Jumat, 02 Oktober 2015

MEMULAI BISNIS TANPA UANG


"Aku pengen usaha, tapi ngga punya modal.  Sekarang semuanya serba mahal.  Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hari-hari masih terasa sulit" curhatku dua tahun lalu pada suamiku.

Pernahkah teman mengucapkan itu? Beberapa teman curhat hal yang sama padaku.  Keinginan tuk wirausaha selalu ada di setiap insan yang ingin sukses, namun acap keinginan itu harus terkubur dalam karena situasi dan kendala modal utama yaitu uang.  Tapi benarkah uang merupakan modal utama dalam sebuah bisnis?

TIDAK!  Menurut saya uang bukan segalanya.  Modal uang bukanlah hal utama dalam sebuah bisnis.  Bukankah transaksi perdagangan telah ada sejak manusia belum mengenal uang sebagai alat tukar? Lalu bagaimana bisnis dan usaha terbentuk pada zaman dahulu?

Bisnis dan usaha terlahir karena ada niatan kuat untuk berubah lebih baik, untuk meningkatkan status ekonomi dan karena adanya kebutuhan akan sandang, pangan, papan dan hiburan.  Niatan yang kuat pada diri seorang calon enterpreneur inilah yang mendorong dia untuk bergerak demi mengupayakan perubahan taraf hidup yang lebih baik.

Kira-kira itulah yang saya alami.  Curhat kesana kemari saya pikir tak banyak berpengaruh dalam mewujudkan impian.  Akhirnya saya tersadar kalau saya tak memulai, bagaimana saya akan mendapatkan modal uang?  Saya sadar bahwa sebenarnya banyak usaha yang tidak membutuhkan uang  sebagai modal utamanya.  Salah satunya adalah usaha jasa.

Modal Utama Saya Dalam Bisnis Adalah Diri Saya dan Jaringan Pertemanan

Lalu apa impian saya sebenarnya?  Saat itu, saya ingin sekali memiliki sebuah usaha di bidang kuliner untuk mendukung kecintaan saya pada dunia memasak.  Namun ketiadaan modal membuat saya harus berpikir keras bagaimana caranya menjalankan usaha tanpa modal.  Maka pilihan saya jatuh pada usaha jasa.  Saya menuangkan hobi memasak saya dengan menjadi seorang penulis freelance di sebuah agency penerbitan re!Media Service yang digawangi oleh pasangan muda Isa Jatinegara dan istrinya Meidiana Frikasari.  Itulah awal mula segalanya.  Awal saya berkenalan dan membangun jaringan persahabatan dan relasi bisnis yang akhirnya menjadi modal utama saya selain diri saya dan apa yang ada di dalam otak saya. Untuk mengupgrade diri saya bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis Interaktif dan Ibu-Ibu Doyan Bisnis besutan Indari Mastuti sebagai salah satu wadah belajar dan menimba ilmu.



Tiga di antara sekian buku kuliner karya saya


Lewat kegiatan menulis saya mendapatkan tidak hanya materi, tapi juga ide-ide bisnis, kepercayaan, dan jaringan pasar.  Inilah yang kemudian saya ramu menjadi sebuah modal utama dalam mengembangkan #Usaha Lauk Kering Mba Sri. Saya memanfaatkan media sosial facebook dan blog sebagai sarana untuk mengenalkan produk saya pada customer.  Tak disangka ternyata banyak teman yang membantu saya tuk mengenalkan produk saya. Lewat metode pemasaran dari mulut ke mulut (getuk tular) usaha ini terus berkembang.


Testimoni Pelanggan

Tugas saya adalah memberikan produk yang terbaik, memberikan servis terbaik pada customer serta menjaga kepuasan konsumen terhadap produk tersebut.  Bisnis ini saya mulai dengan modal nol rupiah.  Tak ada biaya promosi hingga akhirnya bisnis ini berdiri.  Kepercayaan konsumen sudah saya dapatkan, selanjutnya tugas utama saya adalah merawat bisnis agar terus berjalan.

Kemasan Produk Saat Pertama Launching (tanpa merek)



Eh, modal nol?  Kok bisa sih? Emang ngga perlu uang buat beli bahan? Trus bagaimana bisa produksi?
Ya! Saya memang tidak mengeluarkan uang untuk modal produksi, sebab customer saya yang mengeluarkan uang untuk memproduksi pesanan mereka, sebab bisnis saya dilakukan secara online. Pesanan hanya akan diproses setelah proses transfer masuk.  Simple bukan?

Namun ada hal yang harus menjadi catatan bagi Saya, karena bisnis ini tanpa modal bukan artinya saya  bisa seenaknya menghamburkan keuntungan yang saya dapat.  Sebab bila kita ingin berkembang, maka kita harus bisa melakukan manajemen keuangan usaha secara baik.  Proses pembukuan harus dilakukan dengan tertib.  Keuntungan yang didapat digunakan untuk memutar modal dan berinvestasi alat agar kualitas produksi bisa ditingkatkan.  Ada alokasi yang memang harus kita peruntukkan untuk mengupgrade skill.  Semua dilakukan secara bertahap sesuai skala prioritas.  Sebab bila kita ingin usaha kita berkembang, kita harus siap untuk berinvestasi salah satunya adalah investasi ilmu dan alat.

 Brand Rancangan Teman Saya Ferdias Bookelman





Liputan tentang saya di sebuah tabloid nasional

 Meme yang dibuat customer saya untuk testimoni produk


Apa sih investasi ilmu?
Investasi ilmu adalah salah satu cara untuk mengupgrade skill atau keahlian kita dalam passion usaha yang kita geluti.  Jangan bermimpi untuk sukses bila anda enggan membelanjakan uang anda untuk berinvestasi.  Sebab pada suatu titik, usaha yang kita jalani pasti akan membutuhkan uang untuk mengembangkannya,  untuk investasi alat dan meningkatkan ketrampilan tenaga kerja kita.  Penghargaan kita pada karyawan akan membuat kinerja mereka semakin baik dan loyal.

Pada tahun pertama usaha, saya tidak hanya bisa berdiri, namun juga mendapatkan banyak tawaran kerjasama dan tawaran modal dari beberapa teman untuk mengembangkan bisnis ini.  Namun saya masih memilih untuk menguatkan bisnis ini dahulu, memperbaiki dan mengonsep aturan-aturan kerjasama dengan pihak luar. Sampai suatu ketika akhirnya saya mendapat bantuan sebuah alat dari seorang teman yang menjadikan kualitas produk menjadi semakin baik.

Bisnis Saya Terlihat Lancar. Apakah saya tak pernah mengalami apa yang disebut kesulitan dan kendala bisnis?
Bila saya mengatakan bahwa saya tak pernah mengalami kendala bisnis, artinya saya berbohong.  Sebuah bisnis pasti ada saja kendalanya.  Penjualan pun tak selalu ada di atas, semua ada pasang surutnya, apalagi bisnis ini terbilang bisnis yang masih baru dan saya adalah anak bawang dalam dunia kuliner indonesia.  Namun bukan pebisnis namanya bila hanya karena satu, dua kendala saya menyerah kalah.

Ada saat dimana penjualan saya jatuh akibat alat dan pemilihan minyak yang menyebabkan kualitas berkurang.  Saat ini terjadi, demi menjaga kepuasan konsumen saya harus memberikan ganti rugi dengan nominal tertentu atau mengganti produk dengan yang lebih baik.  Saya harus berpikir keras saat itu untuk mencari pemasukan lain guna menutup kerugian tersebut.  Saat itulah saya perlu sebuah INOVASI PRODUK.

Mau tau inovasi dan strategi bisnis yang saya lakukan?  Tunggu lanjutan ceritanya yaa..

TO BE CONTINUED...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut