidak berterusterang tentang kondisinya, khawatir tidak diperbolehkan ikut.
Esok harinya, tepat pukul 08.00 WIB, tim Nekad ini berangkat juga dengan daftar panjang kenekatan masing-masing anggota tim.  Kami berangkat menuju terminal bis dan memilih jurusan kuningan.  Jalur pendakian yang kami lalui adalah Palutungan dengan pertimbangan jalurnya landai sehingga tidak begitu memberatkan bagi pendaki amatir seperti aku dan Siti.
Sejak awal tiba di pos kedatangan, kondisi dan stamina Siti menurun.  Tubuhnya demam tinggi dan menggigil.  Aku mulai berpikir yang tidak-tidak terkait mitos larangan bagi wanita haid menginjakkan kaki di gunung ini.  Mungkinkah penguasa gunung keramat ini murka? ( maklum agama masih cetek, kejawen pula).
Kami memutuskan untuk bermalam hingga kondisi Siti membaik.  Hari itu aku betul-betul harus menjadi perawat yang baik untuk tim ini.  Aku bertanggungjawab atas kesehatan sahabat baikku ini.  Malam itu kami terpaksa ngecamp.  Terdengar lolongan anjing dan suara binatang malam yang membuat suasana kian mencekam.  Terlebih lagi sore tadi kami mendapat informasi bahwa ini adalah musim harimau turun gunung.
Parahnya ternyata tim kami hanya membawa 1 tenda dome!  Oh, my God... dan itu pun kapasitasnya hanya untuk dua orang, padahal anggota tim kami ada 12.  Yah...beruntunglah kami yang wanita.  Kami mendapat kehormatan untuk tidur dalam tenda, sementara lainnya tidur beratap langit.
Saat kondisi Siti membaik, kami melanjutkan perjalanan.  Namun tak berapa lama tubuhnya kembali demam.  Sebenarnya sejak masih di bawah tim sudah menyarankan untuk mengurungkan pendakian karena alasan kesehatannya.  Tapi Siti berkeras untuk lanjut.  Perbekalan yang kami bawa hanya cukup untuk 5 hari saja, dan kami sudah melewati 2 hari padahal puncak masih sangat jauh dan kondisinya kembali drop.  Perjalanan kali ini betul-betul butuh kesabaran.  Medannya memang landai tetapi sedikit memutar jauh.
Akhirnya kami tiba di puncak pada hari ke-3.  Medan menuju puncak adalah medan pasir dengan tingkat kemiringan yang cukup curam.  Satu langkah kami maju, kami harus turun 3 langkah.  Sulit sekali menjejakkan kaki di pasir ini, pikirku saat itu.  Kondisi kesehatan anggota tim mulai menurun, perbekalan mulai menipis terutama air.  Kami tak menemukan dataran yang cukup luas di bibir kawah.
Keindahan pemandangan dari puncak Ciremai menghapuskan segala penat dan letih yang ada.  Subhanallah indah...subhanallah luar biasa.  Puas menikmati keindahan alam tersebut, kami harus bergegas turun menuju jalur Linggarjati dengan harapan kami akan tiba lebih cepat, karena perbekalan kami sudah menipis dan kami berharap bisa mendapatkan air di Sanggabuana II.  Medan di jalur ini sangat curam dan banyak kerikil, kami menyebut medan ini batu runtuh.  Hati-hati sekali kami melaluinya agar tidak terpleset kerikil dan batuan kecil.  Aku dan Siti turun dengan cara merosot.  Malang tak dapa ditolak!  Sebuah kerikil kecil dari atas jatuh dan tepat mengenai tempurung lutut Siti hingga retak.  Pertolongan pertama coba kami berikan.  Mencoba membuat tandu untuk membawanya turun, sayang tubuh-tubuh tipis anggota tim tak mampu mengangkat sahabatku ini yang bobotnya lebih dari 70 kg.  Lagi pula jalannya terlalu sempit dan tak mungkin dilalui oleh iring-iringan orang mengangkat tandu.
Malam itu kami kembali memutuskan untuk ngecamp.  Sebagian anggota Tim harus turun untuk mencari bantuan.  Persediaan air hanya tinggal satu botol aqua untuk 7 orang anggota yang tersisa.  Yang sehat harus mengalah agar rekan yang sakit bisa segera pulih.
Retak itu membuat tubuh Siti kembali demam tinggi.  Semua jaket dan selimut kami gunakan untuk membungkus tubuhnya.  Benar-benar kesetiakawanan yang membuatku terharu.  Mereka mengalah berdingin ria demi seorang teman.  Malam itu aku benar-benar harus jadi satpam.  Udara dingin, lapar dan haus membuat anggota tim mulai mengalami halusinasi.  Sampai kapan kami akan disini?  Mungkinkah kami selamat?  Ataukah harimau gunung yang diberitakan akan menjadikan kami santapannya?
Satu persatu anggota tim berjalan ke arah tepi jurang.  Mereka seolah melihat sebuah warung kecil dihadapannya.  Itu hanyalah fatamorgana!  Kutarik satu persatu dari mereka menjauhi bibir jurang. Mencoba menyadarkan mereka dengan cara memukul wajah dan tangannya dengan sebuah tinjuku.  Meski sulit, namun akhirnya mereka berhasil kusadarkan.
Ketakutan akan kematian mulai membayang-bayangi kami.  Tak ada alat komunikasi yang kami bawa, yang bisa kami gunakan untuk menghubungi dan mencari bantuan.  Ego-ego asli mulai bermunculan.  Terlihatlah siapa yang memiliki hati yang ksatria dan siapa yang egois.  Esoknya, menjelang sore bala bantuan datang menolong kami dari Tim Sar Jawa Barat.  Rupanya berita kecelakaan yang kami alami telah terdengar hingga ke sekolah dan jaringan radio ORARI.
Setelah mendapat pertolongan dari tim SAR, Siti akhirnya bisa berjalan dengan kruk yang dibuat dari batang kayu.  Perjalanan pun aku lanjutkan.  Malam mulai merambat naik...suasana begitu hening dan mencekam.  Dinginnya udara gunung mencucup hingga ke sumsum tulang.  Tiba-tiba kepala rombongan Tim SAR menghentikan langkah kami.  Menggunakan isyarat jari telunjuk di bibir sebagai perintah untuk tidak bersuara.  Sang kepala rombongan ini meminta kami waspada.  Ada suara-suara mencurigakan dari balik rimbunnya semak.  Sepertinya seekor harimau harimau.  Bila harimau ini lapar, artinya kami harus berlari menyelamatkan diri, tapi bila tidak... cukuplah kami diam tak bersuara.  Mematikan semua senter yang kami bawa.
Tak berapa lama sang lakon akhirnya muncul.  Berlenggak-lenggok bak seorang peragawati di atas kanvas.  Berhenti sejenak dan menatap ke arah tempat kami terpaku.  Nafas kami tertahan.  Maut rasanya sudah di depan mata.  Bayang-bayang tubuh kami yang terkoyak harimau dan menjadi headline di surat kabar nasional seolah bermain di otak kami.
Tegang!  Itu pasti.  Tak berapa lama sepertinya harimau ini menunjukkan tanda-tanda kalau dia sudah kenyang.  Dia pun berlalu begitu saja.  Seperti lepas nyawa ini.  Tapi hati ini belum bisa tenang, karena perjalanan kami masih panjang.
Singkat cerita, akhirnya kami sampai di pos masuk Linggarjati saat dini hari.  Serombongan anggota ORARI Jakarta dan Jawa Barat serta polisi hutan sudah berkumpul menyambut kami.  Omelan, nasehat dan cerca kami terima saat mereka tahu bahwa ini adalah pendakian pertama yang bermodalkan kenekatan.  Tak menggubris semua itu, kami sujud syukur berjamaah di atas lautan pasir.  Setelah itu sebuah mobil milik ORARI membawa kami dengan tujuan rumah sakit.  Namun kami memilih untuk beristirahat di penginapan saja.
Ada sebuah pelajaran dari Tim Nekad ini, seperti halnya dengan tim nekad travelller lainnya di www.telkomsel.com/nekadtravellerPergilah dengan persiapan matang, stamina yang baik dan perhitungan yang tepat, perbekalan yang cukup, serta peralatan yang mendukung.  Restu orang tua dan surat jalan adalah hal yang harus kita miliki saat melakukan pendakian.  Jangan memulai suatu pendakian dengan ketidakjujuran.
TULISAN INI DIIKUTKAN LOMBA #NekadTraveller 
www.telkomsel.com/nekadtraveller

Tidak ada komentar:

Total Absen

Pengikut