Senin, 01 Februari 2016

FILM ENGELINE, TONGGAK TERCIPTANYA PROVINSI RAMAH ANAK




Kasus kekerasan pada anak kian marak terjadi.  Pelaku bisa berasal dari keluarga sendiri ataupun lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.  Kemajuan teknologi yang kian canggih, himpitan ekonomi, dan pola asuh yang tidak sesuai nurani menjadi pendorong terjadinya beberapa kasus kekerasan pada anak. Siapa yang harus disalahkan bila itu terjadi? Pelaku-kah?
TIDAK!
Sesungguhnya tanggung jawab terhadap perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya keluarga, melainkan juga seluruh masyarakat.  Siapapun yang melihat, dan mendengar tindak kekerasan pada anak, wajib mengambil tindakan pencegahan hingga pelaporan pada pihak yang berwajib. 
Budaya masyarakat yang sebagian masih berpandangan bahwa mendidik anak yang baik adalah dengan kedisiplinan tinggi, terkadang menimbulkan celah terjadinya tindak kekerasan pada anak bila orangtua salah memahami konteks kata “disiplin”.  Sebagian masih berpendapat bahwa disiplin dan ketegasan dapat ditunjukkan dengan memberi sebuah peringatan keras saat anak melanggar peraturan berulang kali.  Peringatan keras inilah yang acap diwujudkan dengan bentakkan, pukulan dan cubitan pada anak, yang tanpa mereka sadari dapat membuat anak mereka terluka jiwanya maupun fisiknya.
Kisah Engeline, seorang anak yang diadopsi pasangan suami istri, dan kemudian ditemukan dalam keadaan meninggal dan dikubur di halaman rumah, merupakan sebuah bukti lemahnya peran masyarakat sebagai fungsi kontrol dalam perlindungan anak.  Masyarakat yang mengetahui tindak kekerasan terjadi, tak jua mengambil tindakan preventif untuk mencegah ataupun melindungi, dengan alasan tidak memiliki hak terhadap anak tersebut (pihak luar).  Mereka khawatir akan terjadi sebuah perselisihan bila ikut campur dalam masalah tersebut.  Hal ini sudah menjadi budaya sungkan yang telah mengakar pada sebagian besar masyarakat.  Barulah setelah peristiwa terjadi, laporan akan berbondong-bondong muncul.


Kak Seto di sedang menjelaskan tentang Film "Untuk Engeline"


Diskusi Santai Insan Media, bersama Kru Film dan kak Seto


Sesi Foto bersama


Kak Arul dari KabarIndo Memandu Diskusi Menjadi Menarik




Lele Laila, Sineas Muda Berbakat 

Minggu, 31 Januari 2016 kemarin,bertempat di Hotel Harmony Sunset road Kuta Bali, kami para insan media baik online maupun cetak mendapat undangan untuk menghadiri pers conference dan bincang santai bersama seorang pemerhati anak yang cukup melegenda dengan kisah si KOMO-nya.  Beliau adalah Kak Seto, Lelaki yang mengabdikan hidupnya demi anak-anak di manapun berada.  Di usianya yang mulai semakin matang, Kak Seto terlihat masih sangat energik dan segar. Suaranya pun masih terdengar lepas dan merdu saat bernyanyi.  Acara yang diselenggarakan oleh kak Arul seorang blogger dari Koalisi Online Pesona Indonesia atau disingkat KOPI ini, dihadiri juga oleh  kru Film “Untuk Engeline”, dan Ibu Hamidah selaku Ibu kandung dari Engeline.  Sosok ibu yang telah lama merindukan putrinya, namun kemudian dia mendapati kenyataan lewat media bahwa buah hatinya telah menjadi korban tindak pembunuhan dan kekerasan pada anak.
Hati ibu mana yang takkan hancur mendengarnya? Andai dia tahu nasib putrinya akan berakhir seperti ini, tentu dia takkan pernah melepaskan putrinya ke tangan orang lain. Tapi semua tak dapat diulang, Engeline telah pergi dan meninggalkan banyak kepedihan, empati mendalam, serta penyesalan tak putus. Namun di masyrakat masih banyak Engeline yang lain yang harus dilindungi dan diselamatkan.
Kekhawatiran inilah yang kemudian ditangkap oleh seorang sineas muda Lele Laila, untuk mengangkat kisah ini menjadi sebuah film “Base True Story” dengan tujuan memberi peringatan kepada masyarakat tentang tanggungjawab perlindungan anak.  Pada awalnya niat ini disambut baik oleh segenap masyarakat, namun di pertengahan jalan mendapat penolakan dari beberapa pihak salah satunya adalah Gubernur Bali yaitu Made Mangku Prastika karena beberapa alasan, salah satunya adalah proses sidang yang belum selesai.  Hal ini tentu saja membuat bingung ibu Niken Septasari yang bertindak sebagai produser Film “Untuk Engeline” beserta kru film-nya.
Ada apa di balik pro dan kontra pembuatan film “untuk Engeline”?
Benarkah ibu Engeline menjual kisah anaknya untuk uang seperti anggapan yang berkembang di masyarakat?
Ataukah ada pihak –pihak yang bermain, ada kepentingan-kepentingan yang merasa terganggu dengan penayangannya?
Tentu sebuah tuduhan yang keji sekali bila kita mengatakan seorang ibu yang menderita karena kehilangan anaknya telah menjual kisah anaknya demi uang.  Di hadapan kami, Ibu Hamidah menuturkan ungkapan hatinya dengan linangan air mata dan membuat kami yang hadir tak sanggup menahan butir –butir kristal keluar dari sudut mata kami.
“Sungguh!! .Saya tidak pernah menjual anak saya untuk uang.  Saya menyetujui kisah ini difilmkan agar tidak terulang dan menimpa anak lain”
Benar, film ini dapat menjadi monumen peringatan bagi kita untuk tidak melakukan kekerasan pada anak.  Menurut Mas Sony seorang Budayawan yang juga hadir, sebuah film adalah karya sastra dan sudah seharusnya tidak boleh di larang pembuatannya dan  peredarannya, seperti film Arie Hanggara yang pernah tayang dan menjadi salah satu film yang wajib ditonton para orangtua, guru dan pelajar saat itu.
Nah, film besutan Lele Laila ini nantinya diharapkan dapat menjadi tonggak terciptanya Provinsi Ramah Anak yang dicita-citakan oleh Kak Seto.  Penayangan film ini diharapkan dapat membuka mata masyarakat bahwa anak adalah anugrah yang dititipkan Tuhan pada kita untuk dididik dan dilindungi dengan cinta.  Sebab menurut pemerhati anak legendaris ini, upaya perlindungan anak takkan berjalan maksimal tanpa adanya peran masyarakat sebagai fungsi kontrol di lingkungan tempat tinggal.  Kak Seto juga menjelaskan bahwa anak yang dirawat dan dididik penuh cinta, akan tumbuh menjadi anak yang hebat dan membanggakan dan sebaliknya, anak yang dididik dengan kekerasan akan tumbuh menjadi anak yang memiliki temperamen keras dan kasar.  Bila seorang anak dididik dengan keras bisa sukses sebagai manager, mungkin bila dia dididik dengan cinta, dia bisa menjadi seorang presiden yang di cintai rakyatnya.
Untuk mewujudkan itu semua, setiap desa sebaiknya membentuk sebuah satgas perlindungan anak, yang bertugas untuk terus mengawasi agar tidak terjadi tindak kekerasan pada anak seperti kisah Arie Hanggara, maupun kisah Engeline.  Mari kita buka mata masyarakat melalui film “Untuk Engeline”, dukung agar film ini bisa ditayangkan tepat di hari Anak nasional.  Jangan biarkan kejahatan anak terulang!
Save anak indonesia!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut