Sabtu, 07 Februari 2015

TELUR CEPLOK


Ferry seorang lelaki berusia 36 tahun adalah seorang lelaki yang cukup mapan. Dia hidup bersama istri dan tiga orang anaknya.  Dulu Ferry adalah seorang suami yang banyak didambakan wanita karena tanggungjawab dan perhatiannya pada sang istri. Namun entahlah..sejak memiliki jabatan Ferry mulai berubah.  Dia menjadi banyak menuntut.  Ferry juga mudah sekali emosi menghadapi sang istri. Dia acap mengeluhkan pada temannya tentang istrinya yang akhir akhir ini terlihat tampak lelah dan tak bisa berhias.  Hingga pada suatu pagi Ferry membentak istrinya karena satu pekerjaan yang tertunda.  Betapa terluka hati sang istri...  setelah mencoba bersabar selalu dengan sisap suaminya..hari itu air matanya tak mampu dibendungnya.  sambil menahan tangis...sang istri tetap berusaha menyiapkan bekal makan pagi suaminya yang menolak sarapan.  Hanya sekotak nasi dan sebuah telur ceplok. Ya...sebuah telur ceplok yang di masak demi orang tercinta.
sesampainya di kantor...Ferry mengeluarkan kotak makannya dan seorang teman wanitanya berkata,"hanya telur ceplok Pak?"
"Iya.., beginilah kalau ibu sedang marah"tuturnya.

"Bersyukurlah pak! Bapak lelaki yang beruntung, sebab dalam keadaan marahpun ibu masih menyempatkan diri membawakan sarapan untuk Bapak...Saya sudah lupa kapan terakhir kali makan masakan istri saya pak" tukas seorang lelaki anak buahnya sambil menitikkan air mata..
"Saya melihat ibu begitu sabar dengan semua sikap Bapak, walau saya akui dia terlihat sangat sederhana dan tak pernah berhias.  Tapi  dia tetap melayani Bapak."tukas lelaki itu
Ferry terdiam melihat rekannya menitikkan air mata.  Dia coba merenungkan kata kata rekannya tersebut,  benar sekali.  istrinya selalu berusaha menyiapkan makan paginya walau dalam keadaan sakit sekalipun. walau hanya berlauk tempe goreng dan sambal kecap.  Walau hanya setangkup roti madu dan segelas susu.
Pria itu kembali melanjutkan ceritanya,"Ibu memang tak secantik wanita sosialita...tapi dia ada untuk Bapak, sementara istri saya selalu tampil cantik bagai model..tapi saya tak boleh menikmatinya.  kecantikkannya bagai pajangan di sepanjang perjalanannya.  Dikagumi banyak orang tapi tak bisa saya nikmati" diambilnya selembar tisue tuk menghapus air matanya dan lelaki itupun beranjak pergi meninggalkan Fery yang tercenung dan merasa bersalah pada istrinya.  Saat itu juga dia menelpon sang istri dan meminta maaf padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut