Senin, 16 Mei 2016

Transformasi Kepemimpinan Partai Politik Dari Masa ke Masa


Negeri ini adalah negeri yang menjunjung tinggi demokrasi, dan itu tercermin dari tumbuhnya berbagai partai politik. Pada masa ini pertumbuhan partai politik terus mengalami transformasi, yaitu perubahan yang terjadi secara cepat yang dimotori oleh anak muda. Transformasi yang terjadi lebih mengarah pada perubahan prilaku politik yang dipengaruhi oleh banyak faktor.

Dr. Dimas Oki Nugroho seorang aktivis sekaligus Executive Director dari Akar Rumput Strategic Consulting, dalam kunjungannya ke Universitas Udayana kemarin (13 Mei 2016), memaparkan banyak point penting tentang perubahan prilaku ini.  Perubahan prilaku politik ini sendiri sebenarnya bukanlah hal baru.  Perubahan ini terjadi sejak zaman Bung Karno, Soeharto , Gus Dur hingga Jokowi-JK.
Pada zaman Bung Karno arah politik lebih kepada penyatuan.  Demi menyatukan rakyat nya Presiden RI pertama ini melakukan konsensus sehingga lahirlah Pancasila.  Lain Bung Karno lain lagi dengan Pak Harto,  bila Bung Karno mampu menghipnotis rakyatnya melalui pidato-pidato politiknya, melalui pendekatannya sehingga segala perbedaan bisa di satukan, maka Pak Harto sebaliknya.  Pak Harto harus melakukan tangan besi untuk membuat rakyat patuh, tunduk dan bersatu padu dalam bendera yang sama.  Kekuasaan militer lah yang digunakan sebagai alat untuk bisa meraih tujuannya.  Salah satu strateginya adalah dengan membentuk partai-partai politik, dua yang terkuat dan masih besar hingga saat ini adalah Golkar dan PDI. Namun pada akhirnya politik desentralisasi ini pun mengalami kegagalan akibat ulah para predator-predator lokal.

Seiring dengan pertumbuhan zaman, Golkar pun mulai melakukan transformasi politik dengan munculnya banyak tokoh muda dan baru yang mengusung pembaruan.  Posisinya sebagai partai tengah ini sangat penting dalam menguatkan bangsa ini, namun perpecahan yang terjadi belakangan ini membuat partai berlambang pohon beringin ini menjadi buah bibir di kalangan rakyat dan mengancam persatuan.  Kondisi ini sangat tidak baik bagi Golkar sendiri dan mereka harus bisa mengambil langkah-langkah penyelamatan.  Salah satunya adalah dengan membenahi kondisi internal.  Bila tidak dilakukan cepat, maka perlahan tapi pasti perpecahan partai kuning ini akan menghancurkan partai berlambang pohon beringin ini.

Melihat situasi politik saat ini dan kader-kader partai yang ada, tentu sebagai penonton kita cukup merasa miris, banyak kader partai yang sebenarnya tak layak tapi tetap dipertahankan untuk mengatur partainya, dan akibatnya yang terjadi adalah penggelapan dan penyalahgunaan wewenang.  Tentu hal ini akan berdampak besar pada negara. Prilaku politik yang tak sesuai etika akan menimbulkan kerugian baik bagi partai, negara, maupun rakyat.  Inilah alasan kenapa pembaruan harus dilakukan.  Negeri ini butuh pemuda-pemuda pintar yang jujur dan mampu mengelola partainya.  Bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme.  Gaya-gaya kepemimpinan lama yang sudah tak sesuai harus kita buang jauh-jauh. Kehati-hatian dan seleksi ketat terhadap calon pemimpin partai pun harus dilakukan. Kenali setiap kader dengan baik untuk bisa menggembleng mereka menjadi calon pemimpin yang mumpuni dan jujur.  Sementara mereka yang pernah dan sedang terjerat kasus pidana maupun perdata sebaiknya tidak dijadikan sebagai kandidat sampai kasus selesai dan terbukti bersih.

Mari kita ciptakan partai yang bersih!  Kita bangun politik yang sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut