Kamis, 04 Februari 2016

MELODI SANG BIDADARI

Senja di bulan Ramadhan,dua tahun lalu, tak sengaja mataku tertumbuk pada sepasang pria wanita berbeda usia yang tampak begitu menarik.  Bukan sang pria yang membuatku tertegun, namun senyum di wajah wanita itu.  Sesaat kami beradu pandang, dia tersenyum ramah padaku meski kami tak saling mengenal.  Entah kenapa hatiku seperti tertaut padanya. Pada senyum manisnya yang penuh kelembutan, pada tawanya, serta semangat yang tampak dari wajahnya yang manis.

Hari itu kali pertama aku berbuka di Masjid Al Qomar di kota Denpasar, dan seperti ada daya tarik yang mengajakku untuk sholat di sana.  Seperti halnya hatiku yang tertaut pada sosok yang membawa keteduhan saat ku pertama melihatnya.
Yuni, nama wanita itu.  Seorang wanita yang mengingatkanku pada seorang sahabat yang sudah kuanggap seperti kakak bagiku. Mungkin itulah yang membuat hatiku langsung klik.  Lewat sebuah perkenalan singkat kami menjalin persahabatan.  Dia memang wanita yang menarik, lembut, periang dan penuh semangat.  Dia menyebarkan aura positif di sekelilingnya.
Lewat sebuah bincang singkat, aku mengetahui bahwa dia menderita penyakit kanker payudara namun entah stadium berapa. Dia hanya bercerita sedikit tentang sakitnya bahwa ia menganggap sakitnya adalah bagian darinya yang juga harus diterima dengan ikhlas dan baik, menempatkan sakitnya bukan sebagai musuh, melainkan sahabat.
Hmm..baru kali ini aku mendengar seseorang yang bahagia menyambut sakit. Tak ada kesedihan sedikitpun di matanya.  Hanya semangat yang terpancar.
Pertemanan kami kian dekat, kami acap bertemu di masjid yang sama dan berbagi semangat. Aku mengajaknya untuk menuliskan apapun.  Berkenalan dengan teman - temanku sesama blogger, serta berbagi cerita.
Kami bahagia, saat suatu hari dia mengatakan bahwa penyakit kanker payudaranya sudah sembuh menurut seorang profesor berinisial W yang membuka praktek di bilangan Jakarta dan selama ini memberikan terapi pengobatan non medis padanya.  Menurut mba Yuni, alat yang menyalurkan gelombang listrik itu telah memberi kesembuhan padanya.
Meski terkejut dan hampir tak percaya, kami sangat bahagia mendengar berita itu.
Rupanya pertemuan itu menjadi kebersamaan kami yang terakhir.  Sejak itu kami tak pernah mendengar kabarnya hampir dua bulan lamanya.  Semua nomornya tak aktif, kami lost contact. Sampai akhirnya suatu hari, rindu itu tak mampu tertahan, rindu pada celoteh riangnya dan semangatnya untuk berbagi. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba menjalar, sampai suatu ketika sebuah telpon dari seorang teman membuatku terkejut, ternyata, sang bidadari berhijab itu tengah terbaring lemah tanpa daya sejak dua bulan terakhir.  Kesehatannya memburuk tiba- tiba sejak dua hari setelah kunjungannya ke rumah singgah untuk pasien kanker anak.  Tanpa dia sadari, sel kanker yang dianggapnya telah sembuh sudah bermetase ke seluruh tubuhnya dan menyebabkan rasa sakit tiada tara sampai dia harus memukul kakinya dengan gagang sapu hingga patah.  Betapa dahsyat sakit yang dideritanya, namun aku tak melihat sedikitpun kesedihan dan sesal, di wajahnya yang berubah tirus.  Meski tubuhnya tinggal kulit berbalut tulang dan seluruh paru-larinya dipenuhi cairan, dia masih saja membisikkan kata -kata indah dan penuh motivasi laiknya melodi bidadari.
Hari itu, hari terakhir aku bertemu dengannya.  Dia seolah raib ditelan bumi.  Dia tak ingin membagi sakitnya dengan siapapun. Dia memutuskan silahturahmi setelah sebelumnya pamit akan berobat ke surabaya.
SAHABAT...dimanapun kamu berada..semoga hari ini dan seterusnya Allah selalu bersamamu.
With Love from Bali
Just for You Yuni Aisha

Tidak ada komentar:

Total Absen

Pengikut