Rabu, 09 Maret 2016

MENIKMATI KEHENINGAN DI HARI CATUR BRATA (NYEPI)

Liburan Yang Gagal
Ini adalah tahun keduaku di pulau Bali, pulau yang sering dikonotasikan dengan singkatan BAnyak LIbur.  Tidak 100% salah  sebenernya, sebab kenyataannya penduduk di pulau ini memiliki hari libur lebih banyak bila dibandingkan pulau lainnya. Pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini sangat memegang kuat adat dan tradisi budaya setempat, itulah yang menyebabkan libur di pulau ini lebih banyak, setiap upacara keagamaan biasanya diiringi dengan libur sekolah, contoh adalah galungan, kuningan, nyepi, dan saraswati. Nyepi dan galungan adalah hari raya umat Hindu yang memiliki libur paling panjang di antara hari raya lainnya.
Selama ini kami selalu menghabiskan waktu libur kami dengan pulang ke kampung halaman suamiku, Surabaya.  Kali ini sebenarnya kami juga sudah merencanakan untuk pulang ke Surabaya, namun apa daya, insentif bulan ini tertahan, sehingga kami harus mengencangkan ikat pinggang dan memutuskan liburan nyepi di kota Denpasar.  Awalnya ada alternatif pilihan yuk mengungsi selama nyepi yaitu bermalam di hotel selama 3 hari dua malam.
Kok mengungsi?  Iya, istilah itu kami gunakan karena kami memang tidak terbiasa dengan tradisi yang satu ini. Kami tidak bisa membayangkan hidup dalam kegelapan walau hanya semalam dan dalam keterpasungan karena seluruh siaran televisi ditiadakan saat itu, jalan pun dijaga agar kami tidak berkeliaran di luar. Tak boleh ada kendaraan lalu lalang, tak boleh ada nyala api dan lampu, tak boleh ada kegaduhan...bila kami tak ingin pecalang menggelandang kami ke banjar.
Namun sepertinya kali ini kami memang harus menikmati keheningan di hari catur brata.  Mungkin kami disuruh menikmati betapa damai nya dunia tanpa kebisingan dan polusi, betapa indahnya langit malam tanpa cahaya lampu.

Hari raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu untuk membersihkan diri dari segala hawa nafsu dan angkara. Saya disini tidak akan cerita dan membahas tentang falsafah Nyepi, hanya sedikit bercerita tentang pengalaman menikmati keheningan saat nyepi.
Satu hari sebelum Nyepi tiba, masyarakat berbondong bondong mendatangi pusat perbelanjaan untuk membeli logistik selama libur nyepi, sebab saat nyepi tak ada toko maupun perkantoran yang buka, apalagi restoran dan parahnya lagi kita tidak boleh keluar rumah kecuali untuk satu hal yang mendesak seperti sakit parah dan itupun harus dikawal oleh pecalang. Selama nyepi berlangsung jangan harap anda bisa menyaksikan pertunjukan televisi, kecuali bila anda langganan TV cable. Seluruh stasiun TV nasional pemancarnya di non aktif kan.  Itulah sebabnya toko -toko dvd juga menjadi penuh oleh pengunjung yang ingin membeli kaset sebagai hiburan selama nyepi, terutama kaset anak-anak, sebab anak-anak salah satu yang mudah bosan dengan keheningan.  Agar mereka tidak rewel dan bikin gaduh, banyak orangtua yang menyetelkan film- film kartun kegemaran anak.
Sehari menjelang nyepi, antrian di Tiara Dewata salah satu swalayan lokal terbesar di Bali tampak mengular, padahal kasir yang dibuka cukup banyak.  Saya mendapati pemandangan troli-troli belanja yang penuh oleh berbagai kebutuhan rumahtangga, terutama snack dan sayuran.  Sepanjang perjalanan, kita dapat melihat aneka rupa ogoh-ogoh yang melambangkan nafsu, kejahatan, angkara dan syetan yang siap di arak pada sore harinya.

 Ogoh-ogoh simbol nafsu angkara, kejahatan dan setan(gambar milik Anis member LE JEGEG)
 Masyarakat mengabadikan ogoh-ogoh

 Persiapan upacara "ngerupuk"

Gambar milik Anis(member LE JEGEG)

Saya tak habis pikir bila melihat ogoh-ogoh yang dibuat masyarakat Bali.  Betapa tinggi imajinasi mereka dalam mengejawantahkan sosok iblis ke dalan bentuk ogoh -ogoh, betul -betul sebuah karya patung yang luar biasa sehingga menimbulkan kengerian  saat menatapnya. Karya yang hampir sempurna.
Sore harinya jalan di beberapa sudut kota Denpasar mulai lenggang, sebagian pendatang sudah berlalu meninggalkan pulau Bali untuk mudik ke kampung halaman, sebagian lagi sibuk memasak di rumah untuk persiapan nyepi, sebagian lagi memenuhi jalan -jalan untuk siap mengikuti tradisi "ngerupuk", yaitu mengarak ogoh -ogoh untuk kemudian dihancurkan dengan cara dibakar.
Esok paginya ritual nyepi dimulai, tak ada cahaya, tak ada api, tak ada kegaduhan. Jalan menjadi begitu lengang, hanya tempat tinggal saya saja yang gaduh dengan celoteh dua bocah lelaki saya.  Setiap mereka berteriak sedikit, saya langsung ingatkan agar diam, kalau tidak nanti mereka akan diangkut ke banjar.  Hmm..ternyata peringatan itu tak membuat mereka jera... terpaksa deh senjata pamungkasnya keluar, setelkan dvd dan ajak mereka lihat gerhana. So far kami masih aman karena lokasi tempat tinggal kami jauh dari tepi jalan. Jauh dari jangkauan pecalang.


Pagi datang membawa kedamaian, sebagian umat muslim terpaksa berjalan kaki menuju masjid terdekat tuk melaksanakan sholat gerhana, sebagian yang lain ada yang menikmati wisata gerhana dengan alat seadanya seperti saya (kebetulan lagi berhalangan sholat). Nyepi pertama di Bali sedikit berwarna dengan adanya gerhana matahari total yang mengajak seluruh umat muslim untuk bermuhasabah dan banyak berdoa. Inilah penampakan gerhana matahari di kota Denpasar.

Malam nanti kami akan menikmati keheningan malam di hari catur brata umat Hindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut