Senin, 06 Maret 2017

Transportasi Online VS Konvensional, Apa Kata Penumpang?

  Foto by Richoku

Pagi ini suasana di depan Balaikota Malang tampak dipadati kendaraan berwarna biru.  Rupanya sedang berlangsung Demo angkutan umum menolak kehadiran "transportasi online".  Demo yang bukan pertama kali terjadi ini memang cukup ramai diberitakan mulai beberapa minggu lalu.  Keberatan para supir transportasi konvensional ini dilatarbelakangi oleh semakin sepinya penumpang yang menggunakan jasa mereka untuk sampai ke tujuan.  Menurut mereka penyebabnya adalah keberadaan transportasi online seperti Gojek, Uber dan Grab.

Tuntutan demo kali ini sepertinya harga mati.  Para pendemo menuntut kepada walikota untuk mencabut ijin operasi ojek online.

             Foto by Richoku.com

Murahnya tarif yang dibebankan pada penumpang membuat mereka lebih memilih transportasi online dibandingkan angkot atau ojek pangkalan.  Tapi benarkah demikian alasan penumpang? Rasa penasaran mengusik saya untuk bertanya dan melakukan semacam jajak pendapat terhadap beberapa pengguna angkutan umum baik online maupun offline.  Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sempat di tanyakan pada para pengguna jasa transportasi

Transportasi Online, Perlukah?

Kehadiran transportasi online memang tak ubahnya dua sisi mata uang.  Satu sisi kehadiran moda transportasi ini sangat membantu para penumpang yang tidak memiliki kendaraan atau tidak bisa menyetir seperti saya.  Munculnya transportasi online membuat saya lebih mobile beraktivitas dan tidak harus naik turun kendaraan di saat hujan.  Bukan itu saja, pelayanan yang diberikan juga cukup memberi kepuasan.  Armadanya lebih terawat dan mereka lebih hati-hati mengendarai kendaraan sehingga penumpang pun merasa nyaman.  Enaknya lagi mereka bisa jemput hingga ke depan rumah.  Entah bagaimana aktivitas saya tanpa bantuannya, mungkin saya akan terus membuat repot suami.

Tetapi di sisi lain kehadirannya memberi imbas berkurangnya jumlah pengguna transportasi konvensional, namun persentasenya tidak diketahui berapa besarnya.  Sebenarnya berkurangnya jumlah penumpang angkutan umum sudah berlangsung jauh sebelum masuknya transportasi online.  hal ini disebabkan tingkat pendapatan rumahtangga yang semakin baik, sehingga sepeda motor tidak lagi menjadi barang mewah.  Hampir setiap rumah memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor.  Kalau melirik pada poin ini sepertinya transportasi online hanyalah kambing hitam saja.

Joko mengatakan bahwa kemajuan teknologi membuat kita harus siap menerima perubahan termasuk dalam masalah transportasi ini.  Kini hampir semua lini usaha digerakkan dengan basis online.  Pendaftaran sekolah, warung makan, bahkan mall pun kini hadir secara online.  Semua tidak lain karena tuntutan pasar yang harus dipahami oleh para supir transportasi konvensional


Bagaimana pendapat ibu tentang demo angkutan hari ini?

Rahayu (35), seorang ibu rumahtangga menjawab," yah tentu saja saya susah kalau semua angkot demo.  Bagaimana tidak, saya setiap hari mengandalkan jasa angkutan umum untuk bepergian.  Maklum saya tidak bisa nyetir sepeda maupun montor (istilah orang malang untuk kendaraan roda 4).  Nah kalau semua demo, gimana saya bisa jemput anak sekolah, belanja ataupun melakukan aktivitas bepergian?  Sebel deh!"

Lain lagi pendapat Rangga (bukan nama sebenarnya).  Pemuda  berusia 28 tahun ini berpendapat demo seperti ini harusnya tidak terjadi karena menurut dia, setiap moda transportasi punya massanya sendiri.  Tak semua orang punya aplikasi gojek, ataupun taxi online, so pastinya tidak semua orang bisa menggunakan jasa transportasi online.

Alasan-alasan tersebut bisa diterima, namun ternyata ada beberapa isu yang berkembang di kalangan para supir angkot yang akhirnya membuat mereka merasa penumpangnya dirampas.  Isue isue tersebut antara lain
1. adanya oknum ojek online yang "nakal" dan sengaja mangkal untuk menjaring penumpang
2. Tarif yang terlalu murah dan tidak sehat dalam persaingan

Menyikapi masalah ini, memang ada baiknya dilakukan cek ricek dan penertiban di perusahaan armada ojek dan taxi online terhadap para supirnya.  Mereka sebaiknya hanya mengambil penumpang yang memang memesan lewat online, bukan mangkal seperti ojek pangkalan.

Para penumpang sendiri sebenarnya mereka berharap agar angkutan konvensional bisa bijak menyikapi masuknya angkutan online ini, caranya adalah dengan meningkatkan layanan pada konsumen, jangan ugal-ugalan saat nyetir, jangan ngetem terlalu lama dan banyak lagi keluhan mereka terhadap para supir ini.  Rupanya pengusaha angkutan online ini bisa menangkap keluhan ini sebagai peluang dengan mencoba menghadirkan sebuah moda transportasi yang ramah penumpang.

Hal ini adalah sebuah tantangan bagi para supir angkot..mampukah mereka memperbaiki kualitas layanan?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut