Sabtu, 07 September 2013

ANUGRAH DI BALIK DERITA



“Tuhan, kalau boleh aku memilih...biarlah aku memiliki apa yang sudah kumiliki saat ini(Farhan).”
Begitulah pintaku saat aku hamil untuk yang kedua kali di luar perencanaan kami.  Secara psikologi aku memang belum siap untuk kembali hamil. Himpitan ekonomi yang kami alami membuatku begitu gamang, terlebih lagi statusku sebagai menantu yang belum diakui keberadaannya.  Bagaimana nasib anak-anakku kelak, bila mereka tidak mendapat pengakuan dari keluarga suamiku? 

Kehamilan ini memang di luar rencana.  Alat kontrasepsi yang kugunakan tak berfungsi maksimal sepertinya.  Sementara putra sulungku masih berusia 2 tahun dan sering sakit-sakitan.  Tak terbayang bagaimana hari-hariku esok dengan hadirnya anggota baru di keluarga kami.
Sejak trimester pertama kehamilan, tubuhku cenderung lemah dan sering sakit, tak seperti kehamilanku yang pertama.  Hingga mendekati waktu kelahiran aku tak jua merasakan tanda-tanda akan lahir. Ada ketakutan yang menderaku...takut akan datangnya ajal seperti saat persalinan pertamaku dulu.  Mungkinkah persalinan ini akan menjadi waktu terakhir untukku?  Berbagai pikiran negatif berputar dalam otakku.  Rasanya aku belum puas memeluk dan menjaga sulungku, haruskah aku meninggalkannya kali ini?
Kehamilanku memang kehamilan yang beresiko, karena tulang panggulku yang sempit proses kelahiran harus melalui bedah cesar.  Sementara tubuhku tidak kuat dengan bius epidural yang disuntikkan ke dalam punggungku hingga selalu membuatku tak bisa bernafas hingga jantungku pun berhenti berdetak.  Pengalaman ini sungguh membuatku takut menghadapi persalinan.
Tepat jam 22.00 WIB, melalui sebuah operasi cesar di sebuah rumah sakit Angkatan Darat, lahirlah sesosok bayi laki-laki mungil nan tampan, berkulit putih yang akhirnya kuberi nama Favian Attar Firdaus.  Bayi yang sempat kuragukan statusnya sebagai anakku.
 
Aneh ya?  Biasanya seorang ayah yang meragukan apakah seorang anak itu anaknya atau bukan.  Tapi ini seorang ibu yang memang dari rahimnyalah Allah menitipkan anak-anak yang harus didik dan dijaga.
Aku memang sempat meragukan kalau bayi itu adalah putraku.  Aku berpikir mungkin saja dia adalah bayi yang tertukar, karena ada beberapa proses persalinan kala itu.  Apalagi bayi itu berkulit putih dan tampan, tidak seperti kulit kami yang coklat.  Matanyapun sipit tidak seperti mata kami.  Perawat dan Bidan meyakinkanku bahwa itu memang putraku.
Saat kepulanganku dan bayiku, aku melihat ada keanehan padanya.  Tubuhnya kuning.  Aku mencoba menanyakan pada bidan yang bertugas, namun dia meyakinkanku bahwa itu adalah gejala yang normal dan akan hilang dengan sendirinya bila dijemur dan diberi asi yang banyak.
Ternyata semakin hari tubuhnya semakin kuning, nafasnya sesak dan fesesnya cair.  Aku pun membawanya ke rumah sakit.  Dokter menyarankan untuk rawat inap karena kondisinya.  Sejak itu kondisinya selalu berada dalam pantauan dokter.  Keluhan demi keluhan acap terjadi.  Tubuhnya sering batuk dan sesak.  Sampai suatu ketika tubuhnya membiru karena kekurangan oksigen.  Bayiku mengidap Bronchopneumonia.  Penyakit mengerikan yang banyak merenggut jiwa kecil tak berdosa.
“Tuhan...dosa apa yang kulakukan hingga menerima cobaan ini?”tanyaku dalam hati kecilku seolah tak pernah berbuat dosa.  Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun berikutnya kuhabiskan di sekolah kehidupan yang bernama Rumah Sakit.  Bayi kecilku nan tampan sering sekali menginap di sana setiap kali flu melandanya.  Kepalanya panas hingga berbulan-bulan lamanya. Sedikit  saja tubuhnya terpapar virus, dapat dipastikan bahwa kami harus kembali belajar di sekolah kehidupan.
Aku merasa hidupku terampas.  Waktuku tersita, sulungku terlantar.  Percayakah teman?  Ada seorang ibu yang benci pada anakknya yang tak berdosa? Itulah aku.  Aku membencinya.  Karena telah memisahkanku dengan putra sulungku dan memenjarakanku dalam rumah sakit bertahun-tahun lamanya.
Ada rasa lelah yang menderaku.  Jenuh dan bosan menghadapi kehidupan rumah sakit yang tampak sama dan tak menyenangkan buatku.  Sampai suatu ketika aku dipertemukan dengan sesosok ibu yang begitu tabah dan sabar.  Dia menghabiskan waktunya bersama putri kecilnya yang juga mengidap bronchopneumonia dan kelainan pertumbuhan.  Di usianya yang menginjak 5 tahun putrinya belum bisa berjalan dan bicara.  Tubuhnya kecil dan lemas tak bertenaga.  Namun wanita ini menyayanginya dengan sepenuh jiwa, mendampinginya seorang diri.
Aku belajar...aku belajar padanya.  Hingga membuatku merasa malu dan bersalah pada putra kecilku yang tak berdosa, yang tak kuberi kasih sayang dan tempat di hati.  Sepertinya bayiku dapat merasakan perasaanku, hingga dia tak mau denganku.  Dia hanya akan tidur bila sang ayah mendekapnya.  Dia tidak mau meminum air susuku.  Dia tak pernah menangis walau sakit menderanya.  Dia hanya bisa tersenyum dan tertawa.  Dia yang selalu menguatkanku kala sedih menderaku, meyakinkanku untuk kuat dan tak menangis, meyakinkanku bahwa kesembuhan dirinya pasti tiba dan dia kuat menjalani sakitnya.
 Favian Dalam Pelukan Sang Ayah
 
Subhanallah...bocah berusia 2 tahun sudah bisa berkata seperti itu.
Sampai pada suatu hari, Allah hampir mengambilnya dariku.  Tubuhnya diam tak bergerak.  Tak kurasakan hembusan nafasnya, sementara detak jantungnya begitu lemah.  Rabb...apa yang terjadi dengan putra kecilku?
Mungkinkah Allah marah karena aku telah menyia-nyiakannya selama ini dan hanya menyayangi sulungku?
Tiba-tiba aku begitu sedih dan takut kehilangan, dokter dan perawat begitu panik melihat kondisi putraku dan aku yang mulai lemas lunglai.  Hampir tak ada harapan.  Berbagai cara tak mampu menyadarkan putraku dari tidur lelapnya.  Terlihat betapa dia begitu damai.
Please ...Rabb!  jangan ambil putraku.  Aku menyayanginya!  Aku memang bersalah...tapi ijinkan aku bertukar nyawa dengannya.  Doaku dalam hati.  Kudekati wajahnya yang mulai dingin, kucium dengan bertubi-tubi.  Kubisikkan di telinganya,”Bangunlah nak,  Bunda amat sayang padamu.  Bunda tak ingin kehilanganmu sayang.  Kembalilah... kepelukan bunda!”
Air mata mulai menetes deras di pipiku.  Dokter dan perawat segera melakukan tindakan penyelamatan kembali, saat air mataku jatuh membasahi pipinya...bocah kecil itu membuka matanya perlahan.  Tatapan matanya begitu bersinar penuh bahagia, senyum manis tersungging di bibirnya.  Terdengar suara lirih dari bibir mungilnya...
“Bunda...jangan sedih.  Adek sehat, adek hanya tidur, katanya lemah dan diapun memejam kembali.  Selang-selang oksigen dan infus mulai terpasang di tubuhnya.  Malam itu dan 9 malam berikutnya kami menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menjaganya.
Tahukah teman, tak ada masalah tanpa jalan keluar, tak ada penyakit tanpa obat, tak ada siang tanpa malam, tak ada terang tanpa gelap.  Aku menjalani masa-masa kelam hidupku yang jauh dari keluarga dan kasih sayang, mengalami saat-saat penolakan dari mertua, mengalami masa-masa sulit ekonomi yang kupikir begitu berat bagiku.
Perlahan...saat aku mulai menyayanginya, saat aku mulai belajar menerima hidup, gelap berubah menjadi terang, hidupku menjadi lebih bermakna, rezeki mengalir begitu deras, masalah demi masalah terpecahkan satu persatu.
Allah mendatangkan ujian bagiku agar aku kuat dan dia memberikan Favian Attar sebagai penawar luka, sebagai penghiburku di kala sedihku.  Sosok kecil yang dulu sempat kutolak hadirnya justru memberiku kekuatan yang luar biasa padaku.  Dia memujiku, dia menguatkanku, dia menyanjungku dan menghiburku dengan caranya.
Saat ku sibuk, ditawarkannya bantuan
Saat ku bersedih diusapnya air mataku sambil menguatkanku dengan kasih sayangnya
Sosok itu adalah anugrah Allah untukku
Sosok itu kini selalu mengisi hari-hariku
Kutuliskan tentangnya di setiap lembar kisah yang kugoreskan
Kuselipkan doa di setiap hela nafasku untuknya dan sulungku
 Favian dan Sang Kakak M. Farhan
Sepertinya dia terlahir dengan kasih sayangnya yang besar pada sesama mahluk ciptaan Allah.  Dia begitu sayang tidak hanya pada temannya, tetapi juga pada semut yang acap menjadi ancaman bagi jiwanya.
Pernah suatu hari rumah kami diserang semut yang sedang migrasi.  Besar sekali.  Khawatir akan menggigitnya, aku menyapu semut-semut itu keluar.  Tapi apa yang terjadi?
Favianku melarangku, katanya aku akan menyakiti semut-semut itu dengan menyapunya.  Diambilnya semut itu satu persatu lalu diletakkan dalam genggamnya untuk dipindah ke luar, namun kuambil dengan paksa karena khawatir semut akan menggigitnya dan membuat tubuhnya bengkak seperti dahulu dan membuat nafasnya terhenti.  Favian begitu bersedih, dia pergi membawa semut-semut itu ke balik korden rumah.
 Favian selalu Ceria
Kudengar suara isak tangisnya, lamat-lamat kudengar dia berbincang dengan semut
“semut..maafkan bundaku ya, ...hiks kamu sakit ya disapu Bundaku?  Bundaku sebenernya baik..maafin ya.  Kamu sekarang pergi yang jauh biar tidak disapu bunda”
Tak jarang aku melihatnya menyuapi semut-semut bessar itu, meberikannya tempat tidur dan menina bobokannya.  Pun demikian dengan binatang lainnya, ulat, kucing, ayam, burung dan ikan.  Dia selalu menyempatkan untuk berbincang dengan hewan-hewan itu.  Pertanda apakah ini?
Aku belajar banyak dari sosok kecil itu, tentang keyakinan, kesabaran, keikhlasan dan kekuatan dan kasihsayang.  Sering sekali dia membisikkan kata-kata agar aku selalu sehat dan kuat sambil mencium pipiku.
Setiap dia terbangun dari tidur, ucapan salam tak pernah luput dari bibirnya
“assalamu alaikum Bunda... Adik sudah bangun” katanya lembut.  Atau tak jarang di memanggilku dengan panggilan Bundaku sayang,  jaga kesehatan ya...jangan capek-capek biar ngga sakit.
Subhanallah... rasanya meski puluhan pena bertinta kugunakan tuk menggoreskan tintanya, takkan pernah cukup tuk melukiskan rasa syukurku memilikinya.  Dia yang dulu hadirnya kuanggap sebagai ujian ternyata adalah anugrah yang Allah hadiahkan padaku.  Dibalik setiap pengorbananku untuknya ada setangkup bahagia yang dia berikan padaku.
            Terima kasih Ya Rabb...kau beri aku kesempatan untuk menjaganya dengan sepenuh jiwaku.


Tidak ada komentar:

Total Absen

Pengikut