Kamis, 11 April 2013

HATI YANG PATAH

             
              "Ijinkan aku melamarmu Laila!" Sandy berlutut di depanku, di tangannya sebuah boneka beruang kecil berwarna coklat begitu menggodaku.  Bukan karena  seuntai kalung yang berkilau dan melingkar di lehernya tapi lebih pada sebentuk hati kecil bertuliskan I Love You.  Sudah lama aku memimpikan saat ini.  Diam-diam aku memang jatuh hati dan memendam rindu padanya.  Pada Sandy, sahabatku sendiri.

             Aku terdiam tak sanggup bicara, butir bening di sudut mataku mulai menggenang karena haru.  Sandy...sosok lelaki yang selama ini menjadi tempatku menumpahkan segenap kisahku, setiap derita yang kurasa bahkan setitik bahagia pun kubagi dengannya.  Selama ini, aku hanya menjadi pendengar setia untuk setiap ceritanya yang selalu indah.  Kisah cintanya dengan Kimberly seorang gadis cantik bermata biru, serta kisah petualangannya yang mengasyikkan bersama "Si Ninja Hijau" sebutannya untuk motor kesayangannya.

              "Laila!! Jawablah...ambillah boneka ini bila hatimu memiliki tempat untukku dan menunduklah bila memang aku tak cukup pantas untukmu" ucap Sandy membuyarkan lamunanku

              "Sandy..." air mataku tak sanggup kubendung.  tanpa kata-kata kuraih boneka coklat favoritku. Hati ini mendesakku untuk memeluknya, meski hanya sebatas angan.  Waktunya akan tiba bagiku untuk halal memelukmu.  Kami berdua bertatapan.  Ada bahagia terlukis, ada harap yang terkembang.
             
        Kamipun mulai merencanakan tanggal pernikahan, mamah dan papah begitu bahagia mendengar rencana ini.  Semua saudara kami kabari, segala persiapan kami lakukan demi hari bahagia itu.  Hari-hari kuhabiskan bersama Sandy untuk mengurus semua berkas, fitting baju dan saling mengenal satu sama lain, bukan sebagai sahabat melainkan dua insan yang akan membangun dunia kecil yang baru.

           Dua hari lagi aku akan halal untukmu dan kau halal untukku. Ah..tak sabar rasanya menunggu hari itu.

          "Tiiinnnnnnnnnn...tiiiinnn!" suara klakson si ninja tunggangan  Sandy membangunkan tidurku.  Hari ini rencananya kami akan jalan-jalan sebentar lalu dilanjutkan dengan perawatan dan SPA di salon Muslimah langgananku.  Aku segera bangun dan bersiap tuk menyambut pangeran pujaannku.  Tak lama kemudian si Ninja sudah melarikan menuju rumah makan Rindu Alam di Puncak Pass.

        " Laila...ada yang ingin kukatakan padamu!" Sandy membuka percakapan dengan suara bergetar.  Membuatku merasa aneh dan cemas.
               
      "Tadi pagi aku mendapat kabar dari Kimberly, ...kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan kemarin...  Sepertinya aku harus berangkat ke Ausie malam ini, untuk memberi kekuatan padanya.  Dia seorang diri tak memiliki siapa-siapa.  Aku tak bisa meninggalkannya"  Sandy menunduk.

       Bagai halilintar rasanya mendengar Sandy berkata seperti itu.  Marah, kecewa dan malu terbendung lagi.  Bisa kutebak maksud di balik semua ini.  Sandy membatalkan pernikahan ini karena gadis yang dulu dicintainya.

        "Laila...aku memang menyayangimu, tapi hanya sebagai adik.  meski aku mencoba sekuat tenaga untuk mencintaimu tapi rasa itu tak mampu tumbuh.  Maafkan aku Laila..aku tak bisa menikah denganmu.

           Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, semuanya tiba-tiba menjadi gelap dan saat tersadar, aku telah berada di rumah dan Sandy telah pergi demi gadis bermata biru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Absen

Pengikut