Senin, 30 Januari 2017

Kabut Senja Di Paralayang dan Omah Kayu



"Stop!"

Seorang pria mencoba menghadang laju kendaraan kami.  Tubuh mereka berbalut jaket tebal dengan penutup kepala terbuat dari rajutan woll.  Seketika kami pun berhenti.  Pria berjaket biru dengan sebatang rokok di tangan kian dekat ke hadapanku. Kujejakkan kedua kakiku ke tanah, perlahan aku menghampirinya.

" Maaf kalian mau kemana?" tanyanya.  Kutangkupkan kedua tanganku di dada layaknya orang  Jawa.
" Kami rombongan blogger dari MalangCitizen.com. Tujuan kami ke sini adalah menikmati pesona Paralayang dan Omah kayu" tuturku sedikit panjang kali lebar. (tidak perlu dikali tinggi ya guys 😆).  Sejenak para penjaga loket itu saling pandang.

"Ok. Bu silakan"
Akhirnya mereka pun mengizinkan kami melanjutkan perjalanan.  Rupanya hari itu kami sedang beruntung.  Seorang teman mentraktir kami tiket masuk Paralayang dan rumah kayu.  Lumayan, kami bisa saving Rp.15.000/ orang untuk menikmati keindahan panorama alam.








Setelah menempuh jalan tanah yang menanjak dan berliku, akhirnya kami pun tiba di sebuah dataran yang cukup luas. Ada puluhan kendaraan bermotor yang parkir disitu.  Kami pun melakukan hal yang sama (parkir).  Sore itu, udara sedikit mendung.  Sejak siang hari gerimis menggoda perjalanan kami.. untunglah bukan "gerimis mengundang".

Khawatir kemalaman, kami pun segera menuju Omah Kayu.  Perjalanan menuju omah kayu sedikit terjal dan licin.  Untungnya ada kayu pelindung yang berfungsi sebagai pegangan dan pembatas jalan.  Tapi tetap saja kami harus hati-hati, terlebih ada anak -anak dalam rombongan kami yang harus diawasi dan dijaga agar tetap aman.

Ah,..kabut rupanya mulai turun.  Biasanya saat seperti itu adalah saat yang kurang pas untuk berfoto.  Ternyata justru sebaliknya. Kami melihat pemandangan yang luar biasa dengan kehadiran kabut ini.  Begitu Sempurna.
Omah kayu ini sebenarnya adalah sebuah penginapan bergaya alam yang diperuntukkan bagi mereka yang punya nyali!

Loh? Kenapa hanya yang punya nyali saja? Ya tentu saja...karena omah kayu terletak di pucuk gunung banyak.  Bangunan yang terbuat dengan bahan utama kayu ini didirikan di atas beberapa pohon pinus dengan posisi menghadap ke jurang.  Di dalamnya ada beberapa kasur untuk alas beristirahat.  Tak jauh dari omah kayu ada beberapa bangunan yang ternyata merupakan toilet umum.

Sore itu kabut tebal menyelimuti Omah Kayu dan jurang di hadapannya,  Untunglah pandangan mata kami tidak terhalang.  Sebab akan sangat bahaya bila kabut menutup jalan kami.  Sejenak kami semua terpukau dengan pemandangan di hadapan kami, terutama aku yang sangat menyukai alam.  Kuhirup udara dalam dalam, mencoba membasuh aliran pernafasan dengan sejuknya udara gunung.

"Masya Allah cantiknya,"  Decakku kagum.  Ini adalah pertama kalinya aku bertualang setelah puluhan tahun Vakum.  Tak menyagka aku bisa kembali merasakan aroma daun basah.   Aku dan rombongan benar-benar beruntung bisa menyaksikan dan menikmati kebersamaan ini.  Yah.. pemandangan ini memang tidak biasa.. kami seperti sedang berada di salah satu belahan bumi yang lain.
Momen itu tak kami lewatkan begitu saja, semua team mengabadikannya lewat berbagai kamera yang dibawa. Ada yang berpose ngelamun, ada yang berselfie ria, dan ada yang memang mengabadikan gambar-gambar candid hingga panggilan lewat pengeras suara terdengar.  Sepertinya waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB dan itu artinya kami harus meninggalkan lokasi omah kayu sebelum malam membungkusnya dengan pekat.

Kami meniti jalan setapak yang mulai licin  dengan begitu hati-hati...berjalan menuju tujuan berikutnya..Paralayang.

Pesona Paralayang

Udara mulai terasa dingin.  Angin berhembus lembut, mengibaskan rambut-rambut yang tergerai.  Pemandangan kota di bawah sana tampak seperti sebuah maket di  kantor pemasaran sebuah rumah..  kecil-kecil hanya tampak seperti rumah-rumah di permainan monopoli.
Lihatlah gunung di depan sana yang berselimut awan..indah bukan? Adakah lukisan manusia yang mampu menirunya sempurna?

Ah..rasanya diri ini begitu kecil dan tak berdaya saat sudah berhadapan dengan semua karya cipta Allah.  Paralayang ini merupakan salah satu spot wisata di Gunung Banyak yang dikenal dengan olahraga alam bebas paralayang.  Pada musim-musim tertentu pengunjung bisa mencoba terbang solo maupun tandem di sini dengan membayar Rp. 350.000,-. di luar tiket masuk yang dikenakan.


Sayangnya saat kami datang hari sudah hampir malam.  Tak ada satupun paralayang yang terbang melintas.. Namun kami cukup puas, sebab kami bisa menyaksikan matahari terbenam dengan rona jingganya.  Begitu cantiknya.  Kulihat beberapa pengunjung asyik mengabadikan foto-foto selfie mereka.  Ada yang menjadi angel, ada yang hanya sekedar berdiri menatap awan bahkan ada yang duduk mesra dengan pasangannya di tanah.

Di lokasi wisata ini fasilitasnya tergolong cukup lengkap.  Ada sarana ibadah, kedai dan bahkan lahan parkir yang luas.  Anda mau ngopi -ngopi sambil menikmati sunset pun asyik-asyik aja.  Tapiii..kalau ingin menyaksikan pertunjukkan paralayang, mungkin anda bisa bertanya dulu..bulan apa saja yang anginnya baik.

Di lokasi yang buka mulai pukul 07.00 - 21.00 WIB ini tersedia berbagai menu yang cukup terjangkau kantong.  Tapii ingat yaa.. awasi putra-putri anda, sebab meleng sedikit bahaya akan mengancam mereka.  Posisi bibir jurang sangat curam dan terjal.  Tak ada satupun pengaman yang bisa mengamankan anak-anak balita.

Anginnya juga cukup kencang menjelang sore, so buat yang tubuhnya ringkih kaya aku jangan lupa jaket dan jas hujan ya.  Jangan sampai pulang dari sini langsung masuk angin.
Bila ada pertanyaan lebih lanjut tentang tempat wisata ini, silakan tinggalkan komentar..

Tidak ada komentar:

Total Absen

Pengikut