Jumat, 21 November 2014

KETIKA SI BUNGSU LEGOWO

"Hallo, Bunda Vian..assalamu alaikum!"

Sebuah suara kudengar dari smartphoneku.  Itu suara Bunda Alif, guru Favian di TK Aisyiyah Bustanul Atfal V Ubung , Denpasar Bali.  Suara bunda Alif terdengar sangat gugup hingga terbata membuatku sedikit khawatir.
"Bunda...maaf, saya mau mengabarkan bahwa Favian sekarang sedang dilarikan ke UGD"

Jlegarrrrrrrr!! Rasanya seperti mendengar suara petir di siang bolong.  Ada apa dengan jagoan kecilku?  Bunda Alif tak banyak memberikan penjelasan, selain informasi bahwa kepala anakku bocor!

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!!  Rabb...semoga Kau selalu melindungi nyawa bocah kecilku itu.  Pintaku saat itu sambil bergegas ganti baju dan berangkat ke Rumah Sakit.  Aku berusaha tuk menghubungi suamiku dengan kaki dan tangan bergetar mengikuti debar jantungku yang tak beraturan.  
Apess!! Saat dibutuhkan, handphoneku tiba-tiba ngadat tak bisa digunakan untuk menelpon.  Duuhhh!!! Kenapa seperti ini sihhh!!  Kalau saja harga handphone ini murah, mungkin sudah kubuang ke kali saking jengkelnya.  Tapi handphone ini seharga honor satu bukuku.

Huwaaaa!!! Hiks..hiks..
Setiba di UGD hatiku tercekat, tubuh bocah kecilku terbaring dengan baju bersimbah darah.  Emosi saat itu rasanya.  Bagaimana bisa itu terjadi??  Memangnya para guru tidak mengawasi?
Tiba --tiba Favianku menoleh,  tatapan matanya seolah memintaku untuk meredam semua emosiku.  Saat itu  telaga bening di mataku siap tumpah ruah.  Tapii.. melihat tatapannya yang tegar, membuatku menahan sekeras mungkin buncahan rasa yang bergejolak di hatiku saat itu.

"Bunda, Favian hebat loh...sama sekali tidak menangis" tutur sang Guru dan pengurus Ikwam yang mendampingi.  Aku tak heran mendengar semua itu, Favianku memang sangat tegar sejak bayi.  Dalam setiap sakitnya, tak sekalipun dia mengeluh dan menangis.. aku tau,  dia memang jagoanku.  Tetapi melihatnya seperti itu, jiwaku serasa hilang kesadaran, linglung.  Favianku diam mulai saat terjatuh sampai proses penjahitan luka selesai dilakukan.  Ah...hebatnya kau nak ganteng..., bahkan bundamu saja mungkin takkan mampu menahan rasa takut pada jarum dan darah,  tetapi kau??  Kau benar-benar lelaki-ku sayang, jagoan kecilku. 

Kugendong bocah kecilku pulang ke kamar kos kami dengan di antar sang Guru.  Rupanya Favianku di dorong oleh beberapa temannya sampai terjatuh dan terantuk lantai.  Ibu mana yang tak jengkel mengetahui itu.  Kucoba untuk bertanya padanya setelah suasana hatinya tenang tentang apa yang terjadi, walau aku sudah mendengar dari sang Guru.  Aku hanya ingin tahu siapa pelakunya??  Ini tidak bisa dibiarkan!  Tapi Favian hanya berkata bahwa ia terjatuh saat bermain lempar topi sendiri... sungguh bertolak belakang dengan yang kudengar!!  Bocah kecilku BERBOHONG!!

Aku tak memaksanya lagi, tentu dia punya pertimbangan mengapa dia berbohong padaku.  Sorenya, saat dia pergi bersama ayahnya menjemput sang kakak, dia bercerita pada sang ayah kalau dia terjatuh karena didorong oleh lima orang temannya, dan dia mampu menyebutkan nama para pelaku.  Kenapa dia mau jujur sama ayahnya tapi tidak padaku??

Malamnya sang ayah memintanya untuk menceritakan kembali peristiwa itu padaku,  lagi-lagi dia pasang aksi tutup mulut.  Setahun lalu Favian pernah di buly di sekolah.  Kepalanya dibenturkan ke tembok oleh seorang temannya dan aku marah sekali sama pihak sekolah.  Kudatangi sekolah anakku dan bertemu dengan guru yang bertugas saat itu.  Kucari orangtua sang anak tuk memintanya mengajari anaknya prilaku yang baik.  Tuk mengendalikan anaknya dan kuancam bila terjadi sesuatu pada putraku, aku akan menuntutnya!!  Mungkin  peristiwa inilah yang membuatnya tak ingin terbuka padaku...dia tak ingin melihatku marah.

Pagi ini aku mencoba lagi berbicara dari hati padanya.  Kutanyakan siapa yang telah mendorongnya,  namun bukan jawaban yang kuinginkan yang kudapat dari bibir mungil itu, melainkan sebuah kecupan, sambil berbisik pelan...,"Ngga papa... kan ade udah sehat. Ade cuma jatuh saja.  Ade udah maafin teman-teman ade,  bunda jangan marah lagi yaa..!"

Nyosss....nyesek!!  Anak sekecil itu sudah mampu memaafkan dan berpikir sangat bijak.  Dia mengajarkan padaku tentang arti legowo.  Kau memang mutiara hatiku nak,  aku bangga padamu.  Tidak saja tegar, tapi kau juga pemaaf dan berjiwa welas asih.  Tak ada sedikitpun dendam di hatimu, pun saat mereka yang mendorongmu datang ke rumah siang ini.  Kau menyambutnya dengan ramah dan mengajaknya bermain seolah tak pernah ada kejadian itu.

Para Bunda di sekolahnya siang itu pun bercerita tentang kekaguman mereka pada putraku ini.  Bahkan saat ditanya apakah mereka yang mendorongnya, dia tetap diam tak mengiyakan.

Hari ini aku belajar legowo darimu Nak,  aku belajar untuk meredam emosi dan memaafkan.  Terima kasih kau telah hadir di tengah kami tuk memberi kami banyak ilmu hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut