Minggu, 18 Juni 2017

Senja Di Tepi Pantai

           
 Sepoi angin yang berhembus di senja yang mulai temaram terasa begitu dingin.  Sedingin hatiku yang kini kelabu.  Sementara lembayung senja masih menampakkan sinarnya yang keemasan. 
Begitu cantik, menyiratkan kemewahan...sungguh elegan.
            Senja itu... aku duduk di tepi pantai yang terlihat mulai sepi.  Bertemankan dingin  dan suara binatang malam.  Tampak perahu nelayan yang berjejer di tepi pantai yang sepi pengunjung.  Yah ini adalah kali kedua aku mengunjungi pantai ini.  Entah kenapa, senja di pantai ini meninggalkan kesan mendalam bagiku.  Begitu tenang... menyiratkan kedamaian.
            Masih jelas kusaksikan matahari senja yang melangkah pergi.  Tenggelam di batas cakrawala.  Tak ada lagi pengunjung yang berlalu lalang.  Apalagi wisatawan asing yang merebahkan diri di pantai yang penuh hamparan pasir dan pecahan karang.  Hmm...Pantai ini memang sepi di waktu senja.  Justru karena itulah aku sangat menyukainya.  Damai.
            Usai mengantar mentari ke peraduannya, kulangkahkan kakiku menuju sebuah warung kopi di tepi pantai.  Dimana para nelayan duduk menghangatkan badan dengan segelas kopi hitam.  Mengusir kantuk yang mulai menghampiri.  Seorang nelayan menyapaku ramah,”kok sendirian, Mba?”.
“Iya, Cak.  Kebetulan lagi ingin sendiri” jawabku pendek sambil melemparkan sebuah senyuman.  “Teh hangat satu, Bu!” pintaku pada pemilik warung.  Udara pantai yang dingin seperti ini memang paling enak ditemani semangkuk mie rebus pedas dan segelas teh manis hangat.  Cukup untuk membuat tubuh berkeringat dan melepas sedikit penat yang bergelayut manja.
            Para nelayan di pantai ini sangat baik dan ramah.  Biasanya mereka mulai bersiap untuk pergi melaut pada saat senja menjelang.  Seperti senja ini, meski air pasang mulai memenuhi tepian mereka tak punya pilihan selain melaut.  Masyarakat nelayan di pantai ini memang belum semaju masyarakat kota, namun justru kesederhanaan mereka yang membuat mereka spesial.  Masyarakat yang masih memiliki kesadaran sosial yang tinggi.   Bahu membahu mengatasi masalah yang ada di desanya.

 Ah, kalian membuatku malu hati.  Keterbatasan yang kalian miliki tak membuat kalian malas ataupun patah arang, sedangkan aku?  Sedikit duri yang menancap dalam hidupku mampu membuatku hancur seperti ini.  Oh, betapa rapuhnya aku.  Mengaku tegar dan tahan banting, tapi ternyata...tepekur di ujung senja.  Senja di pantai ini tidak hanya meninggalkan kerinduan,...kali ini disinilah sekolah kehidupan terbaik yang kutemui dalam perjalanan kehidupanku.  Bentang ilmu yang tiada habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

ASUS OLED WRITING Competition

atau

Intellifluence

Intellifluence Trusted Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Part of BloggerHub

Total Absen


Pengikut