Sabtu, 17 April 2021

Kepoin Gaya Belajar Gen Z yuuk

 Hai moms, apa kabar?

Dua Minggu lalu kita sudah belajar tentang Gen Z dan profesi yang akan banyak dicari di masa mendatang. Nah kali ini aku mau ajak moms untuk mengenali gaya belajar gen Z agar mom's bisa lebih mudah dalam mendampingi proses tumbuh kembang remajanya.

Pas banget! Minggu lalu, aku dan beberapa mom blogger berkesempatan untuk mengikuti sebuah webinar yang diselenggarakan oleh SMA PINTAR LAZUARDI Blended Learning. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan online di level universitas dan SMA. Sebuah trend baru yang lahir di tengah polemik dunia pendidikan selama pandemi covid. Kita sama -sama tau, bahwa pandemi yang melanda berbagai negara ini, memaksa dunia pendidikan untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh dengan cara daring. Nah model pembelajaran seperti ini ternyata melahirkan sebuah tantangan baru bagi orangtua dalam mendampingi buah hati.  Anak -anak didik yang terbiasa belajar tatap muka di sekolah, kini dihadapkan pada pembelajaran daring di rumah.

  Alhasil..untuk menunjang keberhasilan penyerapan materi dibutuhkan penguasaan teknologi secara mutlak. Orangtua pun mau tidak mau dituntut untuk melek digital jika ingin putra -putrinya sukses melaluinya.  Situasi ini terbaca oleh para praktisi yang tergabung di Sekolah Lazuardi Group sebagai sebuah peluang untuk berperan aktif dalam rangka memberikan kontribusi pada sistem pendidikan negeri ini. Caranya adalah dengan menggunakan  Learning Managemen System (LMS) yang diberi nama PINTAR. Untuk mengetahui apa itu LMS dana bagaimana programnya silakan   Baca Orangtua Melek Digital, Anak Gen Z Melenggang Jadi CEO

Setelah orangtua melek digital, parents juga dituntut untuk Kepoin gaya belajarnya. Nah menurut Dya Loretta, S.E, M.I.Kom, CSP,CPM salah satu pemateri webinar Kepoin Gaya Belajar Gen Z, seperti ditampilkan dalam pemaparannya, diketahui gen Z memiliki gaya belajar seperti yang terpampang dalam gambar di bawah ini.

                  Gambar 2. Gaya Belajar Gen Z

Webinar yang diselenggarakan pada tanggal 10 April 2021 lalu, dihadiri oleh ibu Sonya Sinyanyuri (Kepala SMA Lazuardi) , Bapak Muhammad Ikhsan (Direktur Lazuardi Attailah Makasar, Eliza Korag (mom blogger), para mom's blogger, dan praktisi pendidikan.  Para narasumber memaparkan pengalamannya dalam membersamai proses belajar anak anak gen z. Dari pengalaman itu mereka menyimpulkan bahwa parents harus tau gaya belajar anak.

Kenapa kita harus mengenal gaya belajar mereka? 

Tujuannya adalah untuk memudahkan kita dalam mendampingi mereka, sehingga bentrok antara orangtua dan anak bisa diminimalisir.  Umumnya parents pasti #ngomel melihat anak remajanya terlena dengan gawainya sampai lupa waktu. Bilangnya daring ternyata main game. Akhirnya menerapkan disiplin keras pada anak untuk melakukan apa yang mereka mau. Ternyata tindakan seperti ini tidak bisa kita terapkan pada gen Z. 

Anak-anak golongan gen z ini memang sangat addict pada gawai. Kurang lebih 48,7 % generasi Z adalah addict user. Mereka lebih suka berselancar daripada belajar dari buku. Apakah salah? Sebenarnya tidak, tinggal kita pantau dan arahkan saja. Kita harus memberikan arahan pada mereka informasi apa saja yang boleh mereka konsumsi dan apa yang tidak. Nah untuk menyampaikan hal ini diperlukan sebuah kemampuan berkomunikasi karena tipikal anak gen z yang Boss for my self, sehingga umumnya tidak begitu suka diatur-atur. 

Tipsnya menurut mba Dya Loretta untuk bisa berkomunikasi dengan mereka adalah dengan memposisikan diri kita sebagai teman mereka, bukan boss, sehingga bisa terjadi sebuah komunikasi yang baik.

Anak -anak gen z menyukai pembelajaran audio visual. Selain itu mereka juga lebih butuh suasana yang nyaman untuk mendukung proses belajar mereka. Music dan cafe merupakan 2 hal yang kini melekat pada gen Z. Katanya kalau ngga denger musik pelajaran ngga #nyantol.  oleh karena itu gen Z ering streaming music dan menggunakan headset saat belajar.



Anak gen z merupakan anak anak yang open minded . Mereka mampu menerima masukan poitif maupun  negatif dari siapa saja.  Di inilah peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membantu mereka mengetahui dan memilih mana info baik dan mana yang tidak, mana yang boleh mereka adopsi mana yang tidak.  Jangan sampai pengaruh buruk teknologi lebih mendominasi.

Nah parents, semua materi yang dipaparkan didukung juga oleh pengalaman yang dialami oleh Mom Eliza Korag.  Beliau mengatakan bahwa dengan memposisikan sebagai teman, orangtua akan lebih mudah menyampaikan saran dan masukannya daripada jika kita bossy pada mereka. Hmm menarik dan gampang-gampang susah menerapkannya ya mom.



Karakteristik gen Z yang sedemikian unik dan kesenjangan yang tercipta akibat beda generasi, mendorong SMA Pintar Lazuardi untuk  membantu para parents dalam memenuhi kebutuhannya, moto nya adalah "KEPO BANGET". Lembaga ini juga menekankan pembelajaran yang menggunakan 5 prinsip di antaranya

1. Pendidikan Karakter

2. Growth Mindset Approach

3. Fleksibel

4. Interaksi Kuat antara Orangtua dan Guru

5. Berorientasi Masa Depan



22 komentar:

  1. Kedua anak saya gen Z, dan benar adanya kesenjangan antara saya orangtua dengan mereka memahami semua-semua sering ada. Apalagi usia mereka saat ini remaj..duh, beneran ngabisin mulut jadinya. Menarik sekali pembahasan materi gaya belajar gen Z ini..daging nih pembahasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba. Sayapun mengalaminya jadi pas ikut zoom kaya ditabok hahhaa

      Hapus
  2. Wah jadi orang tua dari generasi gen z kudu terus upgrade diri terus ya mbak. Biar bisa mendampingi mereka tumbuh menjadi pribadi yg optimal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Orangtua harus ikut belajar layaknya guru belajar sebelum mengajar

      Hapus
  3. Wah saya pernah nih ngajar gen Z wkt mereka SMP yg memang skrg udh msk SMA. Asli ya mereka itu unik bgt. Tricky sih utk ngajar & ngedidik mereka tp asik jg hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sharing tips dan pengalaman mba..siapa tau bermanfaat buat parents

      Hapus
  4. Beberapa rekan kantorku juga sudah mulai diramaikan dengan Gen Z. Senang sekali melihat teman-teman yang beneran open minded dan semangat! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow.. kesulitan tidak mba kolaborasi dengan mereka yang rentang usia juga berbeda

      Hapus
  5. Kira-kira generasi Z ada perbedaan yang signifikan nggak ya dengan generasi milenial? Btw kondisi sekarang emang harus dituntut lebih mendidik anak dengan benar-benar seksama apalagi masih daring seperti sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya berbeda. Generasi Z ini lebih kreatif, proaktif dan more kritis

      Hapus
  6. aku udah pernah denga nama sekolah lazuardi ini mayan lama, dan emang terdengar bagus kualitasnya. Untuk menghadapi anak-anak gen z ini memang mau tidak mau kita perlu menyesuaikan dengan gaya mereka yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm ..pas banget di masa pandemi ini sebagai alternatif pendidikan berbasis online

      Hapus
  7. Generasi Z sebenarnya kurang suka dengan gaya belajar yang kaku. Mereka lebih suka kebebasan dan belajar dengan cara mereka sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat kak.. karna mereka punya pemikiran sendiri yang inovatif dan cerdas

      Hapus
  8. anak2ku generasi alfa, hihi. keponakan cuma satu yang gen z, sisanya alfa semua. Alhamdulillah keponakan yg satu itu selalu juara dan gak gitu candu dg gadget. anaknya suka baca krn dr kecil dah dikasih contoh. ilmunya manfaat banget, cuma blm jodohku utk dipraktikkan ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah keren banget mba. Mereka memang fast learning ya dan berpotensi untuk sukses

      Hapus
  9. Mengetahui cara belajar anak di generasinya memang penting banget sih buat orangtua, ini karena tiap anak unik dan tiap generasi punya ciri khas sendiri dalam belajar. Pasti gak bakal efektif orangtua yang ngajarin anaknya sama kayak zaman mereka, kita sebagai orangtua mesti beradaptasi. Dari sini aku juga dapat insight sih gimana nanti bikin konten buat generasi Z. Emang mereka lebih banyak tertarik pada visual ya. Tapi aku tertarik pada gambar terakhir yang bilang gak tertarik jadi PNS, wah, gimana ya respon orangtua yang anaknya pengen jadi PNS?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya generasi Z ini dirancang untuk menjadi entrepreneur ..ide idenya cemerlang

      Hapus
    2. Hmm ..sedih mungkin atau justru bangga? Tergantung orangtuanya

      Hapus
  10. Ikut seminar ini kapan hari nambah wawasan banget buat saya mbak Sri terutama menjadi orang tua generasi Z. Jadi lebih terarah mau ngapain aja sama anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mba. Saya benar benar belajar dari seminar ini dan menyadari bahwa ada beberapa hal yang harus kami perbaiki

      Hapus
    2. Alhamdulillah ya mba.. aku juga jadi tau kalau beberapa pendekatan yang kulakukan kurang pas

      Hapus

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

Part of BloggerHub

Total Absen

Pengikut