Selasa, 09 Agustus 2016

Terus Mengabdi Bersama Negeri (Relawan Yang Tertinggal) Kelas Inspirasi Bali 2016

               Foto Milik Kelas Inspirasi Bali

Mengabdi bersama negeri merupakan panggilan hati.  Entah mengapa aku acap tergoda untuk kembali ke masyarakat, mengabdi dan berbagi. Itulah sebabnya saat kesempatan itu datang aku menyambutnya dengan suka cita.  Tak kupedulikan besar biaya yang harus keluar nantinya, asal raga ini mampu menjamah bumi Nya.  Hari demi hari kian berganti, semakin dekat dan dekat dengan masa berbakti. Program, harapan dan angan pun tersusun sempurna tuk sebuah hari yang telah lama dinanti.
“Aku ingin berbagi, tentang bagaimana suka duka seorang koki, seorang entrepreneur yang berkarya di sebuah ruang bernama ‘Dapur’”, begitulah celotehku saat itu.  Saat kami bertemu tuk kali pertama sebagai sebuah team kecil.  Merancang sebuah program pengmasy yang akan kami lakukan, bermain bersama adik-adik di nusa penida, serta bernyanyi dan menari.
Tiba-tiba semua harus berubah. Ada satu kondisi yang menahanku pergi.  Ada dua buah hati yang menatapku dengan tatapan seolah sendu.  Ya, Sang kekasih terpaksa pergi di saat yang sama dengan kegiatan Kelas Inspirasi.  Lalu siapakah yang akan menemani mereka? Jauh sanak kadang membuatku tak bisa memilih. Impianku mengabdi bersama relawan Kelas Inspirasi Bali harus kandas demi sang buah hati.
Aku adalah seorang ibu.  Di pundakku ada tanggungjawab besar tuk mendidik dan menjaga buah hati.  Mereka lah anak didik yang utama,  dan akan kupertanggungjawabkan di akherat nanti.  Itulah peranku sebagai guru yang sesungguhnya.  Lalu pantaskah aku disebut guru, bila ku telantarkan buah hati hanya untuk sebuah ambisi yang berasal dari hati?  Ingin mengabdi namun abai terhadap tanggungjawab sendiri?  Tidak! Hatiku berontak. Mengabdi pada negeri dan mengabdi pada keluarga sama mulianya.  Selama nafas berhembus kesempatan mengabdi dan berbagi kan selalu ada.  Bila tidak kali ini, mungkin esok nanti aku bisa membawa jagoanku serta, turun ke desa tuk berbakti pada ibu pertiwi.
Kupandangi kepergian teamku dari layar kaca 4,5 inci yang kugenggam.  Kuikuti setiap perkembangan yang terjadi di lokasi.  Ada haru, ada bahagia melihat bagaimana mereka berbagi tentang profesi. Ada sekelumit rasa iri, karena aku tak bisa turut serta, tapi aku sungguh bangga pada mereka relawan Kelas Inspirasi Bali.  Datang dari penjuru nusantara untuk berbagi, tanpa salary, tanpa fasilitas tanpa tunjangan akomodasi hanya demi melukis harapan di hati anak negeri Nusa Penida.  Teruslah menginspirasi sahabatku, hingga tak ada lagi anak yang berhenti bermimpi.  Aku akan mengabdi dari sini di atap sebuah pasar Adat Tiara Grosir Bali.  Doa ku selalu untuk kalian para pejuang mimpi.
Kudengar celoteh riang seorang relawan, bagaimana bahagianya anak-anak SDN  Kutampi menyambut sang pejuang mimpi.
Kudengar ungkapan hati Biyang Mangku tentang bahagianya melihat kepedulian para anak muda relawan Kelas Inspirasi terhadap generasi penerus bangsa.
 Suster Ranti dan siswi SD Kutampi 2  Nusa Penida (Foto Milik Kak Imran)

Keseruan Kak Imran Cumi Bersama Siswanya (foto milik Kak Imran)

Kulihat ketulusan dan cinta suster Ranti yang membantu mengikat tali sepatu seorang pelajar layaknya seorang ibu. Ah...kalian memang betul-betul menginspirasi.  Biarlah sang relawan yang tertinggal ini mengabdi di sini melukis mimpi anak-anak buruh suwun Pasar Tiara Grosir.


Aku akan terus mengabdi, melanjutkan semua mimpi demi negeri. Sama seperti kalian, bergandeng tangang demi generasi yang masih murni.  Semoga esok kita akan kembali merajut asa yang sama..

Tidak ada komentar:

Total Absen

Pengikut