Senin, 18 Januari 2016

PENTINGNYA SEBUAH DAPUR DALAM RUMAH SAKIT



Sehat itu memang mahal, tak satupun dari kita ingin sakit.  Namun sayang, keinginan itu acap tak dibarengi dengan usaha dan tekad yang kuat untuk menjaga kesehatan.  Kita acap abai pada hak-hak tubuh.  Saat dimana harusnya tubuh beristirahat, kita masih saja bekerja.  Saat organ kita harusnya rehat sejenak dari tugasnya, kita tetap saja mengabaikannya dan asik dengan aktivitas.  Akibatnya ibarat sebuah mesin, maka organ-organ tersebut sedikit demi sedikit menjadi aus, sehingga fungsinya tidak lagi berjalan dengan sempurna.
Apakah yang dimaksud?
 Tubuh dalam manusia terdiri dari berbagai organ yang berfungsi untuk melakukan metabolisme.  Ada jantung yang bertugas memompa darah, ada ginjal, ada hati, pankreas, usus, umbai cacing, limpa, dan empedu. Semuanya bekerja secara selaras di dalam tubuh manusia.  Biasanya saat malam hari adalah saat dimana organ-organ tersebut harusnya beristirahat.  Namun terkadang tuntutan pekerjaan membuat kita harus berjuang menahan rasa kantuk demi mengerjakan tugas – tugas kantor yang belum selesai.  Saat – saat seperti ini umumnya kita membutuhkan aneka camilan dan minuman.  Proses pencernaan pun dimulai.  Seluruh organ pencernaan mau tidak mau harus bekerja untuk mencerna makanan yang masuk. 
Pola hidup seperti ini sangat tidak baik untuk kesehatan tubuh.  Ini sama saja kita mengambil hak tubuh untuk beristirahat.  Bila berlangsung secara terus menerus, maka organ tersebut akan kelelahan dan rusak.  Akhirnya, terdamparlah tubuh kita di sebuah ruangan yang bernama bangsal. Berjuang menjadi salah satu pasien di rumah sakit.



Anda Tidak Mau Seperti inikan?
Kok Rumah Sakit, Tempat Apakah Itu?
Seperti namanya” Rumah Sakit”, tempat ini adalah sebuah bangunan dimana  orang – orang sakit bermukim sementara.  Mereka mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya disini.  Mereka hidup dalam perawatan tenaga medis yaitu dokter dan para perawat. Wow! Enak dong dilayani.

Ini dia Kamar Perawatan Orang Sakit
 Mendapat Pelayanan Kelas Satu

Jangan salah, meski hidup di rumah sakit penuh pelayanan, tak satu pasienpun berharap bisa kembali ke tempat ini, karena kebebasan mereka disini terpasung sementara.  Keberadaan infus akan membatasi gerak tubuh, belum lagi banyaknya obat-obatan yang harus dimasukkan ke dalam tubuh kita, sakit karena tusukan jarum dan makanan yang konon rata – rata berasa hambar.  Namun ada juga rumah sakit yang menyediakan menu-menu sekelas hotel bintang lima.  Bicara tentan menu artinya kita akan bicara tentang dapur. Apakah setiap rumah sakit memiliki dapur?
Rumah Sakit Wajib Punya Dapur!
Tak semua rumah sakit yang ada di Indonesia memiliki dapur.  Mengapa demikian?
Dapur dalam sebuah rumah sakit membutuhkan  space khusus dan sarana penunjangnya.  Terkadang keterbatasan ruangan menyebabkan pihak manajemen meniadakan ruang ini dan menjalin kerjasama dengan salah satu pengelola catering yang ada di kota itu.  Tentu saja ada kriterianya.  Tak sembarang usaha catering bisa masuk dan memenangkan proyek pengadaan menu di rumah sakit.  Catering yang bisa bermain adalah catering yang memiliki seorang ahli gizi, sebab menu untuk orang sakit harus ditakar sesuai kebutuhan gizi dan dietnya.  

Namun, berdasarkan pengamatan di lapangan,  pengadaaan menu dengan memanfaatkan jasa catering ini pun masih ada kelemahannya, yaitu:
1.      Lokasi catering yang dipisahkan jarak menyebabkan pihak rumah sakit tidak bisa cepat tanggap saat pasien membutuhkan menu – menu diet khusus seperti diet rendah lemak misalnya
2.      Sulit melakukan kontrol
3.       Terkadang menu disajikan sudah dalam keadaan dingin (tentu saja hal ini akan membuat selera makan hilang dan tidak enak di perut)
Ada satu kejadian saat saya harus terbaring di rumah sakit dengan diagnosa radang pada saluran empedu sehingga dokter mewajibkan saya untuk diet rendah lemak.  Artinya makanan yang saya makan harus rendah lemak.   Tidak menggunakan minyak dalam memasak, tidak mengandung margarin, keju, susu, santan dan kuning telur.  Sebagai seorang pasien tentu saja tak sembarang makanan dari luar boleh saya konsumsi.  Alhasil saya bergantung pada menu yang disajikan oleh rumah sakit.
Namun ternyata hampir setiap menu yang disajikan dimasak menggunakan minyak dan bahan-bahan yang terlarang saya konsumsi.  Saat saya menyampaikan itu petugas pengantar makanan bilang, adanya hanya itu, kalau ibu tidak boleh makan biar buat yang nunggu saja!
Hmm menarik sekali jawabannya, lalu saya makan apa? Mencari menu diet rendah lemak di luar rumah sakit tentu bukan hal mudah.  Kebersihannya juga tidak terjamin, padahal kondisi kesehatan saya saat itu tidak baik. Inilah titik kelemahan bila sebuah rumah sakit tidak memiliki dapur! Dia tidak bisa menyiapkan makanan sesuai standar kesehatan pasiennya, padahal kesalahan dalam pemberian makanan dapat berakibat fatal pada pasien.
Sebuah rumah sakit yang memiliki dapur selalu melakukan pendataan tentang menu-menu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien.  Umumnya pelayanan seperti ini diberikan oleh rumah-rumah sakit swasta yang cukup besar.  Petugas layanan gizi akan mendata setiap pagi dan sore menu apa saja yang diinginkan pasien.  Tentu saja menu-menu tersebut dipilih dari daftar menu yang mereka sediakan.  Perubahan diet yang sewaktu-waktu tersaji tetap bisa di atasi dengan adanya dapur di dalam sebuah rumah sakit.
Kondisi pasien yang berbeda tentu saja mengharuskan pihak layanan gizi menyediakan menu yang berbeda beda dalam jumlah sedikit, dan hal ini sulit dilakukan oleh catering!  Sebab kesepakatan menu dengan pihak catering dilakukan secara berkala bukan harian.  Inilah dasar kenapa saya katakan bahwa sebuah rumah sakit wajib memiliki dapur sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut