Rabu, 28 Agustus 2013

Fakta Di Balik Miripnya Relief Candi Angkor Wat dan Candi Borobudur




            Pada tanggal 7 Juli 2007 Yayasan New 7 Wonders menetapkan candi Angkor Wat sebagai salah satu finalis bangunan yang termasuk dalam 7 keajaiban dunia.  Meski akhirnya tidak terpilih dalam 7 keajaiban modern dunia, nama candi ini sempat menarik perhatian sebagian besar kalangan terutama saya sabagai orang awam.  Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa Candi Angkor Wat memiliki kemiripan relief dengan candi Borrobudur yang dibangun berabad-abad sebelum pembangunan candi Angkor Wat.  Sebenarnya apa yang menyebabkan adanya kemiripan tersebut?  Yuk kita telaah satu persatu sejarah dari masing-masing candi ini.
            Mendengar kata candi, yang terlintas dalam ingatan saya adalah jajaran candi-candi yang ada di Indonesia seperti Borrobudur, yah maklum saja saya belum pernah datang dan mengunjungi candi Angkor Wat yang sempat dipuji-puji oleh Henri Mahout, seorang ahli tumbuhan asal Prancis yang mengatakan bahwa kuil ini lebih indah dari Kuil Raja Sulaiman.  Selama ini saya memahami Borrobudur sebagai candi yang terbesar di Indonesia dan sangat menawan.  Candi yang dibangun pada abad ke-9 ini berada di wilayah Magelang tepatnya 3 km dari Ibukota kabupaten Magelang yaitu Kota Mungkid.
            Candi Borrobudur berdiri pada zaman Raja Samaratungga yang merupakan Raja Mataram yang berasal dari wangsa Syailendra.  Pembangunan dimulai pada tahun 824 M dan baru selesai setengah abad kemudian saat pemerintahan Ratu Pramudawardhani.  Merupakan peninggalan Agama Budha dan menjadi object wisata agama yang paling banyak dikunjungi setiap tahunnya.
gambar dipinjam dari sini
            Sementara Candi Angkor Wat merupakan bangunan kuil yang dibangun pada sekitar abad ke-12 M yang terletak di kota Angkor, Kamboja.  Kuil yang digunakan sebagai simbol bendera Kamboja sejak tahun 1863 ini selesai dibangun setelah 30 tahun kemudian, lebih cepat dari pembangunan candi Borrobudur.  Sekilas kuil ini mirip seperti pyramid yang besar dengan pagar berbentuk ular raksasa yang melambangkan kesuburan.  Kuil yang terdiri ddari beberapa bangunan tinggi dan beberapa bangunan kecil disekelingnya memiliki tiga lantai dan lima menara.  Pada dindingnya terdapat ukiran-ukiran yang melukiskan mitologi Hindu.  
 Gambar dipinjam dari sini
            Angkor wat adalah kuil yang berdiri pada zaman Raja Suryavarman dan merupakan bangunan keagamaan terbesar di dunia dan satu-satunya hasil binaan yang terbesar di Asia Tenggara.  Kuil ini meletakkan gunung Meru sebagai pusat dunia dan tempat dewa-dewi Hindu menetap.  Pada dindingnya terdapt relief yang menggambarkan Raja Suryavarman, pasukan Khmer dan relief negara dan surga.  Patung Dewa Wisnu menjadi hiasan utama di salah satu ruangan yang terdapat pada bangunan pertama kuil ini.
Kota Angkor tempat kuil ini berdiri merupakan ibukota Kerajaan Khmer dan sejarah Ankor wat dimulai sejak berdirinya Kerajaan Funan, yaitu kerajaan yang dibentuk oleh seorang warga India.  Kuil yang awalnya merupakan kuil agama Hindu ini pada akhirnya difungsikan sebagai tempat ibadah agama Budha.
Nenek moyang negara indonesia yang memang merupakan seorang pelaut telah mengenal hubungan kerjasama sejak dahulu.  Tak dapat dipungkiri bila ada kemiripan antara kedua kuil ini satu sama lain, karena kedua negara ini merupakan negara yang memang dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Budha serta rumpun yang sama.
Adanya kesamaan budaya menyebabkan adanya kemiripan pada setiap relief yang terukir pada bangunan keagamaan yang dimiliki.  Kita sudah diajarkan tentang bagaimana menjalin hubungan dan kerjasama antar bangsa sejak jaman raja-raja bahkan mungkin sejak awal adanya kehidupan di negeri ini.  Kerjasama inilah yang melahirkan kemiripan dan kesamaan budaya seperti halnya kerjasama yang dilakukan oleh negara-negara ASEAN saat ini.
Sebagai anggota ASEAN blogger saya berharap bahwa kerjasama lebih ditingkatkan tidak hanya sebatas kenegaraan saja, melainkan juga dalam hal meneliti bukti-bukti sejarah, kemajuan iptek dan peningkatan kualitas generasi muda, diantaranya adalah:
1.      Meningkatkan kuota peserta pertukaran pelajar
2.      Melakukan kerjasama dalam meneliti sejarah
3.      Melengkapi sumber-sumber informasi masing-masing tempat wisata di tiap negara melalui internet agar mudah diakses siapa saja dengan menuliskannnya lewat Blog  yang bisa di share

#10DayForASEAN#2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut