Selasa, 09 Oktober 2012

TAMU YANG TAK KUNJUNG HADIR






Namaku Sri rahayu, ibu dari dua orang putra.  Kedua proses persalinan yang kualami semua unik dan berkesan dalam bagiku.  Pada persalinan pertama, aku terpaksa menjalankan operasi cesar saat usia kandunganku baru menginjak 8 bulan, dan berakibat anakku lahir dengan fungsi organ yang belum sempurna.  Tentunya kondisi ini menimbulkan masalah bagiku dan anakku.  Tubuh anakku kuning seperti kunyit dengan nilai billirubin mencapai 17.  Sementara aku sendiri sempat mengalami gagal nafas dan jantungku sempat berhenti berdetak saat proses persalinan terjadi.
Dengan berat hati aku harus merelakan putraku dirawat di rumah sakit selama 10 hari.  Belajar dari pengalaman pertama tersebut aku ingin kelahiran anakku yang kedua kulalui lewat persalinan normal.  Harapannya agar seluruh fungsi organnya telah sempurna dan mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.  Jauh-jauh hari aku sudah memeriksakan kandunganku di Dokter Spesialis.  Tulang panggulku didiagnosa sempit saat kehamilan anak pertama.  Namun aku bersikeras untuk tetap melahirkan secara normal dan menanti hadirnya buah hatiku yang kedua.  Sosok tamu yang akan menjadi teman bagi jagoanku yang mulai beranjak balita.

Segala informasi tentang tips-tips persalinan normal kukumpulkan dan pelajari.  Begitupun dengan saran keluarga dan tetangga untuk memperlancar proses persalinan, mulai berjalan-jalan, banyak sholat dan mengepel lantai semua kulakukan.  Namun hingga menginjak bulan kesembilan, aku tak jua merasakan kontraksi.  Hasil USG menunjukkan bahwa bayiku tidak mau masuk ke jalan lahir.  Mungkin dia merasa nyaman di perutku.  Dokter sudah menyarankanku untuk operasi, namun dengan tegas aku menolak.  Kata orang belumlah sempurna seorang wanita dan ibu bila tidak bisa menjalani persalinan secara normal.  Aku ingin menjadi wanita dan ibu yang sempurna.
Kemudian datanglah sepupu suamiku yang menyarankanku untuk sering bersenggama dengan suami agar bayiku terdesak keluar.  Hi.hi.hi..lucu juga mendengar saran ini, tapi demi tekadku kulakukan juga saran itu, meski sempat membuat suamiku sedikit kewalahan dengan permintaanku ini.  Malu dan geli bila mengingatnya.
Sampailah usia kehamilanku pada bulan ke-10.  Hampir setiap hari kerjaku hanya mengukur jalan.  Shooping dan mengepel lantai.  Namun tamu agung yang kutunggu ini tak jua muncul.  Akupun pergi memeriksakan diri ke dokter kandungan.  Namun jawabannya sungguh tak kuharapkan.  Dokterku mengatakan ketubanku sudah keruh dan bayiku sudah tak bisa bebas bergerak.  Aku diminta menentukan hari untuk melakukan proses operasi cesar.  Oh...betapa gamang hatiku menghadapi vonis ini.  Terbayang kembali operasi cesar yang pertama yang membuatku sangat trauma.  Namun aku tak punya pilihan.  Waktuku maksimal hanya satu minggu, bila lewat...dokter tidak bertanggung jawab atas segala resiko, begitu katanya.
Akhirnya kuambil batas yang terakhir, kuberharap sebelum waktunya tiba aku akan merasakan kontraksi dan pembukaan.  Harapan tinggal harapan.  Mungkin Allah terlalu sayang padaku dan tidak ingin aku merasakan sakitnya kontraksi yang konon maha dahsyat.  Hari itu Jumat 27 Juni jam 20.00 WIB aku mulai memasuki ruang VK seorang diri.  Takut, bingung dan malu menderaku.  Terlebih saat perawat mempersiapkan diriku untuk operasi.  Perjalananku menuju ruang operasi diliputi kegalauan.  Tubuhku alergi terhadap bius dan obat-obatan serta benang bedah tertentu.  Di dalam ruang operasi aku tak henti bicara dan memohon, agar dokter mengupayakan supaya aku tetap berada dalam kesadaran hingga bisa melihat kedatangan tamu agung ini.  Namun, seperti biasa...tubuhku bereaksi negatif terhadap bius epidural yang disuntikkan.  Seketika itu juga nafasku mulai sesak dan aku mulai tak sadarkan diri.  Barulah setelah putraku lahir kurasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku.  Memperlihatkan bayi merah berlumur darah ke hadapanku.  Sesaat...ya, hanya sesaat saja aku melihatnya setelah itu aku kembali tak sadarkan diri.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.  Bayiku yang kedua ini sempat keracunan ketuban.  Cuping hidungnya biru dan tubuhnyapun kuning.  Alhasil  akupun harus merelakan bayiku ini untuk kembali dirawat.  Cairan ketuban yang keruh dan terlalu banyak diminum bayiku mengotori paru-parunya, hingga nafasnya selalu berbunyi grok-grok.  Nafasnya kerap sesak, bahkan sempat sekujur tubuhnya membiru karena kekurangan oksigen.  Banyak pelajaran hidup yang kupetik dari peristiwa ini, antara lain:
-          Jangan pernah memaksakan kehendak demi keinginan kita.  Serahkan semua pada Allah dan ahlinya dalam menentukan waktu dan proses kelahiran
-          Perbanyaklah doa dan dzikir
-          Normal atau tidaknya suatu persalinan bukanlah ukuran sempurna tidaknya seorang ibu/wanita, karena keduanya mengandung resiko dan terasa sakit.
Semoga kisah ini dapat menginspirasi wanita lain yang sedang menjalani masa kehamilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut