Sabtu, 02 Januari 2016

MENIKMATI KEMEWAHAN RUANG ICU

Sakit, adakah yang ingin mengalaminya?  Tentu tidak!! Demikian pula dengan saya.  Bila boleh memilih, saya ingin memilih hidup sehat selamanya tanpa sakit.  Tapi itulah manusia, selalu ingin yang enak saja tanpa mau menanggung resiko dari perbuatannya.
Saat sehat, berbagai himbauan tentang bagaimana menjaga kesehatan tubuh sering kita abaikan.  Malas berolahraga, tidak mau menjaga pola makan sehat, dan tidak memberikan ruang bagi hati dan pikiran untuk rehat sejenak.  Manusia baru menyadari betapa pentingnya sehat setelah sakit datang mencumbunya..  Mungkin itu pula yang akhirnya mengantar saya ke ruang ini.  Ruang perawatan Intensif Care Unit (ICU).

Loh...kok bisa? sakit apa? Kenapa sampai masuk ICU segala? Parahkah sakitnya?

Berbagai tanya seperti itu spontan terlontarkan dari bibir para sahabat dan teman yang mendengarnya.  Tidak salah sih bila mereka terkejut, selama ini mereka atau kita semua memahami bahwa ruang ICU adalah ruang perawatan khusus untuk pasien-pasien yang penyakitnya sudah sangat parah dan hampir tidak bisa apa -apa sehingga membutuhkan perwatan kelas 1 dan perhatian khusus.  Lalu kenapa aku bisa masuk di ruang ini, dan bagaimana rasanya?  Baiklah... saya akan berbagi cerita dari awal, asal teman-teman sabar menyimak.

Sakit Magh..oh..Magh.
Gangguan lambung ini sudah saya derita sejak duduk di bangku SMA dan konon kata dokter, penyakit saya tergolong magh yang sudah akut dan mudah sekali muncul saat keadaan otak penuh dengan pikiran alias stres, baik karena pekerjaan maupun karena hal lain yang menjadi pemicu timbulnya gejala perut melilit disertai sakit di ulu hati, mual, perut kembung dan rasa sebah pada perut.. Selama ini, saya dan para dokter yang menangani saya meyakini bahwa keluhan nyeri perut saya disebabkan oleh karena gangguan lambung, sehingga cukup dengan menjaga makanan dan mengkonsumsi obat lambung semua akan kembali normal.  Begitulah selalu selama hampir 20 tahun berjalan.  Sampai akhirnya suatu hari saya mengalami nyeri pada semua sendi saya, pinggang belakang, disertai keluarnya urine yang mengandung darah yang memaksa dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam lewat serangkaian tindakan medis, salah satunya adalah uji lab dan USG abdomen.  Hasil pemeriksaan sungguh mengejutkan karena ditemukan adanya peradangan pada kantung empedu dan ditemukan dua buah batu empedu di dalam kantung yang bergesekkan dengan dinding empedu. Inilah yang akhirnya menimbulkan luka pada dinding empedu dan menyebabkan urine berdarah serta nyeri hebat yang saya alami beberapa tahun terakhir. Menurut dokter radiologi yang menangani saya, kondisi seperti ini umum terjadi pada golongan orang yang introvert, yang suka menyimpan masalahnya sendiri sehingga menyebabkan garam empedu di tubuhnya menjadi mudah menggumpal dan menjadi batu.  Nah lho... hayoo siapa yang suka menyimpan masalah?  Hmm sebaiknya jangan diulangi sebab tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik sharelah masalah Anda pada Sang Pemilik Jiwa (Allah SWT) dan bila merasa belum ringan juga, bicarakanlah pelan-pelan dengan orang terdekat yang bisa anda percaya, sebab bila pikiran dan hati anda terlalu penuh penyakit akan mudah sekali menyerang kita, diantaranya adalah stroke, magh, jantung, dan batu empedu.

Batu empedu?  Apa sih penyebabnya?

Tidak ada komentar:

Total Absen

Pengikut